Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat ada 453 kasus leptospirosis pada Januari-November 2025. Kasus tertinggi terjadi di aKabupaten Bantul yakni sebanyak 227 kasus dan 12 kematian.
Sementara di daerah lainnya yakni Sleman tercatat ada 118 kasus dengan 11 kematian, Kulon Progo sebanyak 49 kasus dengan 6 kematian, Kota Yogyakarta sebanyak 32 kasus dengan 8 kematian, dan Gunungkidul sebanyak 27 kasus dengan 1 kematian.
Kepala Dinkes DIY, Gregorius Anung Trihadi, mengatakan salah satu faktor utama penyakit ini yakni tikus dan lingkungan yang terkontaminasi oleh tikus. Di wilayah perkotaan, risiko leptospirosis kerap muncul dari aktivitas masyarakat di sekitar sampah dan pasar. Sementara di pedesaan, paparan lebih banyak terjadi di area persawahan yang menjadi habitat tikus.
“Kalau di kota itu agak sedikit berbeda ya, karena kalau di kota kan tidak ada sawah, di sana mungkin banyak tikus yang di pasar, di sampah dan sebagainya. Kalau yang di pedesaan itu faktor risikonya kan biasanya dari tikus yang ada di persawahan,” kata Anung ditemui di RS Dr. Sardjito, Kamis (8/1).
Meski lokasi paparan berbeda, Dinkes DIY menekankan bahwa faktor risiko leptospirosis pada dasarnya sama.
Penularan terjadi saat manusia kontak dengan lingkungan yang tercemar tikus, terutama jika terdapat luka pada tubuh. Luka tersebut bukan penyebab penyakit, melainkan menjadi pintu masuk bakteri leptospira ke dalam tubuh.
“Luka kecil itu dia port the entry atau tempat masuk. Kumannya kan ada di lingkungan tadi yang kemudian dibawa tikus tadi. Masuknya biasanya mudah kalau dia ada luka di dalam tubuh,” kata Anung.
Untuk menekan risiko penularan, Dinkes DIY mengimbau masyarakat menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas di lingkungan berisiko. Di persawahan, pelindung kaki seperti sepatu boot dinilai penting, sementara di perkotaan seperti sarung tangan diperlukan saat mengolah sampah.
Selain pencegahan, Dinkes DIY juga menekankan pentingnya deteksi dini untuk menurunkan risiko kematian akibat leptospirosis. Masyarakat diminta segera memeriksakan diri jika mengalami demam dan memiliki riwayat aktivitas berisiko.
Ia memastikan bahwa puskesmas di DIY telah memiliki kemampuan untuk melakukan deteksi dini leptospirosis.
“Ketika kemudian dia sakit, katakanlah demam dan sebagainya, dan dia punya faktor risiko itu, saya habis masuk ke sawah, punya luka, segera berobat. Karena kalau segera berobat, penanganan yang lebih dini itu bisa dicegah,” ujarnya.




