REPUBLIKA.CO.ID, PARIS — Dampak pemanasan global kian nyata. Bukan hanya di daratan, tetapi juga di lautan yang menyerap sebagian besar panas berlebih dari atmosfer. Data terbaru menunjukkan laut dunia menyimpan panas pada level tertinggi sepanjang sejarah pencatatan modern.
Berbeda dari suhu udara yang fluktuatif, panas yang tersimpan di laut bertahan lama dan memicu dampak berantai, mulai dari kenaikan muka air laut hingga cuaca ekstrem dan kerusakan ekosistem. Analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences mencatat akumulasi panas laut pada 2025 meningkat 23 zettajoule, setara hampir empat dekade konsumsi energi primer global dan menjadi rekor tertinggi sejak awal 1950-an.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- Iklim Menghangat, Resor Ski di Jepang Berguguran
- Bill Gates: Krisis Iklim tak Bisa Diselesaikan dengan Mekanisme Pasar
- Trump Kembali Tarik AS dari Sejumlah Organisasi Iklim Internasional
Kajian ini melibatkan 50 peneliti dari 31 lembaga riset dengan memanfaatkan beragam sumber data, termasuk ribuan robot apung yang memantau laut hingga kedalaman 2.000 meter. Salah satu penulis analisis, Karina von Schuckmann, menjelaskan, pengukuran laut dalam memberikan gambaran yang lebih akurat dibandingkan suhu permukaan yang mudah berfluktuasi.
Lautan menyerap lebih dari 90 persen panas berlebih akibat gas rumah kaca sehingga kandungan panas laut menjadi indikator paling andal untuk menelusuri pemanasan global jangka panjang. Berbeda dengan suhu udara yang dipengaruhi fenomena alam seperti El Niño dan La Niña, kandungan panas laut mencerminkan akumulasi panas secara keseluruhan. “Hasilnya jelas, pada 2025 lautan terus menghangat,” kata von Schuckmann, oseanografer dari Mercator Ocean International, seperti dikutip dari Japan Today, Selasa (13/1/2026).
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Dikutip dari Earth.com, Selasa (13/1/2026), para peneliti mengombinasikan tiga produk observasi dari Chinese Academy of Sciences, Copernicus Marine Service, dan NOAA/NCEI, serta satu analisis ulang dari CIGAR-RT. Seluruh data tersebut konsisten menunjukkan 2025 mencatat kandungan panas laut tertinggi sepanjang sejarah.
Rekor ini memperpanjang tren pemanasan laut yang terus berulang, dengan catatan rekor panas baru selama sembilan tahun berturut-turut. Pemanasan tidak terjadi merata, pada 2025 sekitar satu dari enam wilayah laut mencatat panas tertinggi sepanjang sejarahnya, sementara sepertiga wilayah lain berada di ambang kondisi ekstrem.
Wilayah dengan pemanasan tertinggi meliputi lautan tropis, Atlantik Selatan, Pasifik Utara, dan Samudra Selatan. Analisis juga menunjukkan sejak dekade 1990-an, pemanasan hingga kedalaman 2.000 meter berlangsung stabil dengan laju yang cenderung meningkat.
Pada 2025, suhu permukaan laut tercatat sebagai yang terpanas ketiga dalam sejarah, sekitar 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata 1981–2010. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan 2023 dan 2024 seiring peralihan Pasifik tropis dari El Niño ke La Niña.
Penurunan sementara suhu permukaan tidak bertentangan dengan rekor kandungan panas laut. Panas dapat berpindah secara vertikal dan geografis, sementara total panas yang tersimpan di laut tetap meningkat.
Pemanasan laut berdampak langsung pada peningkatan penguapan yang memperkuat hujan ekstrem dan siklon tropis. Laporan ini mengaitkan laut yang lebih hangat dengan banjir besar di Asia Tenggara, kekeringan di Timur Tengah, serta banjir di Meksiko dan Pasifik Barat Laut Amerika Utara sepanjang 2025.
Panas berlebih di laut juga mendorong kenaikan muka laut melalui pemuaian termal, bahkan tanpa tambahan air dari pencairan es. Kondisi ini memperbesar risiko cuaca ekstrem dan memperpanjang gelombang panas.
“Selama bumi terus mengakumulasi panas, kandungan panas laut akan terus meningkat, permukaan laut akan naik, dan rekor baru akan tercipta,” kata von Schuckmann.
Ia menambahkan ketidakpastian terbesar sistem iklim kini terletak pada pilihan manusia. “Pengurangan emisi secara cepat masih dapat membatasi dampak di masa depan dan membantu menjaga iklim yang memungkinkan masyarakat dan ekosistem untuk bertahan,” katanya.



