Nilai tukar rupiah melemah 0,17% ke level 16.827 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Jumat (9/1). Kurs rupiah berpotensi terus loyo hingga menembus 17.000 per dolar AS seiring tekanan akibat membengkaknya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang hampir menembus batas aman 3%.
“Kemungkinan ada tekanan lanjutan terhadap rupiah. Salah satu faktornya peningkatan defisit fiskal ke 2,92% dari GDP yang merupakan tertinggi setelah pandemi Covid-19 (6,09%),” kata Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana kepada Katadata.co.id, Jumat (9/1).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 46 poin di lelev 16.844 per dolar AS. Namun, rupoah bergerak menguat tipis dari posisi pembukaan ke level 16.827 hingga pukul 10.25 WIB.
Fikri mengungkapkan ketegangan geopolitik juga masih menjadi faktor pelemahan rupiah. Khususnya terkait Venezuela, greenland, Iran dan permintaan tambahan anggaran pertahanan oleh Presiden AS Donald Trump.
“Ini semua mendorong risk off global. Kemungkinan rupiah bisa ke level Rp 17.020 per dolar AS,” ujar Fikri.
Senada, Analis Doo Financial Futurs Lukman Leong juga memproyeksikan hal yang sama. Lukman memperkirakan rupiah akan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat setelah data-data pekerjaan yang lebih baik dari perkiraan.
“Investor menantikan indeks kepercayaan konsumen Indonesia siang ini. Rupiah akan berada di level Rp 16.750 per dolar AS hingga Rp 16.850 per dolar AS,” kata Lukman.
Lukman menambahkan, investor juga khawatir dengan kondisi ekonomi domestik saat ini. Menurutnya, salah satu kekhawatiran investor saat ini yaitu defisit APBN yang terus membengkak.




