Elon Musk Ubah Emoji Bendera Iran di X Jadi Bergambar Singa di Tengah Protes

katadata.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Platform media sosial X milik Elon Musk mengubah emoji bendera Iran menjadi versi lama bergambar singa dan matahari. Perubahan ini terjadi di tengah gelombang protes di Iran yang menuntut pergantian rezim, yang telah memasuki hari ke-14 pada Sabtu (10/1).

Emoji bendera Republik Islam Iran yang sebelumnya digunakan di X kini tidak lagi menampilkan simbol resmi negara pasca-Revolusi Islam 1979 saat masa pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai gantinya, yang muncul adalah bendera nasional Iran era pra-revolusi dengan lambang singa dan matahari, yakni simbol yang digunakan sebelum tumbangnya rezim Shah dan naiknya pemerintahan Ayatollah.

Melansir New York Post (10/1), perubahan ini bermula dari permintaan seorang pengguna media sosial yang menghubungi Kepala Produk X, Nikita Bear, serta Elon Musk pada Kamis (8/9) lalu.

Pengguna tersebut meminta agar emoji bendera Iran diubah. Bear merespons pada hari yang sama dengan mengatakan, “beri saya beberapa jam.”

Sehari kemudian, Bear kembali menulis bahwa proses perubahan sedang berjalan dan diperkirakan akan aktif pada Sabtu di versi web. Tak lama setelah itu, emoji bendera Iran bergambar singa dan matahari resmi muncul di platform X.

Dampak perubahan ini langsung terasa pada akun-akun resmi pemerintah Iran. Untuk sementara waktu, akun resmi Republik Islam Iran, termasuk milik Kementerian Luar Negeri, terlihat menampilkan emoji bendera singa dan matahari di samping nama akun mereka.

Namun, tak berselang lama, akun-akun tersebut memilih menghapus emoji bendera sama sekali dari profil mereka.

Bendera Iran era Shah dengan lambang singa dan matahari belakangan kembali muncul sebagai simbol perlawanan. Di tengah krisis ekonomi dan tekanan politik yang semakin berat, warga Iran turun ke jalan memprotes pemerintahan Ayatollah yang dinilai represif.

Dalam sejumlah aksi demonstrasi, bendera lama tersebut dikibarkan sebagai bentuk penolakan terhadap simbol dan legitimasi Republik Islam Iran.

Gelombang Protes Iran

Sebelumnya, gelombang protes Iran memanas di awal tahun ini. Aksi demonstrasi yang telah berlangsung lebih dari dua pekan ini dipicu oleh keresahan sosial, tekanan ekonomi, serta kemarahan publik terhadap pemerintahan ulama yang dipimpin Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Dalam pidatonya pada Jumat (9/1), Khamenei menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan mundur menghadapi demonstrasi. Ia menyebut para pengunjuk rasa sebagai “perusak” dan “penyabotase”, serta menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik aksi-aksi tersebut. Menurutnya, demonstrasi besar-besaran itu merupakan upaya sabotase yang diilhami kekuatan asing.

“Para demonstran merusak jalanan mereka sendiri untuk menyenangkan presiden negara lain,” ujar Khamenei, merujuk pada Presiden AS Donald Trump. Ia juga menyebut tangan Trump “berlumuran darah lebih dari seribu warga Iran” dan memperingatkan bahwa pemimpin AS itu akan bernasib sama seperti Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi 1979.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump justru melontarkan peringatan keras kepada pemerintah Iran agar tidak menindak demonstran dengan kekerasan. Ia mengancam akan ada “konsekuensi berat” jika aparat Iran mulai menembaki pengunjuk rasa. Namun, Trump mengaku masih menunggu perkembangan situasi dan belum menunjukkan dukungan terbuka kepada tokoh oposisi tertentu, termasuk Reza Pahlavi.

Di lapangan, situasi dilaporkan semakin mencekam. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan massa meneriakkan slogan anti-pemerintah, membunyikan klakson, hingga membakar bangunan dan fasilitas umum. Otoritas Teheran menyebut puluhan bank, masjid, dan gedung pemerintah rusak atau terbakar akibat kerusuhan.

Kelompok hak asasi manusia melaporkan jatuhnya korban jiwa dan ribuan penahanan. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) mencatat sedikitnya 62 orang tewas, termasuk demonstran dan personel keamanan, serta lebih dari 2.300 orang ditahan. Sementara Iran Human Rights menyebut puluhan demonstran, termasuk anak-anak, tewas dan ratusan lainnya terluka.

Pemadaman internet nasional yang dilakukan pemerintah turut memicu kekhawatiran akan meningkatnya kekerasan. Para aktivis HAM menilai langkah tersebut mengingatkan pada penindakan berdarah terhadap protes 2019 dan menyerukan tekanan internasional agar pemerintah Iran menghentikan kekerasan terhadap demonstran.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemprov Bali Putar Otak, Hampir 1.200 ASN Pensiun Dalam 2 Tahun
• 19 jam lalugenpi.co
thumb
Marc Guehi Lebih Pilih Liverpool atau Arsenal, Tunda Kepindahan hingga Musim Panas
• 44 menit lalubola.com
thumb
Jadwal SIM Keliling Bandung Hari Ini 12 Januari 2026, Catat Lokasinya
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Kayu Hanyutan Pascabencana Sumatera Sudah Digunakan untuk Bangun 13 Unit Huntara
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Cuaca Buruk, 109 Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Delay Sepanjang Hari Ini
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.