FAJAR, SURABAYA — Bursa transfer paruh musim jarang bergerak lewat pernyataan resmi. Ia lebih sering berbicara lewat isyarat: unggahan singkat, gestur kecil, bahkan satu emoji di kolom komentar. Dalam lanskap seperti itu, dua nama kembali beredar dan mulai dikaitkan dengan Liga Indonesia: Matheus Pato dan Carlos Fortes.
Persebaya Surabaya menjadi titik awal percakapan. Setelah menetapkan arah proyek bersama Bernardo Tavares, Green Force bergerak tanpa gaduh. Tidak agresif di ruang publik, namun cukup jelas dalam pesan. Masuknya Gustavo Fernandes lebih dulu di lini belakang menjadi sinyal awal: Persebaya sedang membangun ulang fondasi, bukan sekadar menempelkan kepingan lama.
Pilihan terhadap Gustavo—bek tengah Brasil berusia 26 tahun dengan pengalaman di Liga Portugal 2—menegaskan satu hal penting. Bernardo Tavares tidak datang membawa nostalgia, melainkan filosofi. Sejak awal, publik berspekulasi bahwa ia akan mengangkut kembali pemain-pemain kepercayaannya dari Makassar. Namun yang terjadi justru sebaliknya: Bernardo memilih profil, bukan relasi.
Jika Gustavo merepresentasikan pendekatan rasional di lini belakang, maka Matheus Pato hadir sebagai cerita yang tumbuh organik—tanpa rilis resmi, tanpa bocoran agen, tanpa konferensi pers.
Satu emoji tepuk tangan di kolom komentar Instagram Persebaya, saat klub itu mengumumkan era baru bersama Bernardo Tavares, langsung memantik tafsir. Di tengah sensitivitas bursa transfer, gestur sesederhana itu terasa terlalu “bermakna” untuk diabaikan.
Matheus Pato bukan nama asing bagi publik Liga 1. Bersama Borneo FC, ia pernah menjadi salah satu striker paling komplet di kompetisi domestik. Bukan hanya soal gol, tetapi cara ia bekerja dalam sistem. Pergerakan tanpa bola, intensitas pressing, hingga kemampuannya membuka ruang bagi lini kedua membuat Pato berbeda dari tipikal penyerang asing instan.
Karakter itulah yang membuat namanya langsung dikaitkan dengan Bernardo Tavares.
Meski tak pernah bekerja langsung dalam satu klub, filosofi keduanya beririsan. Saat melatih PSM Makassar, Bernardo selalu menekankan bahwa penyerang adalah bagian dari struktur kolektif. Striker harus memulai pressing, ikut menutup ruang, dan memahami kapan harus mengorbankan diri demi sistem.
Pato adalah tipe penyerang seperti itu.
Namun di balik hiruk-pikuk spekulasi Persebaya, ada konteks lain yang justru lebih mendesak: PSM Makassar.
Di Makassar, situasinya berbanding terbalik. Juku Eja menutup putaran pertama dengan empat kekalahan beruntun, krisis produktivitas, dan performa lini depan yang tak lagi bisa ditutupi oleh narasi proses. Tomas Trucha telah memberi sinyal jelas: timnya membutuhkan tenaga baru di lini serang.
Masalahnya, ruang gerak manajemen PSM dibatasi oleh sanksi registration ban FIFA. Namun jika sanksi itu mampu diselesaikan lebih cepat, kebutuhan akan penyerang berpengalaman menjadi urgensi, bukan pilihan.
Di titik inilah nama Carlos Fortes kembali relevan.
Fortes bukan sosok asing di Liga Indonesia. Ia pernah mencetak 10 gol bersama PSIS Semarang dan 20 gol bersama Arema FC, menjadikannya salah satu striker paling produktif dalam beberapa musim terakhir. Secara profil, Fortes adalah target man klasik: kuat dalam duel, efektif dalam bola mati, dan memiliki insting gol yang tajam di kotak penalti.
Terbaru, Fortes resmi berpamitan dengan klubnya, SZ Dongwu, usai musim 2025 berakhir. Unggahan perpisahan di Instagram pribadinya pada Jumat (2/1/2026) menjadi sinyal klasik: pintu menuju klub baru terbuka.
Bagi PSM Makassar, Fortes adalah solusi instan jika embargo FIFA dicabut. Pengalaman dan rekam jejak golnya bisa menjadi penopang stabilitas di tim yang sedang kehilangan arah. Sementara bagi Persebaya, Fortes mungkin bukan profil ideal dalam sistem Bernardo, namun tetap menjadi opsi realistis jika klub membutuhkan alternatif striker berpengalaman.
Dua nama, dua jalur, satu benang merah: kebutuhan klub untuk berani mengambil keputusan.
Bagi PSM Makassar, isu ini bukan lagi soal rumor transfer, melainkan ujian keseriusan manajemen dalam menjawab kebutuhan pelatih. Tomas Trucha sudah bicara soal perubahan. Kini giliran manajemen membuktikan apakah perubahan itu akan didukung, atau dibiarkan menjadi wacana.
Di bursa transfer, tak semua cerita dimulai dari meja negosiasi. Sebagian lahir dari tanda-tanda halus. Musim ini, Liga 1 kembali belajar membaca isyarat—dan bagi PSM Makassar, waktunya bukan sekadar membaca, tetapi bertindak.



