Kisah Perubahan Karakter Siswa Sekolah Rakyat Kupang: Dari Emosional Menjadi Lebih Beretika

tvrinews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Redaksi TVRINews

TVRINews, Kupang

Sekolah Rakyat tidak hanya berfungsi sebagai ruang belajar akademik, tetapi juga menjadi ruang pemulihan sosial dan emosional bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Perubahan perilaku yang signifikan mulai terlihat pada siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang setelah hampir enam bulan tinggal di lingkungan berasrama.

Wali Asuh SRMP 19 Kupang, Miguel Antonio Gusmao, mengungkapkan bahwa sebagian besar siswa berasal dari keluarga desil 1 dan desil 2, yakni kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah. Kondisi sosial tersebut sangat memengaruhi karakter awal anak-anak saat pertama kali masuk sekolah.

“Sejak awal mereka masuk memiliki karakter yang sulit untuk dibentuk. Mereka sering emosional, suka berkelahi, suka mencaci maki temannya, suka ribut dengan suara-suara keras, teriak dengan suara keras tanpa terkontrol,” ujar Miguel saat ditemui di SRMP 19, Kompleks Setra Efata, Kupang, Selasa 13 Januari 2026.

Menurutnya, anak-anak tersebut sebelumnya tumbuh dengan keterbatasan perhatian serta minim rasa aman, yang berdampak pada kemampuan komunikasi sosial dan pengendalian emosi mereka.

Namun, setelah beberapa bulan mengikuti pola pendidikan di Sekolah Rakyat, anak-anak kini menjadi jauh lebih tenang dan sopan. Konflik antarsiswa pun dilaporkan jauh berkurang dibandingkan masa awal sekolah.

“Kalau dulu di awal-awal pasti ada yang nangis, pasti saja ada yang bilang ini bully, ini bully. Tapi sekarang sudah kita minimalisir. Puji Tuhan cukup baik untuk saat ini,” kata Miguel.

Kunci perubahan tersebut terletak pada pendekatan pengasuhan berbasis kasih sayang. Para wali asuh diposisikan sebagai pengganti orang tua yang memberikan perhatian penuh kepada para siswa.

“Kita melayani mereka dengan penuh kasih sayang, harus merasa bahwa mereka memang benar-benar anak kita. Bukan anak yang kita asuh dari orang lain, tapi memang bagian dari anak kita sendiri,” ujarnya.

Selain pembinaan karakter, para siswa juga mulai terbiasa dengan keteraturan hidup, mulai dari jadwal makan hingga menjaga kebersihan lingkungan. Pihak sekolah juga rutin berkomunikasi dengan orang tua siswa setiap akhir bulan untuk memantau perkembangan anak secara kolaboratif.

Miguel menilai kehadiran Sekolah Rakyat merupakan langkah strategis pemerintah dalam memutus mata rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan bagi kelompok masyarakat rentan.

“Bagi orang-orang yang tidak mampu, jalurnya hanya satu menurut saya, lewat jalur pendidikan,” tambahnya.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas inisiatif pendirian sekolah ini yang menyasar langsung kelompok masyarakat paling membutuhkan.

“Sebagai wali asuh dan sebagai warga negara Indonesia, saya sangat berterima kasih kepada Pak Presiden, Pak Prabowo, karena punya niat baik dan hati yang tulus untuk membangun Sekolah Rakyat. Harapan kami dengan pendidikan ini, mata rantai kemiskinan itu bisa putus,” pungkasnya.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jadwal Salat Bandung 13 Januari 2026
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
‘Tempah Dedoro’ Jadi Strategi Mataram Kelola Sampah Organik
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Rangkaian Acara Peringatan Isra Mikraj 2026 di Masjid, Sekolah, dan Lingkungan
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Detik-detik Damkar Evakuasi Balita Terkunci di Mobil di Duren Sawit Jakarta Timu
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Selasa (13/2) Pukul 18.00, 3 RT di Jakarta masih Kebanjiran, Ribuan Orang Mengungsi
• 4 jam lalumerahputih.com
Berhasil disimpan.