Ratusan Siswa di Mojokerto Diduga Keracunan MBG, Operasional SPPG Disetop Sementara

suarasurabaya.net
13 jam lalu
Cover Berita

Ratusan siswa di wilayah Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dilaporkan keracunan usai diduga mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (9/1/2026). Data sementara tercatat ada sebanyak 152 anak yang keracunan dan perlu mendapatkan perawatan fi fasilitas kesehatan.

Letkol Inf Abi Swanjoyo Komandan Kodim 0815/Mojokerto menyampaikan, angka tersebut masih bersifat sementara dan akan terus diverifikasi bersama kepolisian serta instansi terkait.

“Untuk sementara data yang kami terima, ini juga ada Bu Kadinkes, total semua ada 152. Itu anak-anak. Terbagi di beberapa tempat, ada juga yang di RSUD Prof.dr. Soekandar. Kalau tidak salah tadi Bu Kadinkes menyampaikan ada 15 yang dirujuk ke sana,” kata Letkol Abi kepada awak media, Sabtu (10/1/2026).

Dia menjelaskan, sebagian besar korban sempat mendapat penanganan awal di lokasi sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan.

“Yang dari sini sekitar 92, karena kondisinya harus lebih lanjut maka kami kirim, termasuk yang ke (RSUD) Soekandar. Tapi ini masih kami dalami lagi ya, untuk pastinya. Data awalnya 152, nanti kepastiannya kami cocokkan lagi dengan kepolisian,” ujarnya.

Terkait kejadian itu, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga terkait kasus tersebut juga akan dihentikan sementara.

“Untuk yang ini kami setop dulu ya. Kami evaluasi. Kami lihat dulu. Ini kan kami sedang melakukan investigasi,” tegasnya.

Penyelidikan itu mengarah pada SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 yang berlokasi di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, sebagai penyedia menu MBG.

SPPG tersebut menyalurkan 2.679 porsi MBG ke 20 sekolah pada, Jumat siang. Dari hasil pendataan, 7 sekolah dan 1 pondok pesantren melaporkan kejadian keracunan.

Terkait kemungkinan sanksi, Letkol Abi menegaskan akan ada tindakan tegas jika ditemukan unsur kelalaian atau pidana.

“Sanksinya nanti kami lihat. Tentunya kalau memang ada unsur kelalaian, kami sesuaikan. Kalau ada unsur pidana, otomatis harus kami proses dengan tegas sampai ke ranah pidana,” ujarnya.

Sementara itu, Dyan Anggrahini Sulistyowati Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Mojokerto menyatakan seluruh korban sudah ditangani dan dipusatkan di beberapa titik layanan kesehatan.

“Untuk penanganan, insyaallah 152 itu sudah kami tangani. Yang pertama, kami memang memusatkan penanganan itu di pondok di sini, di Pondok An-Nur, untuk memudahkan penanganan kami,” jelasnya.

Selain di Pondok An-Nur, kata Kadinkes, pelayanan medis juga dilakukan di sejumlah puskesmas.

“Ada juga di Puskesmas Pacet, Puskesmas Gondang, dan Puskesmas Kutorejo. Ada yang sempat di (Ponpes) Al-Hidayah, tapi akan kami geser ke An-Nur supaya terpusat. Kecuali yang dirujuk karena memang butuh penanganan lebih lanjut di Rumah Sakit Sukandar,” ungkapnya.

Dyan juga menegaskan, seluruh penerima MBG yang menunjukkan gejala keracuanan mulai  mual, muntah, demam langsung dilayani tanpa biaya.

Secara medis, gejala yang paling banyak ditemukan dari para korban yakni gangguan pencernaan. “Indikasi medisnya itu mual, muntah, demam, dan mohon maaf, juga diare. Itu kondisi klinis yang umum,” katanya.

Untuk memastikan penyebab keracunan itu, dinkes juga sudah mengambil sampel makanan. Dia menyebut menu MBG yang dikonsumsi saat itu adalah soto ayam.

“Sampel makanan dari bank sampel yang ada di SPBG sudah kita ambil tadi pagi. Karena setiap SPBG membagikan makanan itu ada bank sampel yang memang harus diuji,” jelasnya.

Meski demikian, dia mengatakan hasil uji laboratorium belum bisa diumumkan dalam waktu dekat. “Hasil lab baru bisa kita keluarkan paling cepat hari, Rabu (14/1/2026). Mohon waktu,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Rosidian Prasetyo Kepala Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (Korwil BGN) Mojokerto menegaskan, hingga kini pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebab pasti kejadian tersebut.

“Untuk indikasinya sampai saat ini kami masih belum tahu jelas, belum bisa menyimpulkan. Karena penyajiannya itu hari Jumat, sedangkan kejadiannya itu hari Sabtu sekitar jam sembilan pagi. Bahkan ada yang mulai Jumat malam,” katanya.

Dia menambahkan, jarak waktu antara konsumsi makanan dan munculnya gejala membuat penyebab keracunan juga belum bisa dipastikan.

“Dari jarak waktu itu kita tidak bisa menyimpulkan apakah itu murni dari makanan MBG atau ada tambahan makanan lain. Karena mohon izin, makanan itu kan maksimal dikonsumsi siang hari. Sore sampai malam kan anak-anak masih makan di rumah atau di pondok masing-masing,” ucapnya.

Rosidian menyebut, pihaknya telah melakukan pengecekan awal ke dapur SPBG pada Sabtu siang. Investigasi juga dilakukan pihak kepolisian. Hasilnya, menurut pengecekan pelaksanaan sudah dilakukan sesuai SOP dan juknis yang ditentukan BGN.

“Relawan juga melaksanakan SOP-nya dengan baik,” katanya.

Meski demikian, evaluasi menyeluruh tetap akan dilakukan. Kata Rosidian, pihaknya akan menunggu lebih dulu hasil lab dari dinkes dan kepolisian.(bil/rid)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Mengenal Kamaz, Truk Pekerja yang Mendunia Berkat Rally Dakar
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Menhan Jepang Unjuk Aksi di Latihan Militer Tahun Baru
• 9 jam laludetik.com
thumb
Wakil Ketua MPR Dorong Implementasi PP Tunas untuk Atasi Lonjakan Kekerasan Anak di Ruang Digital
• 21 jam lalupantau.com
thumb
DPRD Jabar: Kendaraan Listrik Gerus PAD, APBD Masih Bergantung PKB
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
KPK Duga Pegawai KPP Tersangka Pengemplangan Pajak Juga Berikan Diskon ke Perusahaan Lain
• 11 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.