BANDUNG, KOMPAS- Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung di Jawa Barat menangani 10 pasien influenza A subklad K atau yang dikenal dengan superflu periode September hingga November 2025. Satu pasien dilaporkan meninggal dengan komorbid sejumlah penyakit penyerta.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat hingga Sabtu (10/1/2026), belum ada kasus baru superflu yang dilaporkan pada awal tahun ini.
Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging (Pinere) Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, dr. Yovita Hartantri memaparkan, 10 penderita superflu terdeteksi dengan hasil pemeriksaan sampel di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Biologi di Jakarta. Hasilnya baru diketahui bulan ini.
Ia memaparkan, 10 penderita superflu ini sebelumnya menjalani perawatan pada tahun lalu, yakni September sebanyak dua orang, Oktober (8) dan November (2). Mereka berusia 9 bulan hingga 60 tahun.
Gejala superflu bervariasi dan sangat cepat untuk berevolusi menimbulkan gejala menjadi berat. Dua pasien dengan gejala berat harus menjalani perawatan di ruang intensif.
"Ada satu pasien yang dinyatakan meninggal disebabkan komorbid struk, jantung dan ada infeksi, " kata Yovita.
Ia menuturkan, penderita punya komorbid dan lanjut usia rentan memiliki gejala lebih berat dibandingkan flu biasa. Hal ini bisa menimbulkan sakit berat dan meninggal.
"Kami telah menyiapkan ruangan isolasi, satu ruangan isolasi intensif dan ruangan di IGD. Diharapkan masyarakat selalu menggunakan masker terutama di tempat umum, " harapnya.
Direktur Medik dan Keperawatan RSHS, dr Iwan Abdul Rachman menambahkan, masyarakat jangan panik karena situasinya tidak seperti pandemi Covid-19. Masyarakat saat merasakan gejala-gejala influenza perlu mengonsumsi obat simtomatik untuk meredakan gejala seperti deman, batuk dan pilek.
"Istirahatnya ditingkatkan sehingga daya tahan tubuh kembali pulih. Apalagi merasakan gejala berat, jangan ragu datang ke fasilitas kesehatan, " tambahnya.
Kepala Dinkes Jabar Vini Adiani Dewi mengatakan, superflu itu penyakit flu biasanya namun gejalanya dirasakan lebih lama. Gejala yang dirasakan bisa mencapai hingga sebulan.
Adapun gejala pada superflu tidak hanya demam, batuk dan pilek. Akan tetapi pada superflu terdapat juga gejala sesak nafas.
Penyebarannya melalui droplet atau percikan air liur penderita. Tingkat fatalitasnya tidak seperti Covid-19. Belum ada laporan kasus kematian akibat influenza A di Jabar.
"Bagi masyarakat yang terpapar superflu harus beristirahat yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi dan menjalani isolasi mandiri di rumah, " ucapnya.
Ia mengungkapkan, masyarakat yang rentan saat terpapar superflu jika memiliki daya tahan tubuh yang rendah, seperti balita, lanjut usia dan masyarakat dengan penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes dan jantung.
"Penyakit flu pada dasarnya bisa sembuh sendiri jika daya tahan tubuh baik. Akan tetapi diperlukan kehatian-hatian bagi kelompok masyarakat dengan daya tahan tubuh yang rendah, " tuturnya.
Ia mengimbau masyarakat jika sedang sakit flu dan terpaksa keluar rumah harus menggunakan masker agar tidak menularkan ke orang lain. Selain itu, terapkan etika saat batuk, yakni menutup batuk ke lengan atas atau siku bagian dalam.
Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pihaknya terus memantau dengan seksama perkembangan kasus superflu di Kota Bandung. Upaya deteksi akan terlaksana di puskesmas dan rumah sakit bagi masyarakat yang mengeluhkan gejala seperti superflu.
"Apabila ada warga Kota Bandung yang menderita superflu, kami akan menyediakan rumah sakit sebagai tempat isolasi yang baik, " ucapnya.





