Jakarta, ERANASIONAL.COM — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 tembus di level 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Kendati demikian, besaran tersebut setara dengan Rp695,1 triliun.
Menkeu Purbaya mengamini besaran defisit APBN lebih tinggi dari target yang ditetapkan pada APBN 2025 maupun laporan semester di pertengahan tahun 2025
Diketahui, defisit dalam APBN 2025 mulanya ditargetkan hanya 2,53% dari PDB atau Rp 616,2 triliun. Kemudian dikoreksi ke 2,78% sekitar Rp 662 triliun.
Menkeu Purbaya menjelaskan, pelebaran defisit tersebut merupakan strategi fiskal yang sengaja ditempuh untuk menjaga daya dorong ekonomi nasional melalui kebijakan countercyclical.
Menurut Purbaya, kebijakan fiskal 2025 dirancang agar perekonomian tetap mampu berekspansi meskipun tekanan global masih tinggi.
Ia menilai, koordinasi internal Kementerian Keuangan menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga tanpa mengesampingkan kehati-hatian dalam pengelolaan anggaran.
Pertumbuhan Ekonomi di 2026
Namun dirinya yakin dapat menekan defisit tersebut dengan realisasi pertumbuhan ekonomi di angka 5,4% pada 2026.
“Saya yakin 2026 dengan membaiknya fondasi ekonomi dan momentum ekonomi ke depan, defisit bisa ditekan dengan dampak ekonomi ke masyarakat lebih besar. Tahun ini, kita asumsikan ekonomi 5,4%, kita coba tekan ke level lebih tinggi lagi,” tegasnya.
Selanjutnya, dikatakan dia, keseimbangan primer juga mengalami defisit Rp180,7 triliun.
“Pendapatan negara hingga akhir Desember 2025 pendapatan negara mencapai Rp2.756,3 triliun atau 91,7%, dengan penerimaan pajak Rp 1.917,6 triliun, kepabeanan cukai Rp 300,3 juta dan PNBP Rp 534,1 triliun. Sedangkan untuk belanja negara mencapai Rp 2.602,3 triliun atau 96,3% dari perkiraan,” tandas Menkeu Purbaya.




