Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Banda Aceh
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan seluruh layanan kesehatan di wilayah terdampak banjir di Aceh telah pulih sepenuhnya. Hal itu disampaikan dalam rapat koordinasi Satgas Pemulihan Bencana DPR RI bersama Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Pemerintah, di Banda Aceh, Sabtu, 10 Januari 2026.
Budi menjelaskan, saat bencana banjir melanda pada 1 Desember 2025, sebanyak 87 rumah sakit terdampak dan 152 fasilitas kesehatan tidak dapat beroperasi karena genangan tinggi. Namun berkat kerja sama lintas sektor, terutama TNI, Polri, pemerintah daerah, serta Kementerian Pekerjaan Umum, layanan kesehatan berhasil dipulihkan dalam waktu singkat.
“Dalam dua minggu, tepatnya per 14 Desember, seluruh 87 rumah sakit sudah kembali beroperasi. Ini berkat kolaborasi luar biasa semua pihak,” kata Budi dalam keterangan yang diterima tvrinews melalui YouTube DPR RI, Sabtu, 10 Januari 2026.
Ia menuturkan, pada tahap awal, Kementerian Kesehatan memprioritaskan pemulihan operasional rumah sakit dan puskesmas. Dari 152 fasilitas kesehatan yang semula berhenti total, kini hanya tersisa tiga puskesmas yang belum bisa digunakan karena rusak berat dan harus dibangun ulang, yakni di Jambur Laklak (Aceh Tengah), Aceh Tenggara, dan wilayah Rusip Antara.
“Untuk yang rusak total, kita bangun baru. Tanah sudah disiapkan pemerintah daerah, dan proses konstruksi segera dimulai,”lanjutnya.
Selain pemulihan fasilitas, Kemenkes juga mengerahkan bantuan tenaga kesehatan secara masif. Sebanyak 200 hingga 800 relawan kesehatan diterjunkan secara bergilir setiap dua minggu untuk melayani lebih dari 1.000 posko pengungsian dan 120 desa yang sempat terisolasi.
“Kami pastikan pelayanan kesehatan di pengungsian dan wilayah terpencil tetap berjalan selama masa tanggap darurat hingga pemulihan,” jelas Budi.
Memasuki tahap pemulihan lanjutan, Kemenkes kini fokus pada pemenuhan alat kesehatan dan sarana penunjang rumah sakit yang rusak, seperti ambulans, ventilator, X-ray, CT-scan, hingga meja operasi. Seluruh kebutuhan tersebut telah didata secara rinci per rumah sakit.
“Kami membuka skema donasi langsung ke rumah sakit. Donatur bisa melihat kebutuhan spesifik masing-masing rumah sakit dan menyalurkannya langsung agar lebih cepat dan transparan,”tambahnya.
Ia menambahkan, beberapa perusahaan dan mitra swasta telah membantu, mulai dari perbaikan ambulans, kendaraan medis, hingga sumur bor air bersih di fasilitas kesehatan. Perusahaan air minum dan industri makanan juga turut membantu penyediaan air bersih dan logistik dasar.
Tak hanya fasilitas kesehatan, Kemenkes juga memberi perhatian pada kondisi tenaga kesehatan yang terdampak banjir. Sebanyak 3.206 rumah tenaga kesehatan telah didata lengkap, termasuk alamat, foto kondisi rumah, dan titik koordinat berbasis Google Maps.
“Kalau rumah tenaga kesehatan masih rusak, mereka tidak bisa fokus melayani masyarakat. Data ini akan kami serahkan ke BNPB dan kementerian terkait agar perbaikan bisa diprioritaskan,” tegas Budi.
Ia menyebutkan, anggaran pemulihan alat kesehatan dan rumah sakit yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp529 miliar. Dana tersebut akan dipenuhi melalui kombinasi APBN dan donasi masyarakat serta dunia usaha.
“Minggu depan seluruh kebutuhan dan anggaran akan kami kirimkan ke Satgas. Targetnya, seluruh layanan kesehatan dan pendukungnya benar-benar pulih dan berfungsi normal,” pungkas Budi.
Editor: Redaktur TVRINews




