EtIndonesia. Seorang pria duduk di dek kapal sambil membaca koran. Tiba-tiba, hembusan angin kencang menerbangkan topi barunya ke laut. Dia hanya mengusap kepalanya, melirik topi yang jatuh ke air, lalu kembali membaca koran seperti biasa.
Orang lain yang melihat kejadian itu merasa heran dan berkata :“Tuan, topi Anda tertiup angin ke laut!”
“Saya tahu, terima kasih,” jawabnya singkat, sambil tetap membaca koran.
“Padahal topi itu harganya puluhan dolar.”
“Ya, saya sedang memikirkan bagaimana cara berhemat untuk membeli topi baru. Topinya memang hilang dan saya tentu sayang, tapi apakah topi itu bisa kembali?” ” katanya dengan tenang.
Selesai berkata demikian, dia kembali tenggelam dalam bacaan korannya.
Memang benar, yang sudah hilang tetaplah hilang. Mengapa harus panik berlebihan atau terus-menerus menyesalinya?
Banyak orang pernah mengalami kehilangan sesuatu yang penting atau sangat disayangi—misalnya tanpa sengaja kehilangan gaji yang baru diterima, sepeda kesayangan dicuri, atau pasangan yang telah bersama bertahun-tahun tiba-tiba pergi. Semua itu sering meninggalkan bayang-bayang psikologis, bahkan membuat seseorang tersiksa dalam waktu lama.
Akar masalahnya adalah: kita tidak menata ulang sikap batin untuk menghadapi kehilangan. Kita tidak mau mengakui kehilangan itu secara mental, hanya larut dalam sesuatu yang sudah tidak ada, tanpa berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru. Karena itu, orang sering menghibur mereka yang kehilangan dengan kalimat, “yang lama pergi, yang baru akan datang.” Dan memang itulah kenyataannya.
Daripada menyesali sepeda yang hilang, lebih baik memikirkan cara membeli yang baru. Daripada tenggelam dalam penderitaan karena ditinggal kekasih, lebih baik bangkit kembali dan membuka diri untuk cinta yang baru.
Ada dua orang sahabat yang bepergian bersama. Menjelang pulang, mereka menyadari dompet mereka hilang. Salah satunya kembali menyusuri semua tempat yang telah mereka datangi, bertanya ke banyak orang, bahkan melapor ke kantor polisi—namun tak membuahkan hasil apa pun.
Sahabat yang lain memilih cara berbeda. Setelah menyadari dompetnya hilang, dia masuk ke sebuah restoran dan menjelaskan keadaannya kepada pemiliknya. Dia menawarkan diri mencuci sayur di dapur sebagai imbalan. Dengan cara itu, dia berhasil mendapatkan ongkos pulang untuk dirinya dan temannya. Bahkan, sejak saat itu dia menjalin persahabatan dengan pemilik restoran tersebut dan mereka saling berkirim surat secara berkala.
Setiap kali orang lain menyinggung peristiwa itu, dia selalu berkata : “Waktu bepergian itu singkat, hal-hal menarik begitu banyak. Terus-menerus merisaukan dompet yang hilang benar-benar tidak sepadan.”
Hikmah cerita:
Benar sekali—dalam hidup ini masih banyak hal yang perlu kita lakukan. Mengapa harus terus bersedih hanya karena kehilangan sesaat?
Setiap orang pasti pernah kehilangan sesuatu, tetapi sikap batin dalam menghadapinya berbeda-beda. Ada orang yang terus-menerus menceritakan betapa berharganya apa yang telah hilang. Namun ada pula yang memilih jalan lain: ketika kehilangan pekerjaan, mereka tidak larut dalam kesedihan, melainkan aktif mencari pekerjaan baru.
Mereka percaya bahwa kehilangan tidak sama dengan kegagalan. Setelah kehilangan, kita masih bisa memiliki kembali.
Inilah sikap hidup yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang yang akan berhasil.(jhn/yn)




