Jakarta, CNBC Indonesia - Badai Goretti telah melumpuhkan sebagian besar wilayah Eropa utara. Bencana ini memicu pemadaman listrik massal, penutupan sekolah, serta gangguan serius pada transportasi di tengah suhu musim dingin ekstrem.
Di Prancis, sekitar 380.000 rumah tangga mengalami pemadaman listrik pada Jumat (9/1/2026) waktu setempat, terutama di wilayah Normandia utara. Penyedia listrik nasional Enedis menyebut gangguan juga terjadi di Brittany, Picardy, hingga wilayah Ile-de-France.
"Sebagian besar pemadaman terjadi akibat angin kencang yang merusak jaringan distribusi listrik," kata Enedis dalam pernyataannya, dikutip AFP.
- Negeri Musuh Besar AS Chaos, Demo Menggila-Internet Mati Total
- Donald Trump: "Saya Tidak Butuh Hukum Internasional"
- Perang Baru Pecah di Negara Arab, Ratusan Ribu Warga Mengungsi
- Putin Ngamuk! Rusia Tembak Rudal Hipersonik-'Bom' 200 Drone ke Ukraina
Badai Goretti membawa hembusan angin ekstrem dengan kecepatan mencapai 216 kilometer per jam di wilayah Manche, Prancis barat laut. Angin kencang juga menumbangkan pepohonan dan merusak bangunan, meski otoritas setempat menyebut tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.
Dampak badai meluas hingga Inggris. BBC melaporkan sekitar 65.000 rumah tangga kehilangan aliran listrik.
Kantor Meteorologi Inggris mengeluarkan peringatan angin merah, level tertinggi yang jarang dikeluarkan, untuk wilayah Cornwall dan Kepulauan Scilly. Hembusan angin hingga 160 kilometer per jam diperkirakan terjadi, disertai gelombang laut besar yang membahayakan kawasan pesisir.
Selain angin, badai juga membawa salju lebat. Otoritas Inggris mengeluarkan peringatan salju tingkat amber di Wales, Inggris tengah, dan Inggris utara, dengan ketebalan salju diperkirakan mencapai 30 sentimeter di beberapa wilayah.
Gangguan perjalanan pun tak terhindarkan. Perusahaan Kereta Api Nasional Inggris memperingatkan layanan kereta akan terganggu selama beberapa hari ke depan dan meminta warga menghindari perjalanan yang tidak mendesak. Di Prancis utara, sekolah-sekolah ditutup di puluhan wilayah.
"Berlindunglah dan jangan gunakan kendaraan Anda," imbau Prefektur Manche, seraya meminta warga menyiapkan penerangan darurat dan persediaan air minum.
Cuaca ekstrem juga menghantam Jerman dan kawasan Balkan. Di Jerman, salju lebat dan angin kencang mengganggu sekolah, rumah sakit, serta transportasi publik.
Perusahaan kereta nasional Deutsche Bahn memperingatkan potensi keterlambatan signifikan dan mengerahkan lebih dari 14.000 pekerja untuk membersihkan salju dari rel dan peron. Layanan Cuaca Jerman (DWD) memperkirakan suhu dapat turun hingga minus 20 derajat Celcius di beberapa wilayah.
"Badai ini memang pengecualian setelah beberapa tahun musim dingin yang relatif lebih hangat," kata ahli meteorologi DWD, Andreas Walter, kepada AFP.
"Masih mungkin terjadi bulan yang sangat dingin dan bersalju, tetapi kejadian seperti ini akan semakin jarang di masa depan," ujarnya menambahkan, fenomena ini tetap berkaitan dengan perubahan iklim.
Di kawasan Balkan, kombinasi hujan deras dan salju lebat dilaporkan menyebabkan banjir mematikan. Polisi Albania menemukan jenazah seorang pria di kota Durres setelah terseret arus banjir.
Secara keseluruhan, cuaca ekstrem yang melanda Eropa dalam beberapa hari terakhir telah menyebabkan setidaknya delapan orang tewas, sekaligus memperlihatkan betapa rapuhnya infrastruktur benua tersebut menghadapi badai dan bencana alam berskala besar.
(sef/sef)



