Jakarta (ANTARA) - Aktris Nadya Arina dan Nasya Marcella berbagi kisah pengalaman mereka menekuni peran sebagai pramugari di maskapai AirIndo dalam film Penerbangan Terakhir.
Keduanya mengakui bahwa pekerjaan sebagai pramugari menuntut ketangguhan yang luar biasa di balik penampilan mereka yang terlihat elegan.
"Karakterku di sini bisa dibilang cukup netral sih. Aku memerankan sahabat yang baik saja yang peduli sama Tiara [tokoh utama, Nadya Arina] dan di sepanjang adegan aku banyak memberikan nasihat kepada sahabatnya, seperti selayaknya sahabat yang baik," ujar Nasya seusai pemutaran pratayang film Penerbangan Terakhir arahan sutradara Benni Setiawan di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin.
Nasya memerankan sebagai Eva, salah seorang kru kabin yang menjaga langsung kerahasiaan di balik pintu cockpit yang diisi oleh pilot, Kapten Deva Angkasa (diperankan oleh Jerome Kurnia).
Bagi Nasya, mendalami peran ini memberinya perspektif baru bahwa kecantikan seragam hanyalah satu sisi dari profesi tersebut.
Baca juga: Sutradara bersikeras masukkan dialog kunci film Penerbangan Terakhir
"Ternyata pekerjaan ini elegan sekali ya dengan seragam yang kita pakai, dengan atribut, dengan rambut, dan riasan wajah yang cantik. Selain itu juga harus kuat secara fisik dan mental ya. Kita bisa lihat kalau misalnya ternyata pramugari itu kompleks pekerjaannya, tidak cuma pakai fisik saja tapi mereka juga harus sabar. Mereka itu butuh pakai isi kepala mereka, kecerdasan, dan tentunya pasti butuh intrik-intrik dan politik sedikit untuk bisa menempatkan diri agar tidak dilahap," kata Nasya.
Sementara itu, Nadya Arina sebagai pemeran utama bernama Tiara, melakukan riset mendalam dengan bertanya langsung kepada pilot aktif mengenai detail teknis pekerjaan awak kabin.
Nadya mempelajari pembagian tugas bagi para Flight Attendant (FA) atau pramugari yang bertugas di dalam pesawat.
"Kami nanya-nanya pembagian tugasnya gimana kalau di dalam kabin, FA 1 sampai 4 itu ngapain saja. Dan biasanya yang menyiapkan makanan kalau misalnya di dalam pesawat, itu FA 1 dan FA 2," ungkap Nadya.
Nadya mengaku bahwa pengaruh seragam sangat membantu dirinya untuk mendalami peran. Saat latihan tanpa seragam, ia sempat merasa kurang meyakinkan dalam melakukan prosedur keselamatan.
"Pas kami belajar prosedur keselamatan, itu masih pakai baju bebas. Jadi rasanya seperti tidak meyakinkan jadi pramugari. Tapi untungnya karena dibantu dengan riasan dan pakaian, setelah memakainya langsung merasa menjadi salah satu kru kabin AirIndo," kata Nadya.
Baca juga: Jerome Kurnia dikira pilot asli saat syuting film Penerbangan Terakhir
Meski menikmati proses syuting, Nadya sempat berseloroh mengenai cita-citanya yang lain di luar dunia akting bukanlah menjadi seorang pramugari. "Kalau buat Nadya, jadi kerja di National Geographic kali ya," cetusnya.
Melalui perannya, Nadya selalu berharap bisa memberi pesan yang bermanfaat bagi penonton, seperti saat menjadi Tiara.
"Pesannya, kadang kita bisa menjadi orang jahat buat orang lain. Walaupun kita merasa kita tidak punya niat yang buruk terhadap orang lain, tapi mungkin kita orang jahat buat hidup orang itu," kata Nadya.
Ia menekankan bahwa meskipun mengakui kesalahan adalah hal yang sulit, seseorang harus berani mengambil keputusan untuk keluar dari situasi yang tidak sehat.
"Menurut aku untuk mengakui kesalahan kita dan mengerti bahwa situasi kita cukup buruk serta berhenti dari situ itu susah. Tidak apa-apa kalau misalnya kita dalam keadaan yang buruk, tapi kita juga harus sadar kapan kita harus menata lagi. Hidup kita masih panjang, masih banyak kesempatan, dan masih banyak cerita yang bisa kita tulis sendiri," Nadya menandaskan.
Film Penerbangan Terakhir produksi Visual Media Studio (VMS) ini dijadwalkan mulai menyapa penonton di seluruh bioskop pada 15 Januari 2026.
