Bedah Kinerja dan Valuasi Emiten Nikel MBMA, NCKL dan INCO, Mana Menarik?

katadata.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

Harga nikel global melonjak tajam pada awal Januari 2026. Reli komoditas ini turut mendorong naiknya harga saham emiten nikel dalam beberapa hari terakhir. Selain itu, laba bersih emiten nikel diproyeksikan meningkat tahun ini.

Mengutip riset Stockbit Sekuritas, dari tiga emiten nikel besar di Bursa Efek Indonesia, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) diperkirakan mencatatkan laba bersih tertinggi pada periode 2025–2026. Dua emiten lainnya yakni PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) juga diramal membukukan kinerja keuangan positif.

Stockbit memperkirakan laba bersih MBMA pada 2026 tumbuh 316% secara tahunan atau year on year (yoy), mencapai US$ 144 juta dengan asumsi laba 2025 secara penuh tercatat sebesar US$ 35 juta. Sementara laba bersih INCO pada 2026 diproyeksikan meningkat 106% yoy menjadi US$ 160 juta, dari proyeksi US$ 77 juta pada 2025.

Sementara laba bersih NCKL diproyeksikan tumbuh 20% yoy. Secara nominal, laba bersih 2026 diperkirakan mencapai Rp 10 triliun, dari estimasi Rp 8,3 triliun pada 2025.

Dari sisi valuasi, Price to Earnings (P/E) NCKL diramal menjadi (8,9x) secara penuh di tahun 2026, (8,9x). Nilai tersebut dianggap paling atraktif dibandingkan INCO (22,2x) dan MBMA (39,9x). 

Kendati demikian, Stockbit mengingatkan bahwa proyeksi tersebut bersifat dinamis, mengikuti perkembangan volume produksi bijih maupun produk hilir.

“Perlu dicatat, proyeksi tersebut bersifat dinamis (dapat berubah), seiring dengan perkembangan guidance 2026F volume produksi bijih nikel maupun produk hilir, termasuk NPI, nickel matte, dan MHP yang masing–masing emiten serta asumsi harga jual rata–rata produk nikel,” kata Stockbit Sekuritas dalam risetnya dikutip Kamis (8/1).

Prospek dan Kinerja Emiten Nikel

Harga nikel global di London Metal Exchange (LME) sempat melonjak 10,5% secara intraday ke US$ 18.785 per ton pada Selasa (6/1). Harga tersebut menjadi harga tinggi dalam lebih dari tiga tahun.

Meski sempat menguat tajam, harga nikel kontrak 3 bulan LME terkoreksi 1,4% dari puncaknya dan ditutup di US$ 18.524 per ton pada Rabu (7/1) pukul 16.00 WIB. Analis Mysteel Global Fan Jianyuan menilai koreksi tersebut merupakan aksi ambil untung setelah reli yang sebagian besar didorong oleh arus modal finansial. Ia menambahkan, pasar nikel secara fundamental masih berada dalam kondisi surplus.

Sentimen positif berasal dari rencana pemerintah Indonesia menurunkan produksi nikel guna menyeimbangkan pasar. Pemerintah juga berencana mengenakan denda administratif besar kepada perusahaan yang melanggar izin kehutanan, sesuai Kepmen ESDM No. 391/2025 yang terbit 1 Desember 2025. 

Ketentuan tersebut memungkinkan sanksi hingga Rp 6,5 miliar per hektar, yang berpotensi mempengaruhi operasional dan volume produksi tambang.

Sementara itu, Bloomberg melaporkan pembelian nikel pig iron (NPI) oleh Cina meningkat menjelang Tahun Baru Imlek. 

Hal ini diduga sebagai bagian dari penimbunan industri. Perdagangan juga menunjukkan peran kuat investor China, tercermin dari lonjakan harga dan volume di LME saat sesi Asia, lalu berlanjut di Shanghai Futures Exchange.

Merujuk laporan keuangan MBMA, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 25,30 juta atau setara Rp 422,39 miliar hingga kuartal ketiga 2025. Jumlah tersebut naik 37,05% dibandingkan dengan laba bersih MBMA pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 18,46 juta. Sementara itu, pendapatan perseroan turun 32,26% menjadi US$ 934,99 juta dari US$ 1,37 miliar secara tahunan.

Sementara itu emiten pelat merah INCO membukukan laba bersih sebesar US$ 52,44 juta, naik tipis 2,62% dibandingkan laba bersih perseroan pada kuartal III 2024 sebesar US$ 51,10 juta. Pendapatan perseroan turun menjadi US$ 705,38 juta dari US$ 708,56 juta secara yoy.

Kemudian untuk NCKL, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 6,44 triliun, naik 33,33%  dari Rp 4,83 triliun secara yoy. Berbeda dengan dua emiten sebelumnya, NCKL tercatat membukukan kenaikan pendapatan menjadi Rp 22,40 triliun dari Rp 20.37 trliun secara yoy. 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Demo di Iran yang Semakin Meluas
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Polda Metro Jaya Agendakan Panggil Tersangka Klaster 1 Kasus Ijazah Jokowi
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Pemkab Pekalongan Evaluasi Lokasi Dapur Program Makan Bergizi Gratis, Soroti Risiko Kesehatan dan Distribusi Bahan Pangan
• 1 jam lalupantau.com
thumb
KPK imbau anggota DPRD Bekasi Nyumarno untuk penuhi panggilan
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Pakar Hukum: Penempatan Polri di Bawah Presiden Punya Landasan Konstitusional
• 22 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.