Pantau - Penumpukan sampah di area belakang Pasar Induk Kramat Jati disebabkan oleh keterbatasan jumlah armada pengangkut yang tersedia, padahal pasar tersebut menghasilkan hingga 150 ton sampah setiap harinya.
Volume Sampah Melimpah, Armada Tidak MencukupiSetiap hari, Pasar Induk Kramat Jati menghasilkan sampah dalam jumlah besar, yakni antara 120 hingga 150 ton.
Volume sampah ini berasal dari aktivitas perdagangan yang berlangsung hampir 24 jam, termasuk dari lapak pedagang hingga area bongkar muat.
Menurut pengelola pasar, idealnya dibutuhkan 12 hingga 15 armada pengangkut setiap hari untuk mengangkut seluruh sampah yang dihasilkan.
Namun kenyataannya, Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) DKI Jakarta hanya mampu menyediakan sekitar delapan armada per hari.
"Kondisi yang terjadi sekarang ini memang idealnya dari 120 ton sampah yang ada, kita butuh setiap harinya itu 12 sampai dengan 15 armada. Namun demikian, maksimal yang bisa dilakukan oleh Sudin Lingkungan Hidup itu hanya sekitar delapan armada," ungkap Agus, salah satu pengelola pasar.
Penumpukan Sampah dan Harapan PerbaikanSampah dari lapak-lapak pedagang telah dikumpulkan hingga ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS), sebelum akhirnya diangkut ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi.
Namun karena keterbatasan jumlah armada, tidak semua sampah dapat terangkut setiap harinya.
Akibatnya, terjadi penumpukan sisa sampah atau deposit dari hari ke hari.
"Sehingga setelah itu yang kemudian membuat deposit sampah setiap harinya, dan kondisi itu terus menumpuk hingga seperti sekarang," ia mengungkapkan.
Meski begitu, Agus tetap memberikan apresiasi terhadap upaya Dinas Lingkungan Hidup dalam menangani persoalan ini.
" Kami tetap mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh teman-teman dinas, baik Kepala Dinas, Kepala Suku Dinas LH, maupun teman-teman Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel) Kramat Jati yang sudah luar biasa melakukan upaya untuk menanggulangi penanganan sampah di Pasar Induk Kramat Jati ini," ujarnya.
Masalah utama yang harus segera diselesaikan adalah mencukupi jumlah armada pengangkut agar sesuai dengan kebutuhan harian.
"Memang patut kita sadari bahwa permasalahannya sudah jelas, yaitu kurangnya armada yang kemudian menyebabkan potensi penumpukan sampah itu terjadi," jelas Agus.
Ia berharap ke depan jumlah armada dapat segera ditingkatkan agar tidak terjadi lagi penumpukan sampah yang dapat mengganggu lingkungan dan aktivitas pasar.
"Oleh karena itu, kita berharap agar armada itu bisa segera terpenuhi dan ideal, sehingga setiap hari sampah yang ada ini bisa terangkut ke Bantar Gebang," tambahnya.



