Perlawanan rakyat Iran telah meluas ke seluruh negeri, dan rezim Khamenei yang dilanda kepanikan melepaskan tembakan untuk menindas. Video yang beredar luas memperlihatkan sepasang kekasih bergandengan tangan menghadang tembakan. Banyak warganet Tiongkok daratan tersentuh dan memberi tanda suka, serta berharap mereka juga memiliki keberanian seperti itu untuk memperjuangkan kebebasan bagi generasi mendatang.
EtIndonesia. Belakangan ini, video bertajuk “Pasangan Iran Melawan Kekuasaan Otoriter” ramai beredar di platform Douyin (TikTok versi Tiongkok). Meski video tersebut berulang kali diblokir, warganet terus membagikannya. Banyak komentar juga muncul, secara tersirat mengekspresikan keinginan untuk melawan tirani Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Salah satu video memperlihatkan sekelompok tentara dan polisi Iran mengangkat senjata dan berdiri di tengah jalan, menghalangi laju massa demonstran. Di antara mereka tampak asap mesiu, diduga baru saja melepaskan tembakan.
Pada saat itu, seorang pemuda berpakaian hitam merentangkan kedua tangannya dan melangkah perlahan menuju laras senjata yang menganga. Tak lama kemudian, seorang berpakaian hitam lainnya menggenggam lengan kirinya dan juga merentangkan tangan.
Keduanya diduga sepasang kekasih, berjalan berdampingan perlahan menuju barisan tentara dan polisi. Hingga mereka tiba di hadapan aparat, tidak ada tembakan dilepaskan. Di sisi kanan video, terlihat seorang aparat yang tampak terharu perlahan menurunkan senjata yang semula terangkat.
Dalam video lain, seorang pemuda berpakaian hitam kembali terlihat merentangkan tangan dan berjalan menuju aparat bersenjata lengkap. Sang kekasih perempuan meski tampak ketakutan, tetap memilih untuk hidup dan mati bersama pacarnya. Ia berjalan di sisi belakang sang pria, menyembunyikan kepala di balik bahu kiri pacarnya, mengikuti langkahnya maju.
Belum diketahui apakah pasangan dalam kedua video tersebut adalah orang yang sama.
Tangkapan layar menunjukkan bahwa video yang dibagikan seorang kreator Douyin memperoleh lebih dari seribu komentar. Selain segelintir akun “pembersih citra” pasukan siber PKT, sebagian besar warganet memberikan tanda suka.
Banyak komentar berbunyi: “Pahlawan”, “Pejuang”, “Sangat mengharukan”, “Air mata mengalir”. Ada pula yang menulis: “Aku pengecut, tapi aku memberi hormat kepada semua pahlawan pemberani di dunia ini”, “Semoga suatu hari aku juga punya keberanian seperti ini”, dan “Aku berharap kelak bisa setangguh ini! Aku hanya ingin mengatakan kepada keturunan kami bahwa generasi kami—angkatan 80-an—bukan pengecut”.
Menurut banyak informasi yang beredar daring, aksi protes di Iran kini telah meluas ke 31 provinsi dan lebih dari 200 kota. Di sejumlah kota, warga menduduki gedung-gedung pemerintah dan membakar lembaga resmi.
Di beberapa wilayah, warga bahkan telah mengangkat senjata untuk melawan. Aparat militer dan polisi di berbagai tempat menembaki para demonstran, memicu bentrokan sengit antara pemerintah dan rakyat. Dilaporkan sedikitnya lebih dari 30 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.
Namun, di sebagian daerah, ada polisi yang memilih menghentikan penindasan, bahkan mendukung perjuangan rakyat.
Video yang beredar juga memperlihatkan massa demonstran meneriakkan slogan “Tumbangkan Khamenei” dan merobohkan patung penguasa totaliter. Sebagian penentang secara terbuka menuntut agar pemerintahan teokrasi otoriter mundur, serta menyerukan agar putra mahkota yang terpaksa hidup di pengasingan kembali ke tanah air untuk memimpin.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyatakan bahwa jika rezim Iran membantai rakyatnya, militer AS akan turun tangan. Di bawah tekanan dari dalam dan luar negeri, rezim Khamenei kini berada di ujung tanduk. (Hui)


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F11%2F4323d3fc6ac13d320fa71d7a87cf3991-20260111TAM_03.jpg)
