GELOMBANG protes baru kembali mengguncang Iran pada Jumat, menjadi tantangan paling serius terhadap pemerintahan Republik Islam dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Di tengah meluasnya demonstrasi dan pemadaman internet nasional, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan negara tidak akan mundur dan mengisyaratkan penindakan keras terhadap para pengunjuk rasa.
Dalam pidato pertamanya sejak protes pecah pada 28 Desember, Khamenei menyebut para demonstran sebagai “perusak” dan “sabotaseur”, serta menuduh mereka bertindak atas kepentingan asing.
“Mereka merusak jalan-jalan mereka sendiri untuk membuat presiden negara lain senang,” kata Khamenei, merujuk pada mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilansir dari The Guardian, Sabtu (10/1).
Khamenei juga menuding adanya campur tangan luar negeri dalam gelombang protes tersebut. Menurutnya, para pengunjuk rasa bertindak “atas perintah agenda asing”, termasuk Amerika Serikat.
Protes yang awalnya dipicu oleh anjloknya nilai mata uang nasional Iran dan memburuknya kondisi ekonomi dengan cepat berkembang menjadi tuntutan politik terbuka. Di sejumlah kota, massa meneriakkan slogan anti-pemerintah, termasuk seruan “mati untuk Khamenei”.
Di distrik Sadatabad, Teheran, warga memukul panci dan meneriakkan slogan-slogan anti-rezim, menurut video yang telah diverifikasi. Aksi serupa dilaporkan terjadi di Mashhad, Tabriz, Qom, dan Zahedan.
Kelompok pemantau hak asasi manusia melaporkan puluhan orang tewas dan ribuan lainnya ditahan sejak demonstrasi dimulai. Lembaga Iran Human Rights menyebut sedikitnya 51 orang tewas, termasuk sembilan anak-anak, akibat tindakan aparat keamanan.
Seorang demonstran di Teheran, Maryam, 25, mengatakan aparat menggunakan kekerasan brutal untuk membubarkan massa. “Mereka menembak mata kami. Polisi, Basij, dan bahkan pasukan berpakaian sipil menyerbu kerumunan dengan motor,” ujarnya melalui pesan singkat. “Kami ribuan di jalan, tapi saya takut akan bangun dengan ratusan korban.”
Pemerintah Iran juga memberlakukan pemadaman internet nasional yang telah berlangsung lebih dari 36 jam. Amnesty International menilai langkah tersebut bertujuan menutupi pelanggaran HAM. Pemadaman itu dimaksudkan untuk “menyembunyikan skala sebenarnya dari pelanggaran HAM berat dan kejahatan menurut hukum internasional yang mereka lakukan untuk menghancurkan protes,” kata Amnesty.
Ancaman penindakan lebih keras ditegaskan oleh Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei. Ia menyatakan konsekuensi bagi demonstran akan bersifat “tegas, maksimal, dan tanpa kelonggaran hukum”.
Sementara itu, media pemerintah Iran menggambarkan aksi massa sebagai kerusuhan yang digerakkan oleh “agen teroris” asing. Televisi nasional mengklaim aparat keamanan telah menangkap agen intelijen Israel yang diduga menyusup ke dalam gerakan protes, meski klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Dari luar negeri, tekanan terhadap Teheran meningkat. Prancis, Jerman, dan Inggris dalam pernyataan bersama menyatakan keprihatinan atas kekerasan aparat Iran. “Kami sangat prihatin dengan laporan kekerasan oleh pasukan keamanan Iran dan mengutuk pembunuhan terhadap para demonstran,” bunyi pernyataan tersebut.
Amerika Serikat membantah tuduhan keterlibatan dalam protes. Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyebut pernyataan pejabat Iran sebagai upaya delusional untuk mengalihkan perhatian dari krisis besar yang dihadapi rezim di dalam negeri.
Dengan krisis ekonomi yang kian parah, akses informasi dibatasi, dan ancaman represi terbuka dari pimpinan tertinggi negara, situasi di Iran dinilai masih sangat rentan. Perkembangan dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan menentukan arah kelangsungan gelombang protes ini. (The Guardian/Z-10)





