EtIndonesia. Situasi keamanan di Iran terus memburuk seiring berlanjutnya gelombang besar aksi protes anti-pemerintah yang menyapu berbagai wilayah negara tersebut. Pada 10 Januari 2026, sejumlah laporan media internasional mengungkapkan bahwa aparat keamanan Iran semakin mengintensifkan tindakan represif, bahkan menggunakan persenjataan militer berat terhadap demonstran damai.
Senjata Berat Digunakan di Kota-kota yang Lepas dari Kendali Pemerintah
Menurut laporan Iran International, di sejumlah kota menengah Iran yang dilaporkan telah terlepas dari kendali efektif pemerintah pusat, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dikerahkan secara penuh. Pasukan ini dilaporkan menggunakan senapan mesin berat, senjata otomatis, serta berbagai jenis persenjataan militer untuk membubarkan dan menyerang massa demonstran yang tidak bersenjata.
Tindakan tersebut menandai eskalasi signifikan dalam metode penindasan, dari sebelumnya penggunaan gas air mata dan peluru karet, menjadi kekuatan mematikan berskala militer.
Korban Tewas dan Penangkapan Terus Bertambah
Berdasarkan laporan Associated Press (AP), hingga 10 Januari, sedikitnya 538 orang telah tewas dalam aksi protes di berbagai wilayah Iran. Dari jumlah tersebut, 490 korban merupakan demonstran, sementara 48 lainnya adalah personel keamanan. Selain itu, lebih dari 10.600 orang dilaporkan telah ditahan oleh aparat negara.
Namun demikian, sejumlah sumber lokal dan jaringan aktivis HAM menyatakan bahwa angka resmi tersebut kemungkinan besar jauh di bawah kondisi sebenarnya. Menurut perkiraan mereka, jumlah demonstran yang tewas diduga telah melampaui 2.000 orang, terutama akibat tembakan langsung di jalanan dan operasi pembersihan malam hari.
Amerika Serikat Evaluasi Berbagai Opsi terhadap Iran
Di tengah eskalasi kekerasan tersebut, dua pejabat Amerika Serikat mengungkapkan kepada CNN bahwa Presiden Donald Trump tengah mengevaluasi berbagai opsi strategis terkait Iran. Opsi-opsi tersebut meliputi:
- Serangan siber terhadap infrastruktur rezim Iran
- Pengetatan sanksi ekonomi
- Dukungan daring dan teknologi bagi demonstran
- Hingga kemungkinan intervensi militer langsung
Meski demikian, hingga laporan ini disusun, belum ada keputusan final yang diambil oleh Gedung Putih.
Iran Minta Bantuan Milisi Irak
Sementara itu, Fox News, mengutip pejabat Amerika Serikat, melaporkan bahwa pemerintah Iran telah meminta bantuan kelompok bersenjata Irak, termasuk Kataib Hezbollah, untuk membantu menekan dan mengendalikan gelombang protes yang semakin meluas.
Langkah ini dipandang sebagai indikasi bahwa kapasitas aparat keamanan domestik Iran mulai tertekan, sehingga rezim berupaya mengandalkan jaringan milisi regional yang selama ini berada dalam orbit pengaruh Teheran.
Pernyataan Militer Iran Dinilai Bersifat Defensif
Pada 10 Januari, The Wall Street Journal melaporkan bahwa militer reguler Iran merilis sebuah pernyataan resmi. Dalam pernyataan tersebut, militer menyatakan akan:
- Melindungi kepentingan nasional
- Menjaga infrastruktur strategis
- Mengamankan properti publik
Pernyataan itu juga menuding Israel dan kelompok “musuh” sebagai pihak yang berupaya mengacaukan keamanan publik Iran.
Namun, sejumlah analis menilai pernyataan tersebut bersifat sangat umum dan defensif, serta tidak secara eksplisit menyebutkan keterlibatan langsung militer reguler dalam penindasan terhadap demonstran. Hal ini memicu spekulasi bahwa terdapat keretakan atau perbedaan sikap internal antara militer reguler dan Korps Garda Revolusi.
Laporan Eksekusi Perwira IRGC dan Dugaan Pelarian Elite Agama
Kabar terbaru yang beredar menyebutkan bahwa Kolonel Mehdi Rasimi, seorang perwira yang bertanggung jawab memimpin pasukan Garda Revolusi di wilayah tertentu, diduga telah dieksekusi oleh demonstran anti-pemerintah. Hingga kini, informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Selain itu, beredar pula laporan belum terkonfirmasi yang menyebutkan bahwa sejumlah Ayatollah Republik Islam Iran beserta anggota keluarganya terlihat di Bandara Moskow, Rusia, diduga sedang berupaya melarikan diri dari Iran di tengah memburuknya situasi keamanan.
Starlink Tembus Blokade Internet Iran
Selama aksi protes berlangsung, kelompok perlawanan berbasis teknologi dilaporkan memanfaatkan layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk untuk menembus blokade internet nasional yang diberlakukan pemerintah Iran.
Melalui koneksi ini, para aktivis berhasil mengirimkan rekaman video, foto, dan informasi lapangan secara real time ke luar negeri. Meskipun pemerintah Iran berusaha mengganggu dan memutus koneksi, tingkat keberhasilan sambungan dilaporkan tetap mencapai 90,71%, sebuah angka yang dinilai sangat tinggi dalam kondisi represi digital.
Pesan Mossad dan Sinyal Intervensi
Pada 10 Januari, The Jerusalem Post melaporkan bahwa badan intelijen Israel, Mossad, telah menyampaikan pesan dalam bahasa Persia yang ditujukan langsung kepada rakyat Iran. Pesan tersebut berbunyi: “Saatnya telah tiba. Kami bersama kalian—di jalanan.”
Pesan ini dipandang sebagai sinyal psikologis dan politik yang kuat, menunjukkan bahwa krisis Iran telah menarik perhatian serius aktor-aktor intelijen regional.
Media Amerika Serikat juga melaporkan bahwa Presiden Trump telah menerima sejumlah pengarahan informal terkait kemungkinan intervensi militer terhadap Iran, dan dijadwalkan mengikuti pengarahan resmi pada hari Selasa.
Dunia Menanti Langkah Trump
Para pengamat internasional menilai bahwa gaya kepemimpinan Donald Trump yang kerap bertindak di luar pola diplomasi konvensional berpotensi kembali mengejutkan dunia. Mereka membandingkan situasi ini dengan penangkapan hidup-hidup Nicolás Maduro, yang sebelumnya juga terjadi secara tak terduga.
Dengan Iran kini berada di titik kritis, banyak pihak menilai bahwa langkah Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan dapat menentukan arah masa depan Iran—dan stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.