Baca juga: Film "GJLS: Ibuku Ibu-Ibu" hadirkan kejutan lucu untuk Nadya Arina
Baca juga: Peran dalam "Sah! Katanya" bikin Nadya Arina menyadari arti keluarga
Keduanya mengakui bahwa pekerjaan sebagai pramugari menuntut ketangguhan yang luar biasa di balik penampilan mereka yang terlihat elegan.
"Karakterku di sini bisa dibilang cukup netral sih. Aku memerankan sahabat yang baik saja yang peduli sama Tiara [tokoh utama, Nadya Arina] dan di sepanjang adegan aku banyak memberikan nasihat kepada sahabatnya, seperti selayaknya sahabat yang baik," ujar Nasya seusai pemutaran pratayang film Penerbangan Terakhir arahan sutradara Benni Setiawan di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin.
Nasya memerankan sebagai Eva, salah seorang kru kabin yang menjaga langsung kerahasiaan di balik pintu cockpit yang diisi oleh pilot, Kapten Deva Angkasa (diperankan oleh Jerome Kurnia).
Bagi Nasya, mendalami peran ini memberinya perspektif baru bahwa kecantikan seragam hanyalah satu sisi dari profesi tersebut.
Baca juga: Sutradara bersikeras masukkan dialog kunci film Penerbangan Terakhir
"Ternyata pekerjaan ini elegan sekali ya dengan seragam yang kita pakai, dengan atribut, dengan rambut, dan riasan wajah yang cantik. Selain itu juga harus kuat secara fisik dan mental ya. Kita bisa lihat kalau misalnya ternyata pramugari itu kompleks pekerjaannya, tidak cuma pakai fisik saja tapi mereka juga harus sabar. Mereka itu butuh pakai isi kepala mereka, kecerdasan, dan tentunya pasti butuh intrik-intrik dan politik sedikit untuk bisa menempatkan diri agar tidak dilahap," kata Nasya.
Sementara itu, Nadya Arina sebagai pemeran utama bernama Tiara, melakukan riset mendalam dengan bertanya langsung kepada pilot aktif mengenai detail teknis pekerjaan awak kabin.
Nadya mempelajari pembagian tugas bagi para Flight Attendant (FA) atau pramugari yang bertugas di dalam pesawat.
"Kami nanya-nanya pembagian tugasnya gimana kalau di dalam kabin, FA 1 sampai 4 itu ngapain saja. Dan biasanya yang menyiapkan makanan kalau misalnya di dalam pesawat, itu FA 1 dan FA 2," ungkap Nadya.
Nadya mengaku bahwa pengaruh seragam sangat membantu dirinya untuk mendalami peran. Saat latihan tanpa seragam, ia sempat merasa kurang meyakinkan dalam melakukan prosedur keselamatan.
"Pas kami belajar prosedur keselamatan, itu masih pakai baju bebas. Jadi rasanya seperti tidak meyakinkan jadi pramugari. Tapi untungnya karena dibantu dengan riasan dan pakaian, setelah memakainya langsung merasa menjadi salah satu kru kabin AirIndo," kata Nadya.
Baca juga: Jerome Kurnia dikira pilot asli saat syuting film Penerbangan Terakhir
Meski menikmati proses syuting, Nadya sempat berseloroh mengenai cita-citanya yang lain di luar dunia akting bukanlah menjadi seorang pramugari. "Kalau buat Nadya, jadi kerja di National Geographic kali ya," cetusnya.
Melalui perannya, Nadya selalu berharap bisa memberi pesan yang bermanfaat bagi penonton, seperti saat menjadi Tiara.
"Pesannya, kadang kita bisa menjadi orang jahat buat orang lain. Walaupun kita merasa kita tidak punya niat yang buruk terhadap orang lain, tapi mungkin kita orang jahat buat hidup orang itu," kata Nadya.
Ia menekankan bahwa meskipun mengakui kesalahan adalah hal yang sulit, seseorang harus berani mengambil keputusan untuk keluar dari situasi yang tidak sehat.
"Menurut aku untuk mengakui kesalahan kita dan mengerti bahwa situasi kita cukup buruk serta berhenti dari situ itu susah. Tidak apa-apa kalau misalnya kita dalam keadaan yang buruk, tapi kita juga harus sadar kapan kita harus menata lagi. Hidup kita masih panjang, masih banyak kesempatan, dan masih banyak cerita yang bisa kita tulis sendiri," Nadya menandaskan.
Film Penerbangan Terakhir produksi Visual Media Studio (VMS) ini dijadwalkan mulai menyapa penonton di seluruh bioskop pada 15 Januari 2026.
Baca juga: Film "GJLS: Ibuku Ibu-Ibu" hadirkan kejutan lucu untuk Nadya Arina
Baca juga: Peran dalam "Sah! Katanya" bikin Nadya Arina menyadari arti keluarga



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5470549/original/028654100_1768209885-jem6.jpg)

