Emiten di bawah Grup Bakrie disebut berpeluang masuk dalam jajaran saham di indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menyusul PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang lebih dulu masuk dalam indeks bergengsi asal Amerika Serikat tersebut.
Berdasarkan informasi dari analis berbagai sekuritas, saham Grup Bakrie berikutnya yang berpeluang masuk dalam indeks MSCI pada periode Februari 2025 adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi menilai, BUMI menjadi kandidat dengan probabilitas tertinggi untuk masuk ke MSCI Indonesia Standard Index. Dari sisi ukuran, kapitalisasi pasar BUMI telah melampaui ambang batas minimum MSCI untuk kategori standard cap. Harga sahamnya pun sudah berada di atas estimasi batas cut-off MSCI.
Pada perdagangan hari ini secara intraday, Senin (12/1) pukul 11/08 WIB, harga saham BUMI berada di level 462 per saham, melesat 233,33% dalam tiga bulan terakhir.
Selain itu, status BUMI yang saat ini telah tercatat sebagai konstituen MSCI Indonesia Small Cap Index serta bagian dari MSCI Investable Market Indexes (IMI) membuat transisi ke kategori standard cap dinilai lebih natural secara metodologi.
Imam juga menyebutkan, kenaikan harga saham BUMI yang cukup agresif dalam beberapa bulan terakhir masih berada dalam batas toleransi MSCI, selama tidak terjadi lonjakan ekstrem menjelang periode cut-off.
“Dengan free folat yang relatif memadai dan likuiditas transaksi yang tinggi, penggunaan data KSEI justru memperkuat visibilitas BUMI dari perspektif MSCI,” kata Imam, dikutip Senin (12/1).
Free float merupakan porsi saham perusahaan yang beredar dan dapat diperdagangkan secara bebas oleh publik.
Sementara itu, Samuel Sekuritas Indonesia meramal saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berpeluang masuk sebagai konstituen MSCI Big Cap. Analis Samuel menilai masuknya ENRG ke indeks tersebut berpotensi memberikan sentimen positif lanjutan terhadap pergerakan harga saham.
Broker ini kemudian menetapkan target harga tertinggi terhadap saham ENRG ke level 2.300 per saham.
“Kami menegaskan kembali rekomendasi beli dan menaikkan target harga menjadi Rp 2.300 dari sebelumnya Rp 650,” tulis Samuel Sekuritas dalam risetnya yang dikutip Senin (12/1).
Samuel Sekuritas menyebut, kenaikan target harga tersebut didorong oleh peningkatan proyeksi laba serta potensi pemeringkatan ulang MSCI. Mereka menaikkan estimasi laba bersih penuh tahun 2027 sebesar 54,1% untuk mencerminkan temuan dan aktivitas eksplorasi terbaru perseroan.
Menguatnya saham-saham Grup Bakrie ke panggung global ini mengikuti jejak emiten-emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu yang hampir seluruhnya telah menghuni indeks MSCI.
Pada periode November 2025, emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), masuk ke MSCI Global Standard Index. Sebelumnya, pada rebalancing Agustus 2025, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga masuk ke MSCI Global Standard Indexes, disusul PT Petrosea Tbk (PTRO) yang menjadi konstituen MSCI Small Cap Indexes.
Selain itu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) telah lebih dulu tercatat dalam MSCI Global Standard Index. Saat ini, emiten infrastruktur PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) menjadi satu-satunya entitas dalam grup tersebut yang belum masuk ke indeks MSCI.
MSCI Jajaki Penggunaan Data KSEI dalam Perhitungan Free FloatDi sisi lain, MSCI tengah menjajaki penggunaan data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dalam perhitungan free float saham emiten Indonesia. MSCI membuka masukan dari pelaku pasar terkait rencana pemanfaatan Monthly Holding Composition Report yang diterbitkan KSEI sebagai referensi tambahan.
Selama ini, emiten di Indonesia hanya diwajibkan melaporkan kepemilikan saham sebesar 5% atau lebih kepada BEI. Padahal, data KSEI mencakup kepemilikan di bawah 5% serta klasifikasi jenis pemegang saham, sehingga dinilai dapat memberikan gambaran struktur kepemilikan yang lebih detail dan akurat.
MSCI mengusulkan agar estimasi free float ditetapkan berdasarkan nilai terendah dari dua perhitungan, yakni free float berdasarkan keterbukaan informasi emiten sesuai metodologi MSCI dan free float yang diestimasi menggunakan data KSEI dengan mengklasifikasikan saham script serta kepemilikan korporasi sebagai non-free float.
Sebagai alternatif, MSCI juga mempertimbangkan pendekatan lain dengan tetap menggunakan data KSEI, namun tanpa memasukkan kategori kepemilikan “others” dalam klasifikasi non free float.
Periode konsultasi atas usulan tersebut akan dibuka hingga 31 Desember 2025, dengan hasil yang dijadwalkan diumumkan sebelum 30 Januari 2026. Jika disetujui, perubahan metodologi tersebut akan mulai diterapkan pada peninjauan indeks MSCI Mei 2026 mendatang.



