Harga saham emiten Grup Bakrie, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melonjak 76,86% dalam satu bulan terakhir. Saat ini, saham kontraktor tambang tersebut telah menyentuh level 810 dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 32,95 triliun.
Kinerja tersebut mendorong DEWA diproyeksikan menjadi penghuni indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada periode Februari 2026.
UOB Kay Hian menilai DEWA saat ini berada pada titik balik perbaikan kinerja operasional. Perbaikan tersebut tercermin dari peningkatan efisiensi, margin dan pendapatan perseroan seiring dengan penyelesaian peningkatan armada internal.
Sejalan dengan prospek tersebut, UOB Kay Hian menaikkan target harga saham DEWA menjadi Rp 1.500 per saham dari sebelumnya Rp 800. Peningkatan rekomendasi ini didukung oleh perbaikan fundamental perseroan. Valuasi tersebut mencerminkan rasio 23 kali EV/EBITDA tahun 2026 secara penuh.
“Risiko eksekusi yang lebih rendah, optimalisasi neraca, alokasi modal yang disiplin, dan opsi tembaga yang sedang berkembang mendukung rekomendasi beli kami dan target harga sebesar Rp1.500, dengan ruang untuk peningkatan peringkat lebih lanjut seiring dengan terus berjalannya eksekusi,” tulis UOB Kay Hian dalam riset yang dikutip Senin (12/1).
Sekuritas ini menilai, peningkatan kapasitas alat berat internal menjadi pendorong utama ekspansi margin DEWA, seiring pergeseran dari penggunaan subkontraktor ke armada dan kapabilitas internal.
Pada 2025, konversi internal masih bersifat parsial karena transisi dilakukan bertahap sepanjang tahun. Manajemen menargetkan pemanfaatan penuh armada internal tanpa subkontraktor pada satu proyek utama pada kuartal pertama 2026, sehingga proyek tersebut sepenuhnya menggunakan armada internal pada Maret 2026.
Kapasitas operasional DEWA juga meningkat signifikan. Kapasitas tahunan yang sebelumnya sekitar 60 juta bank cubic meter (BCM) diproyeksikan naik menjadi sekitar 125 juta BCM pada 2025. Pada 2026, kapasitas diperkirakan mencapai sekitar 160 juta BCM dari proyek-proyek eksisting, belum termasuk kontribusi proyek baru.
Selain batu bara, prospek jangka menengah DEWA juga didukung oleh pengembangan portofolio emas dan tembaga melalui anak usaha Gayo Mineral. UOB Kay Hian menilai terdapat peluang peningkatan nilai seiring dengan potensi pencapaian proyek, termasuk kemungkinan akan adanya temuan sumber daya yang lain.
DEWA juga berencana melakukan diversifikasi ke mineral lain, seperti nikel dan bauksit, seiring besarnya potensi sumber daya non-batu bara di Indonesia dan penjajakan awal dengan calon pelanggan.
Adapun katalis positif bagi harga saham DEWA meliputi perbaikan kinerja operasional seiring normalisasi cuaca dan penambahan armada, penyelesaian awal kesepakatan subkontrak dengan PT United Tractors Tbk (UNTR) untuk menekan biaya mulai akhir 2026, potensi kontrak baru dari tambang lain, serta perkembangan proyek emas dan tembaga di bawah Gayo Mineral.
Proyeksi Kinerja Keuangan DEWAUOB Kay Hian memproyeksikan pendapatan DEWA tumbuh 105% secara tahunan (yoy) pada 2026 dan 69% yoy pada 2027. Menurut UOB Kay Hian, proyeksi tersebut ditopang oleh peningkatan volume produksi internal.
Volume pemindahan lapisan tanah penutup (overburden) diperkirakan naik menjadi 146 juta BCM pada 2026 dan 209 juta BCM pada 2027. Dengan asumsi tersebut, pendapatan DEWA diproyeksikan mencapai Rp 758 miliar pada 2026 dan Rp 1,28 triliun pada 2027.
Seiring dengan potensi proyeksi positif kinerja keuangan DEWA, hal ini memberi kisi-kisi bahwa DEWA akan membagikan dividen. Perseroan tengah bekerja sama dengan regulator dalam inisiatif pengurangan selisih kurs valuta asing untuk mengompensasi kerugian kumulatif dari penyesuaian kurs yang belum terealisasi. Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang dividen di masa mendatang, tergantung persetujuan regulator dan auditor.
Meski demikian, UOB Kay Hian mencatat sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, antara lain potensi penurunan margin keuntungan, cuaca buruk, serta keterlambatan pelaksanaan proyek.
“Kami terus memandang DEWA sebagai investasi jangka panjang yang menarik, didukung oleh pemulihan operasionalnya, CAGR EBITDA enam tahun yang kuat sebesar 39,6% pada periode 2024-30, dan potensi peningkatan dari segmen tembaga, yang tetap belum diperhitungkan dalam skenario dasar kami,” katanya.
Aksi Korporasi DEWA, Buyback Saham hingga Fasilitas KreditDari sisi aksi korporasi, DEWA telah melakukan pembelian kembali saham (buyback) sebanyak 790,69 juta lembar. Aksi tersebut terdiri dari 372,09 juta lembar saham yang dibeli pada harga Rp 430 pada 10 Desember 2025 dan 418,60 juta lembar saham pada harga Rp 645 pada 6 Januari 2026.
Total dana yang terserap mencapai Rp 429,99 miliar, dengan sisa dana sebesar Rp 520,01 miliar dari alokasi awal Rp 950 miliar. Manajemen menilai buyback ini mencerminkan keyakinan bahwa lonjakan harga saham didukung oleh perbaikan fundamental, bukan semata spekulasi jangka pendek.
Selain itu, perseroan juga telah mengamankan fasilitas kredit senilai Rp 5 triliun dari konsorsium perbankan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Dana ini akan digunakan untuk pembelian alat berat, belanja modal serta operasional proyek. Manajemen juga membuka opsi pendanaan tambahan, termasuk potensi penerbitan obligasi, untuk mendukung ekspansi ke depan.



