Jepang memprotes keras rencana larangan ekspor barang dwiguna ke negara tersebut.
IDXChannel - Jepang memprotes keras rencana larangan ekspor barang dwiguna ke negara tersebut.
Barang dwiguna adalah barang, perangkat lunak, atau teknologi yang memiliki aplikasi sipil dan militer, termasuk mineral penting tertentu yang sangat penting untuk pembuatan drone dan chip.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memicu perselisihan tersebut akhir tahun lalu dengan mengatakan bahwa potensi serangan China terhadap Taiwan dapat dianggap sebagai ancaman eksistensial bagi Jepang. China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, klaim yang ditolak oleh pulau tersebut.
Beijing telah menuntut agar ia menarik kembali pernyataan tersebut, yang belum dilakukannya, sehingga memicu serangkaian tindakan balasan, yang terbaru adalah larangan ekspor pada kepada pengguna militer atau untuk tujuan apa pun yang berkontribusi pada kekuatan militer Jepang.
"Langkah seperti ini, yang hanya menargetkan negara kita, sangat berbeda dari praktik internasional, sama sekali tidak dapat diterima dan sangat disayangkan," kata Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara, dilansir dari Reuters pada Kamis (8/1/2026).
Kihara menolak untuk berkomentar tentang kemungkinan dampak pada industri Jepang, dengan mengatakan masih belum jelas barang apa saja yang akan ditargetkan.
Menurut surat kabar China Daily milik penguasa, Beijing sedang mempertimbangkan untuk lebih memperketat ekspor logam tanah jarang ke Jepang. Media itu mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Langkah seperti itu dapat memiliki implikasi yang luas bagi industri manufaktur Jepang, termasuk sektor otomotif.
Jepang telah berupaya untuk mendiversifikasi pasokan logam tanah jarang sejak China terakhir kali membatasi ekspor mineral tersebut pada 2010, tetapi masih bergantung pada China untuk sekitar 60 persen kebutuhan.
"Pembatasan ekspor logam tanah jarang dari China selama tiga bulan, serupa dengan sengketa pada 2010, dapat merugikan bisnis Jepang sebesar 660 miliar yen dan mengurangi produk domestik bruto tahunan sebesar 0,11 persen," kata Ekonom Nomura Research Institute, Takahide Kiuchi dalam sebuah catatan.
Untuk beberapa logam tanah jarang berat, seperti yang digunakan untuk magnet pada motor kendaraan listrik dan hibrida, misalnya, Jepang hampir sepenuhnya bergantung pada China.
Produsen mobil Jepang, Subaru, mengatakan pihaknya memantau situasi dengan cermat, sementara Toyota dan Nissan tidak segera memberikan komentar. (Wahyu Dwi Anggoro)



