Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) akan menerapkan aturan baru terkait Time Clock dan permainan berkelanjutan atau continuous play guna meningkatkan konsistensi penegakan peraturan sekaligus mengurangi penundaan di antara reli.
Aturan ini mulai diuji coba pada sejumlah turnamen BWF World Tour, termasuk Indonesia Masters 2026 yang akan digelar di Istora Senayan, Jakarta, pada 20–25 Januari 2026.
Melalui sistem Time Clock, pemain, khususnya server, diberi waktu maksimal 25 detik untuk bersiap melakukan servis berikutnya setelah sebuah reli berakhir. Penghitungan waktu dimulai sejak wasit memasukkan skor reli sebelumnya.
Penerapan Time Clock diharapkan memberikan ukuran waktu yang objektif dan meminimalkan unsur subjektivitas wasit dalam menilai adanya penundaan permainan.
BWF juga memperjelas aktivitas yang diperbolehkan pemain selama jeda antar reli. Dalam durasi 25 detik tersebut, pemain diperkenankan mengelap handuk, minum, mengikat tali sepatu, hingga menggunakan semprotan dingin yang diaplikasikan sendiri tanpa perlu izin wasit.
Namun, penerima servis tetap wajib mengikuti tempo permainan server dan tidak diperkenankan memperlambat jalannya pertandingan.
Dalam pertandingan yang menerapkan Time Clock, permintaan pergantian shuttlecock harus diajukan segera setelah reli berakhir dan diselesaikan dalam batas waktu 25 detik.
Jika diperlukan pengepelan lapangan dalam durasi lebih lama, wasit berhak menghentikan Time Clock. Sementara untuk pengepelan singkat, penghitungan waktu tetap berjalan.
BWF menegaskan bahwa wasit memiliki kewenangan menjatuhkan sanksi atas penundaan waktu yang tidak semestinya, mulai dari peringatan lisan, kartu kuning, hingga kartu merah sesuai tingkat dan pengulangan pelanggaran. Namun, selama masa uji coba ini, sanksi yang diberlakukan baru sebatas peringatan lisan.
Masa uji coba aturan Time Clock dan permainan berkelanjutan ini akan dievaluasi sebelum ditetapkan secara permanen dalam rapat umum tahunan (AGM) atau Council Meeting BWF. Jika dinilai efektif, aturan tersebut akan diberlakukan penuh sepanjang tahun 2026.
Untuk pertandingan yang belum menggunakan Time Clock, penilaian terhadap penundaan permainan tetap dilakukan dengan mekanisme lama, dengan penekanan bahwa penerima servis wajib mengikuti tempo server.
Editor: Redaktur TVRINews




