Banyumas - Ketika sebuah toko roti di ruas jalan Purwokerto mulai tutup dan lampu etalase dipadamkan, aktivitas di tempat itu belum sepenuhnya berhenti. Tak lama setelah jam operasional berakhir, seorang pria tua mulai mendorong gerobak kecil ke depan toko dengan semangat yang tak ikut pulang bersama siang dan di sanalah malamnya bermula.
Pria itu adalah Pak Warsito (48), penjual roti yang telah lama bekerja di Roti Go, toko roti yang berdiri sejak Tahun 1898 dan menjadi bagian dari denyut lama kota Purwokerto. “ Saya sudah bekerja disini dari Januari tahun 1999, sekitar 26 tahun yang lalu, melanjutkan bapak saya yang sudah pensiun” Ujar pak warsito.
Setiap hari, toko itu beroperasi mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, menjadi bagian dari hiruk aktivitas siang kota. Namun Ketika pintu toko ditutup dan keramaian mulai mereda, Pak Warsito justru baru memulai babak lain. Ia datang pada malam hari untuk menyiapkan gerobak sederhananya, melanjutkan aktivitas berjualan Roti tersebut secara mandiri.
Gerobak malam itu bukan usaha baru yang terpisah, melainkan cara Pak Warsito menyesuaikan diri dengan waktu dan kebutuhan kota. Ia tetap setia menemani roti roti tersebut menyasar pembeli yang pulang larut atau sekadar mencari camilan di malam hari. Lampu kecil di gerobaknya menyala tenang, menemani jalanan yang mulai lengang.
“Kalau toko sudah tutup, saya lanjut jualan sendiri diluar toko pakai gerobak ini, biasanya orang-orang nyari yang masih buka malam buat temen ngemil ” katanya.
Malam bagi penjual roti itu bukan sekadar peralihan waktu, melainkan bagian dari rutinitas panjang yang telah ia jalani bertahun-tahun. Gerobak itu ia jaga sejak pukul 19.00 malam hingga pagi menjelang, bahkan hingga toko kembali membuka pintunya. Dalam rentang waktu yang panjang itu, ia setia menunggu, dan melayani, sementara kota perlahan tertidur dan kembali terbangun.
Selama bertahun-tahun menjaga gerobak malam, Pak Warsito tidak hanya mengenal wajah para pembelinya, tetapi juga cerita hidup mereka. Banyak pelanggan yang datang berulang, hingga hubungan tak lagi sebatas penjual dan pembeli. “Sudah seperti saudara sendiri,” katanya singkat. Sapaan akrab dan obrolan ringan sering menemani transaksi sederhana di tepi jalan itu.
Namun bekerja di malam hari tak selalu berjalan mulus. Rasa lelah kerap datang tanpa aba-aba. Tak jarang tubuhnya terasa pusing dan kantuk menyerang, namun pekerjaan tetap harus dijalani. Pernah suatu malam, ia tertidur sejenak dan mendapati ponselnya hilang. Di kesempatan lain, uang palsu juga beberapa kali ia terima, dan sebagai penjaga gerobak, tanggung jawab itu harus ia tanggung sendiri.
Meski demikian, Pak Warsito tak pernah menjadikan kejadian-kejadian itu sebagai alasan untuk berhenti. Baginya, bekerja adalah cara untuk menjaga kehidupan tetap berjalan. Dari gerobak malam itulah ia menghidupi istri dan anak-anaknya.
Dari puluhan tahun bekerja, Pak Warsito mengaku banyak belajar tentang kesabaran dan keikhlasan. Ia paham, tak semua hari mendatangkan keuntungan. Ada kalanya roti dibeli, ada pula yang diambil tanpa kembali. “Namanya juga rezeki,” ujarnya pelan. Ia memilih ikhlas, seperti caranya menerima dan belajar hari demi hari.
Di bawah lampu kecil gerobaknya, Pak Warsito terus menjemput rezeki di pengujung hari. Harapannya sederhana tetap konsisten, tetap bertanggung jawab, dan terus bekerja dengan jujur. Selama gerobak itu masih bisa ia dorong dan roti masih bisa ia jaga, malam Purwokerto akan selalu memiliki satu cahaya kecil yang setia menyala.



