Peneliti peringatkan risiko kanker dari pengobatan perlemakan hati

antaranews.com
5 jam lalu
Cover Berita
Canberra (ANTARA) - Memblokir enzim seluler utama, pendekatan yang dianggap dapat memberikan perlindungan dari penyakit perlemakan hati, justru dapat meningkatkan risiko kerusakan hati kronis dan kanker seiring bertambahnya usia, menurut para peneliti Australia, Selasa (13/1).

Diterbitkan dalam jurnal Science Advances, studi itu menemukan bahwa hilangnya enzim Caspase-2 memicu pertumbuhan abnormal pada sel hati, memicu peradangan, fibrosis, dan peningkatan risiko kanker hati yang signifikan, menurut pernyataan pers dari Universitas Adelaide, Australia.

Temuan itu menantang minat yang semakin besar terhadap inhibitor Caspase-2 sebagai strategi terapeutik potensial untuk mengobati dan/atau mencegah penyakit perlemakan hati serta menyoroti perlunya kehati-hatian saat menargetkan jalur ini, menurut pernyataan tersebut.

Caspase-2 memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas genetik sel hati sekaligus memiliki peran independen dalam mengontrol kadar lemak dalam hati, kata peneliti utama Loretta Dorstyn dari Pusat Biologi Kanker (Center for Cancer Biology).

"Sel-sel hati biasanya memiliki salinan materi genetik ekstra, yang dikenal sebagai poliploidi, dan meskipun elemen ini dapat membantu hati mengatasi stres, studi kami menunjukkan bahwa tanpa enzim Caspase-2, tingkat poliploidi yang tinggi secara tidak normal pada hati dapat memicu kerusakan," ujar Dorstyn.

Pada tikus yang kekurangan enzim Caspase-2 atau memiliki versi enzim yang tidak lagi berfungsi, sel-sel hati memiliki ukuran yang besar secara tidak normal dengan jumlah kerusakan genetik dan selular yang berlebihan, kata para peneliti.

"Seiring berjalannya waktu, tikus-tikus ini mengalami peradangan hati kronis dan karakteristik penyakit hati yang menyerupai hepatitis, termasuk jaringan parut, kerusakan oksidatif, dan jenis kematian sel yang dikaitkan dengan peradangan," ujar Dorstyn,

Dalam peneelitian itu, hewan-hewan yang sudah menua lebih mungkin terkena kanker hati.

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa tikus yang sudah menua dan kekurangan enzim Caspase-2 yang berfungsi mengalami tumor hati secara spontan pada tingkat yang jauh lebih tinggi dibandingkan tikus normal, dengan insidensi kanker hati hingga empat kali lipat, yang merupakan karakteristik karsinoma hepatoseluler.

Temuan itumembantah asumsi bahwa menghambat Caspase-2 bermanfaat secara universal, menunjukkan bahwa enzim itu penting untuk menghilangkan sel-sel hati yang rusak seiring bertambahnya usia, dan tanpa enzim ini, sel-sel tersebut akan menumpuk dan memicu kanker, kata Dorstyn.

Para penulis mengatakan bahwa penelitian ini memiliki implikasi penting bagi pengembangan obat.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tim Pengarah Satgas Pemulihan Bencana Sumatera Rapat Perdana, Bahas Apa?
• 4 jam laludetik.com
thumb
Ketidakhadiran Negara dalam Perspektif Pancasila
• 22 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Dipecat Real Madrid di Tengah Musim, Begini Profil dan Perjalanan Karier Xabi Alonso
• 6 jam lalugrid.id
thumb
Ragam Prabowo Kunjungi Kalimantan: Resmikan Sekolah Rakyat-Nginap di IKN
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Arsenal dan Liverpool Dapat Pesaing Baru dalam Perburuan Marc Guehi
• 11 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.