Amerika Serikat menyita dua kapal tanker minyak yang terkait Venezuela di Samudera Atlantik pada Rabu (7/1) waktu setempat. Salah satunya berlayar dengan bendera Rusia.
Penyitaan ini menjadi bagian dari langkah agresif Presiden Donald Trump untuk mengendalikan arus minyak di kawasan Amerika serta menekan pemerintah Venezuela agar berpihak pada AS.
Dikutip dari Reuters, Kamis (8/1), langkah tersebut diambil hanya beberapa hari setelah pasukan militer AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer di Caracas pada Sabtu lalu. Gedung Putih kini meningkatkan blokade terhadap kapal-kapal yang berada di bawah sanksi AS dan keluar-masuk Venezuela, anggota organisasi produsen minyak OPEC.
Pemerintahan Trump juga menyatakan akan melonggarkan sebagian sanksi minyak terhadap Venezuela yang diberlakukan sejak 2019.
Pengejaran di Atlantik dan Keterlibatan InggrisSalah satu kapal yang disita adalah tanker minyak mentah Marinera, yang sebelumnya bernama Bella-1. Setelah pengejaran selama beberapa pekan di Atlantik, kapal tersebut akhirnya ditangkap oleh Penjaga Pantai AS dan pasukan khusus militer AS dengan surat perintah penyitaan pengadilan. Kapal itu sempat menolak untuk diperiksa dan kemudian mengganti benderanya menjadi Rusia.
Operasi tersebut didukung Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) dan satu kapal militer Inggris. Menteri Pertahanan Inggris John Healey menyebut operasi itu sebagai bagian dari upaya global memberantas pelanggaran sanksi.
Keberadaan kapal selam Rusia dan kapal-kapal lain di sekitar lokasi sempat meningkatkan risiko konfrontasi dengan Moskow. Namun, pemerintahan Vladimir Putin belum memberikan komentar resmi.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kapal tersebut “berpura-pura menjadi tanker Rusia” untuk menghindari sanksi internasional.
Target Armada BayanganSelain Marinera, Penjaga Pantai AS juga mencegat tanker M Sophia berbendera Panama yang mengangkut minyak Venezuela di dekat pantai timur laut Amerika Selatan. Ini menjadi penyitaan keempat dalam beberapa pekan terakhir. Menurut catatan perusahaan minyak negara Venezuela PDVSA, kapal tersebut membawa muatan penuh.
Pemerintah AS menyebut kedua kapal itu bagian dari “shadow fleet” atau armada bayangan yang digunakan untuk mengangkut minyak dari negara-negara yang terkena sanksi seperti Venezuela dan Iran.
Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller menegaskan hanya transportasi energi yang sesuai hukum dan kepentingan nasional AS yang akan diizinkan. Jaksa Agung Pam Bondi menyatakan awak Marinera berupaya menghindari penangkapan dan berpotensi menghadapi tuntutan pidana.



