Maduro Bukan Akhir, Tapi Awal: Jalur Rahasia Trump yang Mengarah ke Beijing

erabaru.net
21 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Di tengah sorotan global terhadap isu Greenland, arah kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menunjukkan pergeseran yang mengejutkan. Alih-alih memanaskan ketegangan, isu Greenland kini tampak “dididinginkan”. 

Sebaliknya, sebuah jalur lain yang jauh lebih sensitif, berbahaya, dan berpotensi mengguncang politik domestik Amerika Serikat justru mulai memanas—sebuah “jalur bayangan” yang berkaitan langsung dengan pemilu, keamanan nasional, dan persaingan strategis dengan Tiongkok.

Isu Greenland Diredam, Opsi Diplomatik Ditekankan

Menurut laporan The Wall Street Journal, yang mengutip sumber internal pemerintahan, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam sebuah pengarahan tertutup kepada anggota parlemen pada 5 Januari 2026 menegaskan bahwa tujuan pemerintahan Trump terkait Greenland adalah membeli wilayah tersebut dari Denmark atau menjalin perjanjian asosiasi bebas, bukan melakukan invasi militer.

Pemerintah Denmark serta otoritas Greenland sendiri dilaporkan telah meminta pertemuan langsung dengan Rubio. Untuk saat ini, kekhawatiran akan benturan langsung antara Amerika Serikat dan NATO dinilai mereda, dan situasi dapat diamati dengan lebih tenang.

Penangkapan Maduro Jadi Pemicu Reaksi Berantai

Namun, fokus utama Washington kini beralih pada dampak lanjutan dari penangkapan hidup-hidup Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS. Peristiwa ini dinilai sebagai titik pemicu rangkaian reaksi politik yang jauh lebih luas, baik di dalam negeri Amerika maupun di panggung global.

Bagi Trump, pemilu paruh waktu Amerika Serikat tahun 2026 merupakan pertarungan penentuan. Hasil pemilu ini akan menentukan apakah Partai Republik tetap menguasai Kongres. Jika Kongres jatuh ke tangan oposisi, maka agenda legislatif, pengesahan anggaran, hingga pengangkatan pejabat tinggi pemerintahan berpotensi lumpuh total.

Para analis dari lembaga pemikir ternama seperti Brookings Institution menilai bahwa kekalahan Partai Republik di Kongres akan membuat agenda MAGA (Make America Great Again) Trump praktis dibekukan.

Tekanan Terbuka kepada Partai Republik

Menyadari besarnya taruhannya, pada Selasa, 7 Januari 2026, Trump mengumpulkan anggota Partai Republik di DPR dalam sebuah pertemuan di Kennedy Center, Washington. Dalam forum tertutup tersebut, Trump secara terang-terangan menegaskan: “Kalian harus memenangkan pemilu paruh waktu.”

Dalam beberapa hari terakhir, Trump juga kembali mengunggah sejumlah video di media sosial yang menuduh adanya kecurangan pada pemilu presiden 2020, dengan sorotan tajam pada sistem pemungutan suara Dominion Voting Systems. Langkah ini dipandang bukan sekadar membuka luka lama, melainkan upaya mencegah skenario serupa terulang pada pemilu mendatang.

Maduro dan Dugaan Kecurangan Pemilu AS

Dalam konteks ini, Nicolás Maduro dipandang sebagai kartu strategis di tangan Trump.

Pada Desember 2025, muncul klaim dari seorang pembocor rahasia militer Venezuela yang menyebut bahwa CIA telah lama menguasai bukti manipulasi pemilu yang melibatkan jaringan internasional, termasuk Smartmatic dan Dominion.

Akun Axios SWIFT mengungkap bahwa meskipun Dominion tampil sebagai perusahaan Amerika, pusat teknologi utamanya disebut berada di Serbia, dengan dukungan teknis yang dikaitkan dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT). Para insinyur dari Venezuela, Tiongkok, dan Serbia diklaim menguasai manajemen sistem, menggunakan hingga 15 metode kecurangan, serta memungkinkan akses “pintu belakang” dari mana saja di dunia.

