Arus dana asing kembali masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) pada awal tahun ini. Investor nonresiden tercatat memborong surat utang pemerintah, mendorong kenaikan kepemilikan asing hingga triliunan rupiah setelah sempat terjadi arus keluar besar sepanjang tahun lalu.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat kepemilikan nonresiden atas SBN meningkat Rp 4,03 triliun sejak awal tahun. Kenaikan ini terjadi baik secara kumulatif maupun bulanan, mencerminkan pulihnya minat investor global terhadap instrumen utang pemerintah Indonesia.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (PPR) Kementerian Keuangan, Suminto, menjelaskan masuknya dana asing didorong oleh kepercayaan terhadap fundamental ekonomi domestik. Inflasi yang tetap terkendali serta surplus neraca perdagangan yang berlanjut menjadi faktor utama yang menopang persepsi positif investor.
“Kepemilikan Non Residen atas SBN naik Rp 4,03 T secara year to date (ytd) dan secara month to date (mtd),” ujar Suminto kepada kumparan, Kamis (8/1).
Dia menyebut inflasi Indonesia pada 2025 berada di level 2,92 persen atau masih dalam kisaran target, sementara neraca perdagangan mencatat surplus USD 2,66 miliar dan telah berlangsung selama 67 bulan berturut-turut. Selain itu, awal tahun juga menjadi momentum kembalinya dana investasi global seiring penyesuaian alokasi aset investor.
Dari sisi pelaku pasar, Kepala Ekonom Bank BCA David Sumual menilai arus masuk dana asing ke pasar obligasi memang mulai terlihat solid. Setelah tekanan outflow besar tahun lalu, investor kini kembali masuk dengan pendekatan yang lebih selektif.
“Sudah masuk Rp 2,8 triliun sejak awal tahun,” kata David.
Menurutnya, fenomena ini lebih mencerminkan proses rebalancing portofolio di awal tahun. Imbal hasil SBN yang relatif menarik dibandingkan negara berkembang lain membuat obligasi pemerintah Indonesia kembali dilirik di tengah ketidakpastian global.
Meski demikian, derasnya minat asing ke surat utang negara juga menyimpan risiko. Ekonom INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa investasi portofolio bersifat jangka pendek dan sangat sensitif terhadap perubahan kondisi global, berbeda dengan investasi langsung yang lebih berdampak pada sektor riil.
“Memang investor asing saat ini borong obligasi,” ujar Esther.
Ia menilai daya tarik utama obligasi Indonesia berasal dari tingkat bunga yang tinggi. Namun, kondisi ini membuat perekonomian rentan terhadap capital outflow jika terjadi gejolak global atau perubahan arah suku bunga internasional.
Selain itu, ketergantungan pada instrumen berbasis bunga tinggi juga meningkatkan biaya pembiayaan negara dan minim dampak pada penyerapan tenaga kerja.



