KEKAYAAN mineral yang belum terjamah di Greenland telah menempatkan pulau tersebut di posisi teratas dalam daftar keinginan ekspansi Presiden Donald Trump. Pejabat pemerintahan Trump memandang cadangan bawah tanah Greenland sebagai kunci untuk mematahkan dominasi Tiongkok atas logam tanah jarang (rare-earth metals) yang krusial bagi teknologi jet tempur, laser, hingga kendaraan listrik.
"Kita butuh Greenland... Wilayah itu sangat strategis saat ini," ujar Trump kepada wartawan di atas Air Force One awal bulan ini.
Ketertarikan ini pun dibarengi dengan retorika keras. Dalam konferensi pers bersama eksekutif minyak pada hari Jumat, Trump menegaskan, "Kami akan melakukan sesuatu terhadap Greenland, suka atau tidak. Jika kami tidak bisa melakukannya dengan cara mudah, kami akan melakukannya dengan cara sulit."
Realitas Medan, Lebih Buruk dari BulanMeski ambisi politik membara, para peneliti memperingatkan kendala utama pemanfaatan kekayaan Greenland bukanlah kepemilikan Denmark, melainkan lingkungan Arktik yang sangat ekstrem. Sebagian besar deposit mineral terletak di lokasi terpencil di atas Lingkaran Arktik, tertutup lapisan es setebal satu mil, dan diselimuti kegelapan hampir sepanjang tahun.
"Ide untuk mengubah Greenland menjadi pabrik tanah jarang Amerika adalah fiksi ilmiah. Itu benar-benar gila," kata Malte Humpert, pendiri The Arctic Institute. "Anda lebih baik menambang di bulan. Dalam beberapa aspek, ini lebih buruk daripada bulan."
Biaya ekstraksi di Arktik diperkirakan bisa mencapai 5-10 kali lebih mahal dibandingkan wilayah lain di bumi. Selain itu, infrastruktur dan tenaga kerja di wilayah otonom Denmark tersebut saat ini sangat terbatas untuk mendukung skala pertambangan besar.
Terbuka untuk Bisnis, Bukan untuk DikuasaiBerbeda dengan Venezuela yang baru-baru ini menjadi fokus intervensi Trump, Greenland adalah wilayah stabil di bawah sekutu NATO, Denmark. Selama bertahun-tahun, otoritas Greenland telah mengundang investasi asing secara terbuka tanpa perlu adanya agresi politik.
"Saya tidak melihat perlunya mengambil alih Greenland. Kami terbuka untuk investasi dan bekerja sama dengan warga Amerika," tegas Christian Keldsen, direktur pelaksana Asosiasi Bisnis Greenland. "Mengapa Anda harus mengatakan sesuatu seperti 'mengambil alih negara' padahal Anda bisa mendapatkan apa yang Anda inginkan hanya dengan bersikap baik?"
Penolakan Lokal dan Risiko DiplomasiBerdasarkan jajak pendapat Januari 2025, hanya 6% penduduk yang setuju Greenland menjadi bagian dari Amerika Serikat, sementara 85% menolaknya secara tegas. Retorika "pengambilalihan" ini justru dikhawatirkan akan merusak hubungan strategis.
"Anda bisa melihat Amerika Serikat tidak lagi dipandang sebagai teman dan mitra, melainkan sebagai perundung (bully) yang harus dilawan," kata Adam Lajeunesse, pakar kebijakan Arktik di St. Francis Xavier University.
Saat ini, sentimen terhadap Amerika Serikat di Greenland pun mulai mendingin. Menurut Keldsen, segala sesuatu yang berbau Amerika kini dipandang dengan penuh kewaspadaan. "Setiap orang bertanya-tanya, 'Apakah saya mendukung seseorang yang sedang mengambil alih negara saya?'" pungkasnya. (CNN/Z-2)



