Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat (AS) berupaya menciptakan dalih untuk melakukan intervensi militer. Pandangan ini dikeluarkan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil "tindakan keras" atas penindakan brutal terhadap protes massal.
"Fantasi dan kebijakan AS terhadap Iran berakar pada perubahan rezim, dengan sanksi, ancaman, kerusuhan yang direkayasa, dan kekacauan sebagai modus operandi untuk menciptakan dalih bagi intervensi militer," demikian unggahan Iran di PBB di X sebagaimana dilansir AFP, Rabu (14/1/2026).
Iran juga menegaskan "strategi" Washington akan "gagal lagi".
Sebelumnya, Iran menuduh AS dan Israel mengerahkan anggota kelompok teroris ISIS (Daesh) ke dalam wilayahnya untuk melakukan serangan terhadap warga sipil dan personel keamanan. Tuduhan tersebut disampaikan oleh Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Abdolrahim Mousavi.
Dilansir Anadolu Agency, Selasa (13/1) Mousavi menyebut pengerahan itu dilakukan menyusul kegagalan Washington dan Tel Aviv dalam apa yang ia gambarkan sebagai "perang 12 hari" melawan Iran baru-baru ini.
Mousavi menuding anggota ISIS, yang ia sebut sebagai "tentara bayaran", dikirim ke Iran untuk melancarkan aksi kekerasan yang menargetkan masyarakat sipil serta aparat keamanan.
"Iran tidak akan mentolerir pelanggaran kedaulatan atau integritas wilayahnya," kata Mousavi.
Hingga kini, baik Amerika Serikat maupun Israel belum memberikan tanggapan langsung atas tuduhan tersebut. Iran sendiri tengah diguncang gelombang protes anti-pemerintah sejak bulan lalu, seiring memburuknya kondisi ekonomi dan melemahnya mata uang nasional, rial.
Nilai tukar rial dilaporkan merosot hingga 145.000 per dolar AS, yang berdampak pada melonjaknya harga kebutuhan pokok. Sejumlah pejabat Iran sebelumnya juga menuding AS dan Israel berada di balik dukungan terhadap pihak-pihak yang mereka sebut sebagai "perusuh bersenjata" di dalam negeri.
(zap/yld)





