Iblis Waru, Perenggut Jiwa yang Malang

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, JAKARTA —Kepercayaan lama masyarakat Jawa menyebutkan bahwa tidak semua pohon diciptakan semata untuk memberi keteduhan. Sebagian diyakini menjadi tempat bersemayam energi gelap, saksi bisu tragedi, bahkan pintu perlintasan makhluk tak kasatmata. Salah satunya adalah pohon waru.

Mitos inilah yang diangkat secara mendalam dalam film horor terbaru berjudul WARU, sebuah film yang memadukan horor, mitologi, dan kearifan lokal dengan kisah-kisah yang konon kerap benar-benar terjadi di tengah masyarakat.

Diproduksi oleh Adglow Pictures bersama Suraya Filem, Film Q, dan Megah Sinema Indonesia, WARU tak sekadar menyajikan ketakutan instan. Film ini menghidupkan kembali cerita-cerita yang selama ini hanya dibisikkan: tentang pohon waru yang tak boleh ditebang sembarangan, tempat orang hilang, kerasukan, hingga kematian misterius.

Produser Aji Fauzi menggandeng Chiska Doppert sebagai sutradara, dengan Ery Sofid sebagai penulis skenario. Kolaborasi ini menghadirkan horor yang bukan hanya menakutkan secara visual, tetapi juga menghantui secara emosional dan spiritual.
Film ini diperkuat jajaran pemain lintas generasi, mulai dari Bella Graceva, Zikri Daulay, Jinan Safa, Josiah Hogan, Sharifah Husna, Dewi Amanda, Sean Mikhail, hingga aktris senior Yatti Surachman yang memegang peran krusial sebagai sosok Iblis Waru.

Sutradara Chiska Doppert menjelaskan bahwa keangkeran pohon waru bukan sekadar mitos tanpa dasar.

“Waru memiliki kanopi yang sangat lebar, membuat area di bawahnya gelap, sejuk, dan lembap. Kondisi ini dalam kepercayaan masyarakat sering diasosiasikan sebagai tempat yang nyaman bagi makhluk astral karena minim cahaya dan relatif sunyi. Orang tua dulu melarang kami melewati pohon waru saat magrib, bahkan dilarang keras menengadah ke atas pohon ketika melintas,” jelasnya.

Kepercayaan tersebut diperkuat oleh banyak kisah tentang orang yang sakit mendadak, kerasukan, atau mengalami kejadian aneh setelah beraktivitas di sekitar pohon waru tertentu.

Penulis skenario Ery Sofid menambahkan, pohon waru tumbuh luas di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Waru banyak ditemukan di pesisir pantai, tepi sungai, muara, hingga dataran rendah dan tinggi. Jenis waru gunung bahkan dikenal tumbuh di wilayah pegunungan Jawa Tengah dan Jawa Timur—daerah yang kaya akan cerita mistis turun-temurun.

Proses syuting WARU dilakukan di sejumlah lokasi yang dikenal memiliki aura mistis, seperti Bogor, Sukabumi, Solo, dan Gunung Lawu, guna memperkuat atmosfer cerita. Aji Fauzi menegaskan film ini dirancang sebagai pengalaman horor nasional.

“Mulai 12 Februari 2026, Iblis Waru akan gentayangan di bioskop kesayangan Anda,” ujarnya.

Meski mengusung horor mitologis, WARU hadir dengan pendekatan berbeda. Film ini menekankan kekuatan drama, konflik emosional, serta plot twist tak terduga. WARU bukan sekadar film horor, tetapi juga kisah tragis tentang manusia, dosa, dan warisan gelap yang tak pernah benar-benar mati.

Penonton akan dibuat merinding oleh teror Iblis Waru yang bersemayam di pohon pemujaan pesugihan, tempat persembahan kepala manusia. Teror visual akar-akar pohon yang merambat dan memenggal kepala korban ditampilkan sebagai simbol kengerian, tanpa berlebihan.

WARU bukan hanya film horor, melainkan peringatan tentang mitos yang selama ini dianggap cerita lama—karena mungkin, sebagian dari cerita itu benar adanya. (*/)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
IHSG Ditutup Menguat, Investor Tunggu Arah Kebijakan The Fed
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Ketua Komisi II Ingatkan Pemerintah soal IKN: No Point to Return
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Ketua RT Ungkap Dugaan Motif Pedagang Cilok Ditusuk Rekan Sejawatnya di Kembangan
• 6 jam laludisway.id
thumb
Kali Pesanggrahan Meluap, Jembatan Penghubung Dua Kecamatan di Depok Terputus | SAPA PAGI
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Kisah Hidup Aurelie Moeremans dalam Memoar Broken Strings, Alami Grooming hingga Kekerasan Seksual
• 10 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.