FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Salah satu tersangka dalam laporan Presiden ke-7 RI Jokowi di Polda Metro Jaya, Rizal Fadillah, bicara panjang lebar menanggapi langkah Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis yang mendadak berkunjung ke Solo.
Kunjungan tersebut bahkan disebut-sebut diwarnai permintaan maaf dan pengampunan.
Rizal mengatakan, langkah Eggy Sudjana mendatangi Jokowi justru menempatkan dirinya pada posisi sulit dan berdampak serius terhadap kepercayaan publik.
“Nampaknya Bang Eggy Sudjana berada di simpang jalan. Langkah mendatangi kediaman Jokowi berdampak di luar dugaan,” ujar Rizal kepada fajar.co.id, Senin (12/1/2026).
Ia menuturkan bahwa peristiwa tersebut berpotensi meruntuhkan reputasi yang selama ini dibangun. Bahkan, menurutnya, berbagai rahasia mulai terkuak seiring merebaknya pemberitaan.
“Anjlok kepercayaan publik dan sangat mengancam bagi reputasi ke depan. Rahasia sedikit demi sedikit terkuak dengan sendirinya,” ucapnya.
Rizal menyebut, upaya menjadikan pertemuan itu sebagai agenda tertutup mustahil dipertahankan. Ia meyakini informasi tersebut pasti akan bocor, baik disengaja maupun tidak.
“Komitmen sebagai pertemuan rahasia tidak mungkin dipertahankan atau dijalankan konsisten. Ia pasti bocor atau dibocorkan demi kepentingan pragmatis,” kata Rizal.
Lanjut Rizal, masifnya penyebaran informasi tak lepas dari naluri jurnalisme yang cepat menangkap peristiwa bernilai berita. Sesuatu yang awalnya dianggap biasa justru berubah menjadi sorotan besar.
“Naluri jurnalis yang selalu penasaran dan cepat dalam memburu berita menyebabkan masifnya informasi tersebar. Peristiwa ini yang mungkin awalnya dianggap sumier tetapi kini menjadi istimewa,” imbuhnya.
Ia kemudian menyinggung fakta bahwa Eggy Sudjana sebelumnya dikenal sebagai salah satu tokoh yang ikut memelopori upaya membongkar dugaan ijazah palsu Jokowi.
“Bagaimana tidak, Eggy Sudjana yang awal boleh disebut ikut mempelopori perjuangan membongkar ijazah palsu Jokowi, tiba-tiba nyelonong menemui Jokowi di rumahnya,” katanya.
Rizal menaruh perhatiannya pada kabar adanya suasana haru dalam pertemuan tersebut, termasuk isu saling memaafkan dan pelukan.
“Konon ada maaf-maafan dan pelukan haru disana. Perlu konfrontir dengan kesaksian termul. Bila benar, memang dramatis dan ironis,” sesalnya.
Meski Eggy disebut kembali mengambil posisi sebagai Ketua TPUA, Rizal menegaskan pertemuan itu bersifat personal dan tidak pernah dibahas dalam struktur organisasi.
“Meski telah mengambil alih kembali kedudukan sebagai Ketua TPUA tetapi dipastikan pertemuan tersebut bersifat pribadi. Tidak ada kesepakatan para pengurus TPUA. Eggy dan DHL adalah sama-sama tersangka atas kasus laporan Jokowi,” tegasnya.
Rizal juga menuturkan bahwa narasi pemaafan yang sebelumnya disampaikan Jokowi justru berpotensi menjadi jebakan politik.
“Narasi pemaafan yang ditebar Jokowi sebelumnya bagaikan jala yang dilempar. Membuat ikan yang terperangkap menggelepar lalu segera dibakar,” terangnya.
Ia menggambarkan Jokowi sebagai sosok yang piawai memainkan strategi politik dan relasi kekuasaan.
“Jokowi biasa membuat orang lain kelimpungan oleh ulahnya apakah pejabat, aparat, pimpinan ormas, partai politik, juga Presiden. Aktivis pun tidak terkecuali,” Rizal menuturkan.
Bahkan, Rizal menyebut Jokowi memiliki kemampuan memecah belah dan menjebak lawan-lawan politiknya.
“Ia dikenal sebagai tokoh yang jago pecah belah, jebak dan jerat. Tampilan sederhana namun berbahaya,” timpalnya.
Ia mempertanyakan apakah Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis sadar akan risiko langkah tersebut atau justru terjebak.
“Apakah Eggi Sudjana dan DHL itu masuk jebakan atau memang silaturahmi berbasis kesadaran? Perlu klarifikasi cepat,” katanya.
Menurut Rizal, lambannya klarifikasi justru memperparah situasi dan memicu spekulasi liar di tengah publik.
“Jika satu minggu baru akan dilakukan klarifikasi resmi, maka itu artinya sangat lambat. Guliran kecurigaan, gunjingan, bahkan penghukuman sudah menggumpal,” bebernya.
Ia menilai kepercayaan publik sulit dipulihkan hanya dengan pernyataan singkat yang disampaikan terlambat.
“Sulit memulihkan kepercayaan dengan secarik klarifikasi yang berlama-lama. Prinsipnya adalah bahwa pertemuan di rumah Jokowi itu memang blunder atau salah besar,” tegasnya.
Lanjut dia, Eggy dan Damai berada di persimpangan jalan yang menentukan. Jika memilih berdamai dan menghentikan perjuangan membongkar dugaan ijazah palsu, maka cap pengkhianat akan melekat.
“Persimpangan jalannya yaitu jika membenarkan dan membuat perdamaian atas kasus ijazah palsu Jokowi, bahkan ditindaklanjuti dengan mekanisme hukum untuk menolong ES dan DHL, maka sebutan pengkhianat menjadi wajar dan harus diterima sebagai konsekuensi,” imbuhnya.
Namun jika tetap melawan Jokowi, Rizal memprediksi tekanan balik akan semakin keras.
“Akan tetapi jika tetap mendeklarasikan untuk melawan Jokowi pasca pertemuan, maka pembalasan Jokowi dengan ‘squad’ nya akan semakin keras. Boss mafia itu merasa dipermainkan. Apalagi jika sudah ada kompensasi,” lanjut Rizal.
Ia menegaskan publik membutuhkan sikap tegas dan kejelasan posisi dari kedua tokoh tersebut.
“Publik perlu ketegasan ada dimana kedua tokoh ini?” kata Rizal. Maka pemulihan kepercayaan butuh enerji ekstra yang tidak cukup dengan sekedar postingan ayat. Agenda dan implementasi harus konsisten,” tandasnya.
Rizal bilang, kepentingan bangsa dan umat harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi.
“Mutlak mengesampingkan kepentingan atau keselamatan pribadi dan keluarga. Rakyat, bangsa, umat, khususnya agama harus didahulukan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah pembuktian dugaan ijazah palsu Jokowi.
“Saat ini kepentingan utama bangsa adalah membuktikan bahwa ijazah Jokowi itu palsu. Perlu fokus dan perjuangan keras untuk hal ini,” kuncinya.
(Muhsin/fajar)



