Mesin Hybrid F1 2026 Bikin Strategi Makin Rumit Tapi Seru, Ini Penjelasannya

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Ajang balap jet darat Formula 1 (F1) memasuki era baru, seiring penerapan berbagai regulasi anyar mulai musim 2026. Paling signifikan adalah penggunaan mesin hibrida dengan tenaga listrik lebih buas, namun hanya bisa digeber maksimal secara terbatas.

Dari sisi pilot F1, aturan teknis anyar ini akan menambah 3 tombol baru yang bisa mereka mainkan dari setirnya, yaitu Boost, Overtake, dan Recharge. 

Tombol mode Boost berguna untuk menggeber energi listrik mesin hybrid secara maksimal, bisa digunakan kapan saja, tapi menggerus baterai. Secara strategis, lebih cocok digunakan untuk bertahan dari kejaran lawan di belakang, atau apabila sedang mengejar target lap tertentu.

Tombol mode Overtake menggantikan drag reduction system (DRS) yang selama ini digunakan. Hanya bisa aktif di tempat tertentu biasanya jelang trek lurus dan mobil kita harus berjarak kurang dari satu detik dengan mobil lawan di depan. 

Sistem tombol 'Overtake' terkini mengaktifkan tambahan energi listrik tersembunyi sekitar 0,5 Megajoule (MJ) dalam mobil. Berbeda dengan era DRS yang menggunakan sistem buka-tutup sayap belakang supaya mobil lebih kencang di trek lurus.

Oleh sebab itu, akan menarik melihat pembalap yang pintar mengelola energi baterai dan mampu memanfaatkan 'Boost' dengan baik, sebab bisa bikin pemencet 'Overtake' di belakangnya frustrasi.

Baca Juga

  • Max Verstappen Gunakan Nomor 3 di Formula 1 Musim Depan
  • Jadwal Lengkap F1 GP Abu Dhabi: Race Penutup Musim Formula 1, Penuh Drama
  • Hasil Formula 1 GP Qatar 2025: Duo McLaren Masih Mendominasi, Piastri Pole Position

Terakhir, tombol mode Recharge saat ini bisa ditekan manual oleh para pilot F1 untuk meminimalkan energi listrik buat mengisi baterai, bahkan dengan memanfaatkan deselerasi di tikungan-tikungan tertentu. Kekurangannya, tentu mobil jadi jauh lebih pelan dari seharusnya, hingga meningkatkan risiko tersalip lawan.

Praktis, strategi balapan pun jadi semakin rumit, sebab para pembalap harus jeli membuat keputusan: kapan perlu gas pol, kapan perlu mengisi baterai.

Era mesin hybrid F1 memang telah dimulai sejak 2014. Namun, energi dari mesin bakar (ICE) 1.6L V6 turbo masih mendominasi, dengan energi dari motor listrik dipatok 120 kW/160 hp saja dan tenaga baterainya bisa diisi dengan pemanfaatan gas buang di perangkat turbo mesin, atau biasa disebut generator panas (MGU-H).

Adapun, mulai musim ini, kapasitas geberan mesin listrik F1 ditingkatkan tiga kali lipat menjadi 350 kW/470 hp dengan kapasitas ICE yang masih serupa. Hal ini membuat perbandingan tenaga ICE dengan elektrik di mobil F1 saat ini berkisar 50:50, dari sebelumnya 80:20.

Bedanya lagi, metode pengisian baterai MGU-H yang menempel di mesin dihilangkan, tersisa pengisian lewat generator yang memanfaatan energi kinetik (MGU-K), misalnya saat mengerem mirip seperti pada mobil listrik (EV) jalanan pada umumnya.

Alhasil, tipe pembalap yang sembrono dalam manajemen energi alias terlalu 'boros baterai' justru akan lebih lambat dalam beberapa lap, dan akhirnya lebih mudah tersalip lawan.

Pasalnya, adaptasi gaya balap ketika mengecas baterai mobil F1 musim ini perlu lebih ekstrem. Baik dengan mengerem lebih awal, berakselerasi dengan halus di jalan lurus, hingga bijak-bijak dalam memencet tombol 'Boost' maupun 'Recharge'.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Poligami dan Ilusi Kesalehan: Agama Dijadikan Pembenaran Pilihan Pribadi
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Hujan Deras, Ketinggian Banjir di Pati Naik Lagi
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Utusan AS Tuding Denmark Abaikan Protokol PBB soal Greenland
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kala Prajurit TNI Bingung Ditanya Menhan Sjafrie: Pilih Pendidikan atau Tugas Operasi?
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Liverpool ke putaran empat setelah taklukkan Barnsley 4-1
• 21 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.