JAKARTA, KOMPAS.com – Banjir bukan lagi tamu yang asing bagi warga Kelurahan Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat.
Sebagian orang yang tinggal dekat bantaran Kali Semongol, mengungsi ke Rusunawa Tegal Alur sudah menjadi ritual tahunan yang tak kunjung usai.
Suniti, warga RT 15 RW 03 yang telah bermukim di sana selama 30 tahun, mengaku sudah tak bisa menghitung berapa kali ia harus angkat kaki dari rumahnya karena air pasang.
"Sudah 10 kali? Lebih kali ya. Tiap tahun. Dari zaman tahun 2000-an kali ya, dari punya anak, sampai punya cucu, enggak pernah absen banjir loh," ujar Suniti saat ditemui di lokasi pengungsian, Selasa (13/1/2026).
Baca juga: 3 RT Jakarta Masih Terendam Banjir Selasa Malam, 1.265 Warga Mengungsi
Menurut Suniti, intensitas banjir semakin parah seiring berjalannya waktu akibat masifnya pembangunan.
KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo Korban banjir yang mengungsi di Rusunawa Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, Selasa (13/1/2026)
Dahulu, wilayah tersebut adalah lapangan dan pasar yang jarang tergenang.
Namun, pembangunan yang masif membuat air kini terperangkap di permukiman mereka yang kontur tanahnya cekung.
"Dulu mah lapangan. Pertama lapangan, terus pasar. Sekarang karena udah ada bangunan, jadi enggak ketampung tuh air. Jadi mungkin itu, bikin dalam tuh banjirnya jalanan yang di bawah," kata Suniti.
Kini, saat hujan deras mengguyur dalam waktu sebentar saja, sudah cukup membuat warga was-was.
"Hujan satu jam, dua jam aja di sini tuh udah banjir. Apalagi ini dari kemarin hujan. Udah banjirnya sampai sepinggang sampai rumah," tambahnya.
Hal serupa juga dirasakan Nina (52), warga RT 15 RW 03 lainnya yang mengaku telah berkali-kali mengungsi ke rusun saat banjir tiba.
Baca juga: Pengungsi Banjir Tegal Alur Alami Batuk dan Gatal-gatal
Meskipun bersyukur keberadaan Rusunawa menyelamatkannya dari tidur di tengah genangan, ia mengaku menyimpan rasa malu karena harus terus-menerus menjadi pengungsi.
"Saya tiap tahun di RT 15 itu saya banjir di sini. Jadi tiap tahun saya nyusahin rusun, saya kagak mau lah, malu saya ibaratnya tiap tahun kan nyusahin warga rusun," ungkap Nina.
Tahun ini, Nina kembali harus merasakan tidur di atas dinginnya lantai lorong rusun karena ruangan yang penuh.
"Tidurnya di sini (lorong), empat keluarga satu rumah. Habis di situ saya udah enggak kebagian tempat. Biarin dah saya mah, jadi yang penting jangan kehujanan," tutur Nina pasrah.