Teheran: Demonstrasi besar melanda ibu kota Iran, Teheran, pada Kamis, 8 Januari 2026, menyusul seruan aksi dari tokoh oposisi di pengasingan, Reza Pahlavi. Saksi mata melaporkan massa mulai berkumpul di berbagai titik kota, dengan sebagian warga meneriakkan yel-yel perlawanan dari kediaman mereka sebelum aksi meluas ke jalan-jalan utama.
Pemerintah Iran merespons dengan memutus akses internet dan saluran telepon tak lama setelah demonstrasi dimulai. Perusahaan infrastruktur internet Cloudflare serta kelompok advokasi NetBlocks mengonfirmasi terjadinya gangguan konektivitas berskala nasional, yang dinilai sebagai upaya otoritas untuk membatasi koordinasi massa.
Aksi ini menjadi ujian signifikan bagi Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran yang digulingkan dalam Revolusi 1979, terkait kemampuannya memobilisasi dukungan di dalam negeri. Sejumlah demonstran dilaporkan meneriakkan slogan-slogan yang merujuk pada era monarki—sebuah bentuk ekspresi yang selama ini sangat sensitif dan berisiko tinggi di Iran.
Pengamat menilai munculnya yel-yel tersebut mencerminkan kemarahan publik yang kian mendalam akibat tekanan ekonomi. Nilai tukar rial dilaporkan merosot hingga sekitar 1,4 juta per dolar AS pada Desember lalu, mendorong lonjakan biaya hidup dan memperburuk daya beli masyarakat.
Menurut laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat, sedikitnya 41 orang tewas dalam kekerasan terkait kerusuhan, sementara lebih dari 2.270 orang dilaporkan ditahan aparat keamanan.
Tekanan pun meningkat terhadap pemerintah sipil Iran dan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Meski protes dilaporkan menyebar hingga kota-kota kecil dan wilayah pedesaan, para ahli mencatat gerakan ini masih menghadapi tantangan besar berupa ketiadaan kepemimpinan lapangan yang terpadu, menyusul represi sistematis terhadap aktivis lokal selama bertahun-tahun.
Di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras bahwa AS akan mempertimbangkan intervensi jika Teheran melakukan kekerasan mematikan terhadap pengunjuk rasa damai. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan tinggal diam jika demonstran damai dibunuh.
Pemerintah Iran segera mengecam pernyataan tersebut. Kementerian Luar Negeri Iran menilainya sebagai bentuk kemunafikan dan menuduh Washington berupaya menyesatkan opini publik serta menutupi rekam jejak panjang intervensi AS dalam urusan domestik Iran. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Trump Ancam Hantam Iran Jika Pedemo Antipemerintah Terbunuh




