Teheran, VIVA – Jumlah korban tewas akibat protes di Iran telah meningkat menjadi 65 orang, menurut laporan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA) pada Sabtu.
Laporan yang diterbitkan di situs web kelompok yang berbasis di AS tersebut mengatakan demonstrasi telah berlangsung selama 13 hari berturut-turut.
Disebutkan bahwa protes terjadi di 512 lokasi di 180 kota di seluruh 31 provinsi, mengakibatkan kematian 50 demonstran, 14 petugas penegak hukum dan keamanan, dan satu warga sipil yang berafiliasi dengan pemerintah.
Demonstrasi juga menyebabkan puluhan orang terluka dan 2.311 orang ditahan.
Menurut laporan tersebut, sebagian besar luka disebabkan oleh tembakan peluru karet dan peluru plastik.
Pihak berwenang belum mengeluarkan pernyataan tentang mereka yang tewas atau terluka.
Iran telah menyaksikan gelombang protes sejak akhir Desember, sebagian besar karena penurunan tajam nilai rial Iran dan memburuknya kondisi ekonomi.
Demonstrasi dimulai pada 28 Desember di dekat Grand Bazaar Tehran dan kemudian meluas ke beberapa kota.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Jumat bahwa Iran "dalam masalah besar" karena protes menyebar, dan mengatakan AS memantau perkembangan dengan cermat serta memperingatkan pihak berwenang agar tidak menggunakan kekuatan mematikan.
Iran menuduh AS dan Israel memicu kerusuhan, dengan para pejabat memperingatkan bahwa pasukan keamanan dan peradilan "tidak akan mentolerir sama sekali para penyabotase." (Ant)




