Koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengklaim pemimpin separatis Yaman selatan (STC), Aidaros al-Zubaidi, telah melarikan diri ke Uni Emirat Arab (UEA), di tengah eskalasi konflik dan perpecahan di tubuh pemerintahan Yaman.
Dalam pernyataan pada Kamis (8/1), koalisi menyebut Zubaidi kabur pada malam hari setelah dituduh melakukan pengkhianatan tingkat tinggi dan dicopot dari Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman. Ia juga mangkir dari undangan perundingan krisis di Riyadh, sementara pasukan koalisi menggempur provinsi asalnya.
“Informasi intelijen yang dapat dipercaya menunjukkan Aidaros al-Zubaidi dan pihak-pihak yang menyertainya melarikan diri secara diam-diam,” kata koalisi Saudi, merinci perjalanan Zubaidi, sebagaimana diberitakan AFP.
Menurut koalisi, Zubaidi berlayar dari Aden menuju Berbera di Somaliland lewat tengah malam. Dari sana, ia disebut menaiki pesawat Ilyushin buatan Rusia ke Mogadishu, Somalia, di bawah pengawasan perwira UEA, sebelum melanjutkan penerbangan ke bandara militer di Abu Dhabi pada Rabu malam.
Laporan dari Reuters, koalisi juga menyebut pesawat yang membawa Zubaidi sempat mematikan sistem identifikasi di atas Teluk Oman, lalu kembali mengaktifkannya sekitar 10 menit sebelum mendarat di Abu Dhabi.
Pelarian Zubaidi memperuncing krisis di Yaman, sekaligus membuka jurang perpecahan antara Arab Saudi dan UEA, dua sekutu utama Teluk yang selama ini memimpin koalisi melawan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Sementara itu, perundingan krisis tetap berlangsung. STC mengklaim lebih dari 50 orang delegasinya ditahan secara sewenang-wenang setibanya di Riyadh untuk perundingan.
Namun, Duta Besar Saudi untuk Yaman, Mohammed al-Jabir, memamerkan foto pertemuan pada Rabu (7/1) dengan sebagian pejabat STC dan menyebut dialog berjalan "positif". Hal ini memunculkan dugaan retaknya posisi internal kelompok separatis itu sendiri, demikian laporan Reuters.
Ketegangan ini terlihat jelas ketika media Saudi, Arab News, memasang foto Zubaidi di halaman depan dengan judul besar “WANTED”, menandai kemarahan Riyadh terhadap langkah separatis tersebut.
Hingga kini, UEA dan STC belum memberikan tanggapan resmi atas tudingan tersebut. UEA sebelumnya menyatakan telah menarik pasukan dari Yaman dan menyerukan deeskalasi di negara yang dilanda salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia itu.
Sebagai catatan, Arab Saudi dan UEA mulai mengintervensi Yaman sejak 2015 untuk mendukung pemerintah yang diakui internasional, setelah Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014. STC sendiri dibentuk pada 2017 dengan dukungan UEA dan kini menguasai sebagian besar wilayah Yaman selatan.



