Bisnis.com, JAKARTA — Sektor perbankan BUMN atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) diyakini mencatatkan akselerasi kinerja pada 2026. Perbaikan basis likuiditas dan efisiensi biaya dana menjadi katalis utama.
Laporan Danantara Indonesia Economic Outlook 2026 menyebutkan bahwa setelah melewati tahun pemulihan pada 2025, emiten perbankan negara kini dinilai dalam posisi strategis untuk meningkatkan kualitas laba. Hal tersebut seiring dengan penurunan biaya dana dan perbaikan pertumbuhan kredit.
Sementara itu, fokus investor dinilai telah bergeser dari risiko eksistensial ke arah kualitas laba Himbara dan alokasi modal di bawah kerangka kebijakan.
Anggota Himbara diketahui meliputi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN).
“Tahun 2026 diproyeksikan membawa perbaikan basis likuiditas, pertumbuhan kredit, dan kinerja laba yang ditopang oleh disiplin rasio biaya terhadap pendapatan yang lebih kuat,” tulis Danantara, dikutip Senin (12/1/2026).
Di sisi lain, berdasarkan pemberitaan Bisnis, laba bersih tiga bank jumbo yakni BBRI, BMRI, dan BBNI menunjukkan penurunan per November 2025.
Laba BBRI tercatat mencapai Rp45,44 triliun per November 2025, turun 9,12% year on year (YoY). Sementara itu, BMRI meraih laba Rp44,14 triliun atau turun 6,41% YoY dan laba BBNI susut 6,01% YoY menjadi Rp18,62 triliun.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede mengatakan penurunan laba bank pada dasarnya disebabkan oleh kombinasi tiga faktor, yaitu pendapatan inti melambat, biaya dana naik sehingga margin bunga menyempit, dan beban kerugian penurunan nilai kredit meningkat.
Kombinasi ini, lanjut dia, cenderung lebih terasa karena porsi pembiayaan ke segmen prioritas pemerintah lebih besar, terutama UMKM dan Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang secara alami memiliki biaya operasional lebih tinggi dan lebih sensitif saat daya beli melemah atau kualitas portofolio menurun.
“Sampai akhir 2025, bank-bank BUMN kemungkinan tetap menutup tahun dengan laba besar tetapi komposisi labanya cenderung lebih hati-hati dan pertumbuhannya tidak setinggi fase ekspansi kredit yang lebih agresif,” tutur Josua saat dihubungi Bisnis pada Selasa (6/1/2026).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




