Di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB), terdapat 25—26 bila 1 lagi terverifikasi—Arca Panji dari Candi Selokelir.
Arca itu merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1434 M atau abad ke-15. Adapun Candi Selokelir adalah situs candi Hindu di lereng Gunung Penanggungan, Mojokerto, Jawa Timur.
Mengapa bisa ada di ITB?
Menurut data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), arca itu dibawa oleh peneliti yakni V.R. van Romondt, J. Oey-Blom, dan Ichwani, pada 1951.
"Inventarisnya tahun 1990-an. Sudah diinventarisir oleh ITB, ada nomor cagar budayanya, jadi kami yakin dalam konteks itu masih aset mlik ITB," ujar Dr. Kiki Rizky Soetisna, dosen dan peneliti dari FSRD ITB, saat ditemui kumparan di ITB, Kamis (8/1).
"Ya sebagaimana pemilik, dia yang harus merawatkan, kami berusaha merawat sehari-hari," lanjut Kiki.
Kiki menjabat juga Principal Investigator Center for Indonesian Visual Art Studies (CIVAS). "Itu sebuah laboratorium di bawah FSRD yang mengelola perawatan arsip-arsip yang berkaitan dengan sejarah pendirian kampus seni rupa di ITB," ujarnya.
PerawatanKiki menjelaskan bagaimana cara merawat arca tersebut.
"Perawatannya sebetulnya sehari-hari tidak ada yang khusus ya, kami cukup menjaga supaya pertama tidak ada vandalisme ya, itu yang paling kami jaga," ujar Kiki.
Ia melanjutkan, "Terus kemudian kami membersihkan secara berkala yang ada debu-debu yang menempel dan segala macam."
ITB, menurutnya, mendapatkan anugerah The Dutch Research Council. "Grant-nya untuk 5 tahun pekerjaan riset. Tahun pertama kami melakukan konservasi atau pembersihan," ujarnya.
Pembersihan Fisik dan SpiritualArca tersebut dibersihkan secara fisik dan spiritual.
"Ada 2 pendekatan pembersihan yang kami lakukan. Pertama adalah pembersihan fisik. Itu kami bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan, lalu salah seorang konservator yang didatangkan dari Balai Pelestarian Borobudur ya, dari Magelang," kata Kiki.
Dia melanjutkan, "Jadi waktu itu kami melakukan pembersihan fisik, itu juga pembersihannya mekanikal. Mekanikal kering, mekanikal basah, pembersihan debu-debu yang karena puluhan tahun ada di sini tidak pernah dibersihkan secara spesifik gitu."
"Lalu kemudian pembersihan yang kedua itu kami melakukan pembersihan secara spiritual. Jadi kami mengundang, satu, seorang Pinandita Hindu, kami melakukan 2 upacara ya. Pertama April, yang kedua itu Oktober," kata Kiki.
"Yang April itu pembersihan. Semacam meminta blessing ya, meminta izin kepada si pemilik kehidupan, pemilik energi. Dan itu untuk sebetulnya untuk acknowledge bahwa walaupun sekarang ini patung-patung yang ada di sekolah ini, tapi dulunya mereka adalah entitas yang disakralkan gitu. Jadi itu adalah sebuah cara untuk kami meng-acknowledge kenyataan itu di masa lalu," ujar Kiki.
RitualKiki menuturkan, ada pula ritual yang dilakukan dalam merawat candi itu.
"Jadi kami mengundang Pinandita Hindu melakukan satu ritual permintaan izin di awal, di bulan April, Mepiuning. Lalu kemudian ditutup di bulan Oktober ada acara yang kedua. Itu untuk semacam membersihkan, berterima kasih ya, membersihkan energinya, mengembalikan pada energi yang baik, lalu juga untuk kami yang akan meneliti, juga diberikan kedamaian, diberikan energi yang positif untuk melakukan riset. Itu pembersihan yang kami lakukan di tahun ini," ujar Kiki.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/1092033/original/083640600_1450787101-Ilustrasi_Grafik_Perkembangan__Penjualan__dan_atau_Pencapaian_Perusahaan_dan_Bisnis_Kredit_Freepik.jpg)

