Prospek Emiten BUMN 2026 Terkerek Penurunan Suku Bunga dan Konsolidasi

bisnis.com
22 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diproyeksikan masih memiliki peluang pertumbuhan pada 2026. 

Perkiraan tersebut didorong oleh terus bergulirnya stimulus fiskal dari pemerintah, ekspektasi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate, hingga realisasi program pembangunan strategis nasional.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa arah kebijakan fiskal dalam APBN akan menjadi motor utama bagi emiten pelat merah, terutama di sektor industri dasar dan infrastruktur. 

Selain itu, proyeksi penurunan BI Rate ke level 4,75% diharapkan mampu menekan biaya dana. Kondisi ini menguntungkan perbankan BUMN dalam menjaga margin bunga bersih serta ekspansi penyaluran kredit secara nasional.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Namun, Abida menyatakan bahwa tantangan global masih membayangi, seperti ketidakpastian geopolitik yang berisiko menekan stabilitas rupiah. 

“Tantangan utama meliputi ketidakpastian geopolitik global yang menekan nilai tukar rupiah dan beban keuangan tinggi pada sektor konstruksi yang masih dalam tahap pemulihan,” ujarnya saat dihubungi baru-baru ini. 

Baca Juga

  • Perubahan Status BUMN Dinilai Tak Ganggu Minat Investor terhadap Saham Pelat Merah
  • Pengalihan Saham Danantara ke BP BUMN Disebut Tak Pengaruhi Fundamental Emiten
  • Danantara Alihkan Sebagian Saham Himbara BRI, BNI, Bank Mandiri, BTN ke BP BUMN

Di tengah dinamika ini, BRI Danareksa Sekuritas menjagokan sejumlah saham perbankan pelat merah dengan fundamental solid seperti PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI). 

Untuk sektor non-perbankan, saham PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) dan PT Jasa Marga Tbk. (JSMR) dinilai menarik seiring dengan strategi agresif perusahaan dalam monetisasi aset serta optimalisasi arus kas. 

Katalis lainnya datang dari rencana pemerintah untuk menggabungkan tujuh BUMN Karya menjadi tiga induk usaha pada kuartal I/2026. 

Abida menilai konsolidasi itu dapat menjadi titik balik bagi sektor konstruksi untuk memperbaiki permodalan dan meningkatkan efisiensi operasional. 

“Konsolidasi melalui merger tujuh BUMN Karya menjadi tiga induk usaha pada kuartal I/2026 diharapkan menjadi katalisator kuat untuk memperbaiki struktur permodalan dan meningkatkan efisiensi operasional,” ucapnya. 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
4 Mata Uang Negara Ini Paling Tersiksa Lawan Dolar AS
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Muswil PPP di Papua Jadi Tonggak Konsolidasi Menuju Pemilu 2029
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Diduga Masalah Ekonomi, Ibu di Kebumen Ajak Dua Anaknya Bunuh Diri
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
Silaturahmi Menteri Hukum dan Pemred, Bahas KUHP, KUHAP, Hingga Bantuan Hukum
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Dilanda Banjir Susulan, Aceh Utara Tetapkan Kembali Tanggap Darurat Bencana
• 6 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.