Dominion juga diketahui memiliki kantor di Beograd, ibu kota Serbia. Di lokasi tersebut, data pemilih dari negara-negara bagian “swing state” Amerika disebut-sebut disimpan di server milik Huawei, yang terhubung langsung ke Huawei Hong Kong di bawah kendali PKT.

Tuduhan Terbuka dari Tokoh Militer AS

Tuduhan ini tidak hanya berasal dari akun anonim. Mantan penasihat keamanan nasional AS, Jenderal Michael Flynn, secara terbuka menuding PKT dan menyatakan bahwa sebagian elite intelijen Amerika kala itu mengetahui adanya campur tangan Tiongkok dan pelanggaran Dominion, namun memilih menutupinya.

Sebelumnya, pejabat kepolisian di Delaware County, Pennsylvania, juga telah menyerahkan bukti yang menuduh Dominion bekerja sama dengan jaringan terkait PKT di Serbia untuk memodifikasi firmware mesin pemungutan suara, serta mendesak penyelidikan kriminal.

Jika Maduro bersedia bekerja sama, ia bukan sekadar saksi biasa. Ia disebut memegang bukti teknis kunci tentang bagaimana jaringan PKT, melalui Serbia dan Huawei Hong Kong, menyusupkan pintu belakang ke sistem pemilu Amerika Serikat.

Isu ini kini dipandang bukan lagi sekadar sengketa pemilu, melainkan ancaman serius terhadap keamanan nasional, bahkan oleh sebagian analis dikategorikan sebagai bentuk tindakan perang non-militer untuk menggulingkan pemerintahan Amerika Serikat.

Tekanan Psikologis terhadap Beijing

Di sisi lain, tekanan terhadap Beijing juga meningkat. Seorang pebisnis dengan nama sandi Foxman No.4 mengungkap bahwa aktivitas di sejumlah pangkalan militer sekitar Beijing meningkat tajam, dan sistem bunker bawah tanah diduga telah diaktifkan.

Media independen melaporkan bahwa Xi Jinping secara mendadak memanggil Chen Wenqing, Sekretaris Komisi Politik dan Hukum, serta Cai Qi, Kepala Kantor Umum Partai yang mengendalikan Biro Pengawal Pusat—unit yang berfungsi layaknya pasukan pengawal presiden bagi Xi.

Meski laporan ini belum dapat diverifikasi sepenuhnya, spekulasi publik pun merebak. Banyak pihak menilai bahwa kekhawatiran utama Xi Jinping kini bukan lagi soal loyalitas politik, melainkan soal hidup dan mati, karena ketakutan akan pengkhianatan dari lingkaran dalam demi menyelamatkan diri masing-masing.

Strategi “Memotong Pinggiran” Trump

Pengamat politik Wu Zuolai menilai bahwa strategi awal Trump untuk memecah aliansi Tiongkok–Rusia tidak membuahkan hasil. Karena itu, Trump beralih ke strategi baru yang ia sebut sebagai “memotong pinggiran”:

Wu memperkirakan Rusia akan kehabisan kekuatan nasional dan kehilangan kemampuan ekspansi ke Barat, sementara PKT menghadapi risiko runtuh dari dalam, termasuk kemungkinan lengsernya Xi Jinping.

Pertanyaan Kunci ke Depan

Kini, Nicolás Maduro telah berada di balik jeruji penjara Amerika Serikat. Pertanyaan besar pun mengemuka:

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini berpotensi menentukan arah politik Amerika Serikat—dan keseimbangan kekuatan global—dalam waktu dekat. (***)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
9 Keutamaan Mandi Wajib, Lengkap dengan Bacaan Niat dan Tata Cara
• 12 jam lalumediaindonesia.com
thumb
IHSG Sesi I Naik ke Level 8.984, Saham Emas ANTM, ARCI hingga MDKA Malah Rontok
• 23 jam lalukatadata.co.id
thumb
Erick Thohir Lapor ke Prabowo, Indonesia Lampaui Target di SEA Games 2025
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Publik Tolak Pilkada Melalui DPRD, Rakyat Tak Mau Haknya Dibajak Oligarki
• 1 jam lalugenpi.co
thumb
Real Madrid Melaju ke Final Supercopa
• 3 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.