Broker Amerika Serikat (AS) Bernstein memprediksi tahun tahun akan menandai dimulainya supercycle tokenisasi, setelah aset digital seperti kripto diperkirakan mencapai titik terendah menyusul kinerja lemah pada akhir 2025.
Dilansir Jumat (9/1), Analis Bernstein, Gautam Chhugani mengatakan sentimen pasar memang melemah menjelang akhir tahun lalu, namun fundamental sektor aset digital tetap kuat.
Baca Juga: ICEX Masuk Bursa Kripto, Siap Bersaing dengan CFX
Menurutnya, fase pertumbuhan berikutnya akan didorong oleh tokenisasi dalam berbagai lini, termasuk stablecoin, aset dunia nyata berbasis blockchain dan pasar prediksi alias futures.
Stablecoin diperkirakan akan berkembang melampaui perannya dalam perdagangan kripto dan masuk lebih dalam ke sistem perbankan dan pembayaran arus utama.
Bernstein memperkirakan total pasokan stablecoin akan naik secara tahunan menjadi sekitar US$420 miliar di 2026. Kenaikan tersebut didorong oleh pembayaran lintas negara untuk bisnis, remitansi konsumen, neobank berbasis stablecoin serta sistem pembayaran berbasis agen (agentic payments).
Stablecoin merupakan mata uang kripto yang nilainya dipatok pada aset seperti mata uang fiat atau emas dan selama ini menjadi tulang punggung ekosistem kripto sebagai jalur pembayaran dan sarana transfer lintas negara.
Bernstein juga menyoroti meningkatnya adopsi stablecoin oleh perusahaan fintech serta ekspansi protokol pembayaran berbasis agen sebagai faktor pendorong utama.
Selain itu, tokenisasi aset dunia nyata diperkirakan menjadi pilar utama pertumbuhan. Bernstein memperkirakan nilai aset tokenisasi yang terkunci dialam blockchain dapat naik lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar US$80 miliar di 2026.
Baca Juga: CEO Ether.fi: Adopsi Ethereum Bakal Didorong Neobank Kripto, Bukan Spekulasi
Adapun pasar prediksi turut melengkapi prospek tokenisasi dari Bernstein. Broker tersebut memproyeksikan total volume pasar prediksi dapat tumbuh seratus persen pada tahun ini menjadi sekitar US$70 miliar.




