MAKASSAR, KOMPAS — Hingga hari kelima setelah banjir bandang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro atau Sitaro, Sulawesi Utara, upaya pencarian korban hilang terus dilakukan. Tim di lapangan juga menyalurkan logistik sembari membuka akses ke daerah-daerah yang terisolir.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban tewas akibat bencana banjir bandang di Sitaro berjumlah 17 orang. Dari total korban tewas yang telah ditemukan itu, baru delapan orang yang bisa diidentifikasi. Sembilan orang lainnya masih dalam proses identifikasi, sedangkan dua korban lain masih hilang.
“Hingga kini, proses penanganan darurat masih terus dilakukan. Operasi pencarian dan penyelamatan korban, pendataan dampak, serta penyaluran bantuan logistik tetap menjadi prioritas utama di wilayah terdampak,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan tertulis, Kamis (8/1/2026).
Terkait penanganan medis, tercatat 12 orang korban luka dirujuk ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan, sedangkan empat orang korban lainnya dirujuk ke fasilitas kesehatan di Kota Manado, Sulut, guna memperoleh penanganan medis lanjutan sesuai kondisi masing-masing.
Muhari menyebut, bencana banjir bandang di Sitaro juga mengakibatkan sedikitnya 691 keluarga mengungsi. “Proses pendataan terhadap para pengungsi masih terus dilakukan untuk memastikan seluruh warga terdampak memperoleh bantuan dan layanan dasar yang diperlukan,” ujarnya.
Terkait kerusakan akibat bencana itu, sedikitnya terdapat 30 unit rumah hilang, 52 rumah rusak berat, 29 rusak sedang, dan 89 rusak ringan. Selain itu, tiga unit fasilitas pendidikan terdampak, sejumlah bangunan kantor dan infrastruktur mengalami kerusakan, serta beberapa akses jalan masih terputus.
Untuk korban yang masih hilang, tim SAR terus melakukan pencarian, mulai dari lokasi terakhir titik rumah korban yang diketahui hingga ke wilayah pesisir. Pencarian dilakukan melalui penyisiran manual serta penggunaan alat berat untuk membersihkan material banjir yang menutup akses dan diduga menimbun korban.
Kepala Seksi Operasi Badan SAR Nasional Sulut, Ida Bagus, mengatakan, hingga operasi SAR pada Kamis (8/1) kemarin, korban yang hilang masih belum ditemukan. Tim SAR gabungan pun kembali melanjutkan upaya pencarian pada Jumat (9/1) ini.
Di sisi lain, untuk mengatasi gangguan jaringan telekomunikasi, Basarnas Sulut menyiapkan perangkat Starlink yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk memperoleh akses internet.
Layanan internet tersebut awalnya disiapkan untuk mendukung pelaporan dan publikasi operasi SAR, tetapi kini juga dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar yang mengalami gangguan jaringan komunikasi.
“Dengan adanya akses internet ini, warga dapat menginformasikan kondisi terkini kepada keluarga dan kerabat di luar daerah. Kami berharap ini bisa membantu persoalan keterbatasan jaringan telekomunikasi untuk sementara,” kata Rahmatullah, anggota bagian komunikasi Basarnas Sulut.
Operasi pencarian dan penyelamatan korban, pendataan dampak, serta penyaluran bantuan logistik tetap menjadi prioritas utama di wilayah terdampak
Banjir bandang di Sitaro terjadi pada Senin (5/1/2026) sekitar pukul 03.00 Wita. Banjir bandang terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut dalam waktu cukup lama.
Selain menimbulkan korban dan kerusakan bangunan, bencana itu juga menyebabkan jaringan listrik dan telekomunikasi terputus. Sejumlah akses jalan juga tertutup material.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Lana Saria mengatakan banjir bandang di Sitaro terjadi bukan hanya akibat curah hujan tinggi, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor.
Minimnya dukungan mitigasi hingga sistem drainase yang tidak ideal diduga ikut memicu bencana berdampak fatal. "Hal itu membuat seluruh air terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor," katanya.
Lana mengatakan, karena curah hujan mash tinggi, ke depan perlu dilakukan pemantauan jalur sungai dari hulu hingga lokasi terdampak. Hasil pemantauan itu bisa digunakan sebagai rekomendasi lanjutan bagi warga agar tidak berada di daerah rawan.
Selain itu, sebaiknya dilakukan juga normalisasi sungai hingga peningkatan mitigasi struktural pengaturan keairan dan penahan material di dinding sungai.



