EtIndonesia. Situasi politik dan keamanan di Iran memasuki fase paling genting dalam beberapa dekade terakhir. Sejak awal Januari 2026, gelombang aksi protes anti-rezim meningkat tajam dan kini dilaporkan telah meluas ke lebih dari 100 kota di seluruh negeri. Demonstrasi berskala nasional ini diwarnai bentrokan keras, penindasan berdarah aparat keamanan, serta tanda-tanda awal runtuhnya kendali negara atas institusi keamanan dan keuangan.
Represi Berdarah dan Jebolnya Aparat Keamanan
Pada 8 Januari 2026, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan menembaki massa demonstran di wilayah Fardis, menggunakan senapan mesin. Insiden ini menyebabkan puluhan korban jiwa, meskipun angka resmi belum dirilis pemerintah.
Sehari berselang, 9 Januari 2026, situasi kian memburuk. Warga dilaporkan menduduki Kantor Polisi Kriminal Babol serta Kantor Polisi Sektor 12 dan 13, dan berhasil menyita lebih dari 500 pucuk senjata api. Di kawasan elit Sa’adat Abad, Teheran, ribuan demonstran turun ke jalan tanpa perlawanan berarti dari aparat keamanan, sambil mengibarkan bendera Singa dan Matahari—simbol Iran pra-Revolusi 1979.
Beberapa laporan menyebut massa bahkan sempat menerobos kawasan hunian Pemimpin Tertinggi, menandai melemahnya kontrol keamanan di jantung kekuasaan.
Elite Politik Diduga Bersiap Pergi
Tekanan politik internal turut memicu kepanikan di kalangan elite. Sejumlah media Eropa, termasuk Le Figaro, melaporkan adanya perundingan internal tertutup dengan salah satu skenario utama: Ali Khamenei meninggalkan Iran demi menjaga kesinambungan rezim.
Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dikabarkan telah mengurus visa melalui pengacara di Paris. Kerabat mantan Presiden Hassan Rouhani juga disebut melakukan langkah serupa. Sumber diplomatik menyebut pejabat Iran menggunakan jalur perantara Oman untuk menghubungi otoritas Prancis demi pengurusan visa keluarga.
Paralel dengan itu, beredar informasi bahwa sejumlah besar emas tengah dipindahkan ke luar negeri menggunakan pesawat kargo Rusia, memperkuat dugaan persiapan pelarian elite rezim.
Krisis Keuangan dan Penarikan Dana Massal
Kepanikan melanda sektor keuangan. Media Iran Manoto melaporkan bahwa Bank Nasional Iran, bank terbesar di negara itu, mengalami penarikan dana besar-besaran, hingga terpaksa menghentikan layanan penarikan tunai di sejumlah cabang. Dugaan kuat mengarah pada pemindahan dana dalam jumlah sangat besar oleh kalangan elite dan pejabat tinggi.
Langkah AS: Sinyal Militer Muncul ke Permukaan
Di tengah kekacauan domestik Iran, pergerakan militer Amerika Serikat mulai menarik perhatian dunia. Pada 9 Januari 2026, pesawat Boeing 747 E-4B Nightwatch—dikenal luas sebagai “pesawat hari kiamat”—terpantau melakukan patroli malam hari. Ini merupakan kemunculan publik pertama dalam 51 tahun sejarah operasional pesawat tersebut.
Pesawat E-4B lepas landas dari Bandara Los Angeles sekitar pukul 14.30 waktu Pasifik, disertai pesawat angkut militer C-17 Globemaster III. Pemerintah AS belum memberikan penjelasan resmi, namun kemunculan ini dipandang sebagai sinyal strategis tingkat tinggi.
Pesawat E-4B merupakan pusat komando udara AS untuk skenario perang nuklir atau krisis nasional. Pesawat ini dirancang tahan pulsa elektromagnetik, gelombang kejut nuklir, serta mampu menjalankan misi lebih dari tujuh hari nonstop, dengan dukungan pengisian bahan bakar di udara. Sistem komunikasinya mencakup antena tarik sepanjang lima mil untuk komunikasi dengan kapal selam nuklir, dan mampu menampung hingga 112 personel komando.
Pernyataan Trump dan Aktivitas Militer Tambahan
Sekitar pukul 16.30 waktu Pantai Timur AS, Donald Trump menyampaikan pernyataan tegas: “Iran sedang menghadapi masalah besar. Jika mereka kembali membantai rakyatnya seperti sebelumnya, kami akan terlibat.”
Selain itu, analis militer di platform X melaporkan sebuah pesawat pengisian bahan bakar KC-135 lepas landas dari Pangkalan Udara Al Udeid, melintasi Teluk Persia dan Irak dalam misi yang tidak diumumkan—ditafsirkan sebagai peningkatan kesiapan operasi udara AS.
Perang Informasi dan Reaksi Global
Kelompok peretas Anonymous pada 9 Januari sore mengumumkan peluncuran “Operasi Iran”, sebagai respons atas pemblokiran internet dan penindasan brutal aparat. Sementara itu, platform X dilaporkan mengganti emoji bendera Iran dengan simbol Singa dan Matahari—sebuah langkah simbolik yang menuai perhatian luas.
Saluran televisi Israel Channel 12 melaporkan badan intelijen Israel kini merevisi penilaian sebelumnya dan menganggap demonstrasi berpotensi menjatuhkan rezim.
Seruan Reza Pahlavi dan Ancaman Mogok Nasional
Aliansi Nasional Demokrasi Iran menyatakan bahwa Reza Pahlavi tengah mempersiapkan langkah untuk kembali ke Iran. Ia menyerukan mogok kerja nasional lintas sektor dan menyampaikan pesan keras:
“Jika rezim memutus internet, maka kita harus memutus sumber pendapatan mereka.”
Seruan tersebut memicu gaung luas, dengan banyak demonstran meneriakkan “Hidup Raja!”, menandai harapan akan perubahan politik besar di Iran.
Kesimpulan
Iran kini berada di titik kritis sejarahnya. Kombinasi protes nasional, retaknya aparat keamanan, kepanikan elite, krisis keuangan, serta sinyal militer Amerika Serikat menempatkan kawasan Timur Tengah—dan dunia—di ambang eskalasi besar. Apakah ini akan berujung pada perubahan rezim atau konflik internasional terbuka, masih menjadi pertanyaan yang membuat dunia menahan napas. (***)




