Riset Tiga Dekade Mendongkrak Pamor Garuda

kompas.id
20 jam lalu
Cover Berita

Beragam penelitian dan pelestarian selama tiga dekade telah mengubah posisi elang jawa dari burung pemangsa paling sedikit diketahui menjadi salah satu satwa paling banyak didokumentasikan. Pamor elang jawa (Nisaetus bartelsi) sebagai burung karismatik pun terus meningkat. Apalagi elang jawa kerap identik dengan lambang negara kita, Garuda.

Direktur Eksekutif Burung Indonesia Dian Agista mengungkapkan, 40 tahun lalu tak banyak yang diketahui publik tentang spesies elang jawa. Pamor elang jawa meningkat setelah ditetapkan sebagai satwa langka nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993.

”Elang jawa dipercaya menginspirasi Garuda, lambang negara kita. Namun, situasinya di alam waktu itu belum banyak diketahui,” ujar Dian di Bogor, Jawa Barat, Senin (8/12/2025).

Pada tahun 1990-an, beberapa peneliti asing mulai getol membuat riset elang jawa dan mengajak praktisi konservasi lokal. Seiring makin banyaknya organisasi yang terlibat dalam konservasi elang jawa, dibentuklah kelompok kerja pelestarian elang jawa pada 1997. Kelompok kerja ini kemudian berkembang menjadi Raptor Indonesia.

Raptor Indonesia berbasis sukarelawan sehingga siapa pun bisa bergabung. ”Indonesia kaya sekali dengan jenis elang. Dari 311 spesies yang ada di dunia, 90 itu di Asia dan 82 di antaranya itu ada di Indonesia. Elang flores, misalnya, kita belum banyak lakukan pembelajaran,” kata Ketua Raptor Indonesia Zaini Rakhman.

Baca JugaMenyaksikan Elang Jawa Mengudara di Gede Pangrango

Saat ini, elang jawa menghuni 74 kantong hutan di Pulau Jawa dan membangun sarang di pohon setinggi sedikitnya 30 meter. Selain degradasi hutan, perdagangan satwa, dan perubahan iklim, upaya konservasi elang jawa juga terhambat laju reproduksi yang lambat. Sebagai pemangsa puncak, elang jawa hanya bertelur satu butir setiap musim berbiak.

Dalam Lokakarya Pekan Perayaan Tiga Dekade Konservasi Elang Jawa yang digelar di Bogor, Kamis (11/12/2025), kurator satwa Taman Safari Indonesia, Imam Purwadi, memaparkan betapa sulitnya menangkarkan elang jawa. Meski berpengalaman memelihara 3.000 satwa dari 256 spesies, Imam mengaku sempat frustrasi ketika menangkarkan elang jawa.

Dari tahun 2001, mereka melakukan beragam cara agar si elang jawa yang monogami ini bisa berkembang biak. ”Ini spesies yang cukup unik. Sempat bikin frustrasi di antara jenis-jenis yang lain karena elang jawa memiliki karakteristik mudah digabung, tapi sulit jatuh cinta. Jadi, kita gabung akur, cocok. Tapi berdua saja di kandang, hidup bersama, akur. Tapi tidak ada anak. Kami harus tukar pasangannya lagi,” ujar Imam.

Upaya pengembangbiakan dilakukan di kandang besar berukuran 9 meter x 9 meter dengan ketinggian plafon 12 meter. Program pengembangbiakan Taman Safari Indonesia telah menghasilkan sembilan ekor anakan elang jawa dari dua pasang indukan elang jawa.

Ketika akhirnya bertelur dan menetas, petugas Taman Safari Indonesia secara bergantian harus mengawasi anakan selama 24 jam setiap hari karena indukan tak sanggup merawat anaknya. Petugas merawat anakan elang dengan memakai topeng dan menyuapi memakai sarung sarung tangan khusus berbentuk seperti indukan elang.

Baca JugaMemahami Sejarah "Raja Dirgantara Jawa" di Museum Bartels 
Sejarah panjang

Dari sejarahnya, elang jawa pertama kali ditemukan naturalis Jerman, MEG Bartels. Putranya, Max Bartels, juga melanjutkan minat sang ayah sebagai peneliti. Di lahan bekas rumah MEG Bartels yang berlokasi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, kini dibangun museum elang jawa. Museum berlokasi tak jauh dari tempat rehabilitasi elang jawa di Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad dan berdekatan dengan makam MEG Bartels.

Pada 1895, MEG Bartels mulai bekerja di perkebunan teh dan menghabiskan hidupnya meneliti satwa hingga meninggal pada 1936. Pada 30 April 1907, MEG Bartels memperoleh spesimen elang berjambul dari perkebunan Melati Cikondang dan mengirimkannya ke Jerman. Spesimen tersebut kemudian ditetapkan sebagai spesies tersendiri dan kini dikenal dengan nama ilmiah Nisaetus bartelsi.

Elang jawa dipercaya menginspirasi Garuda, lambang negara kita. Namun, situasinya di alam waktu itu belum banyak diketahui.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dewi Malia Prawiradilaga menegaskan, kegiatan penelitian dan upaya konservasi tidak bisa dipisahkan untuk pelestarian elang jawa. Dari penelitian, misalnya, diperoleh data bahwa sepasang elang jawa membutuhkan mangsa 109-116 ekor mamalia kecil untuk merawat anaknya selama dua bulan dari menetas hingga mampu meninggalkan sarang.

Direktur Perencanaan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan Ahmad Munawir menambahkan, kegiatan riset berperan penting dalam mencegah penurunan populasi elang jawa. ”Tetapi, yang paling penting, habitatnya harus kita jaga bersama, itu yang paling penting. Bagaimanapun usaha kita, kalau rumahnya sendiri tidak bagus, itu akan memengaruhi kelestarian,” ujar Munawir di sela-sela lokakarya di Bogor, Kamis (11/12/2025).

Tidak sekadar satwa, elang jawa adalah kebanggaan Indonesia. Ia menjadi simbol kontinuitas antara mitologi Garuda dan kekayaan hayati Nusantara. Upaya konservasi selama tiga dekade hanyalah langkah awal dan akan terus berjalan agar sang Garuda senantiasa terbang di langit Nusantara.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Resmi Disepakati, Pemerintah Wajibkan SPBU Swasta Beli Solar ke Pertamina
• 12 jam lalufajar.co.id
thumb
Mendes Bicara Persiapan Peringatan Hari Desa 2026
• 14 jam laludetik.com
thumb
Perbandingan Gaji Sri Mulyani di Gates Foundation Vs Saat Jadi Menkeu RI
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Burhanuddin Abdullah: Lewat MBG, Presiden Prabowo Lakukan Perbaikan dari Bawah
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Top! RI Panen Kerja Sama Pertahanan hingga Ekonomi di 2025
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.