SIDOARJO,KOMPAS-Banjir masih merendam sebagian kawasan di lima daerah di Jawa Timur hingga Selasa (13/1/2026). Tidak ada korban jiwa dalam bencana hidrometeorologi tersebut. Pemerintah Provinsi Jatim menyiapkan bantuan untuk petani yang gagal panen akibat banjir.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, banjir masih terjadi di Lamongan, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan dan Jombang. Ketinggian air bervariasi, 10-59 sentimeter (cm).
Tidak ada korban jiwa akibat banjir ini. Namun, banjir menganggu aktivitas masyarakat karena menyebabkan ribuan rumah warga tergenang. Sejauh ini, warga memilih mengungsi secara mandiri.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim Satriyo Nurseno mengatakan, banjir disebabkan meluapnya sejumlah sungai besar seperti Bengawan Jero di Lamongan. Selain luapan sungai, banjir di Sidoarjo, diperparah buruknya sistem drainase.
“BPBD Jatim bersama BPBD di kabupaten telah menangani dan terus memantau ketinggian permukaan air sungai. Berbagai peralatan penanggulangan bencana juga disiagakan,” ujar Satriyo.
Satriyo mengatakan, banjir terparah ada di Lamongan. Banjir terjadi sejak 17 Desember 2025 dan melanda enam kecamatan yakni Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Deket, Glagah serta Lamongan. Sejauh ini, tercatat 2.031 rumah dan sebuah rumah sakit terendam. Genangan banjir tercatat antara 10–59 cm.
”Untuk menangani banjir di Lamongan, 2 unit pompa di rumah pompa di Kalitengah tetap diaktifkan. Pintu air juga dibuka untuk menurunkan ketinggian genangan banjir,” kata dia.
Satriyo menambahkan, untuk meringankan derita korban bencana, bantuan logistik sudah didistribusikan kepada warga terdampak, terutama di Kecamatan Karangbinangun dan Kecamatan Kalitengah.
Sementara itu, banjir di Sidoarjo melanda empat kecamatan yakni Tanggulangin, Candi, Waru dan Sidoarjo. Ketinggian genangan di Tanggulangin meningkat, sedangkan di tiga kecamatan lain mulai surut.
Untuk itu, rumah pompa di Kedungbanteng terus diaktifkan mulai pukul 12.00 WIB hingga 21.00 WIB guna mengurangi ketinggian genangan. Personel BPBD Jatim dan BPBD Sidoarjo terus memantau ketinggian genangan di lokasi kejadian.
Sementara itu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim mencatat sedikitnya 3.000 hektar lahan pertanian puso terdampak cuaca ekstrem sepanjang 2025. Namun, hal itu diklaim tidak menganggu produksi padi.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Heru Suseno mengatakan, puso terjadi mulai Oktober 2025 dan tersebar di berbagai daerah secara sporadis. Saat ini, pihaknya masih mendata untuk memastikan luas puso yang terjadi pada Desember 2025 hingga Januari 2026.
“Nanti kami update lagi datanya. Januari ini curah hujan tinggi, jadi kami lihat betul mana yang benar-benar puso dan mana yang tidak,” ujar Heru.
Untuk meringankan beban petani, Heru menyebut, Pemprov Jatim siap memberikan bantuan seperti penggantian benih dan fasilitasi tanam ulang. Pemprov Jatim akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian.
Meski cuaca ekstrem masih terjadi, Heru optimistis produksi padi Jatim pada 2026 bakal meningkat. Alasannya, luas tanam Oktober-Desember 2025 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kalau tidak ada cuaca ekstrem yang merusak tanaman, panen Januari-Maret 2026 diprediksi meningkat. Ini prediksi, bukan perkiraan asal,” ujar Heru.





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5471997/original/069092900_1768303444-kapolsek.jpg)