Departemen Keuangan AS merilis data pendapatan bea masuk hingga Desember 2025 yang mencapai USD264,05 miliar atau sekitar Rp4.451 triliun (kurs Rp16.856).
IDXChannel - Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) merilis data pendapatan bea masuk hingga Desember 2025 yang mencapai USD264,05 miliar atau sekitar Rp4.451 triliun (kurs Rp16.856).
Angka tersebut merupakan total tahungan yang sangat tinggi dalam sejarah negara tersebut terutama setelah Presiden Donald Trump menetapkan tarif dagang.
Meski begitu, secara bulanan, pendapatan bea masuk AS per Desember hanya mencapai USD27,89 miliar. Angka tersebut merupakan penurunan bulanan kedua berturut-turut setelah Trump mengurangi bea masuk utama pada November 2025 lalu.
Puncak pendapatan bea masuk AS pada 2025 terjadi pada Oktober sebesar USD31,35 miliar. Penurunan bea masuk pertama kemudian terjadi pada November dengan USD30,76 miliar, dilansir dari Yahoo Finance, Rabu (14/1/2026).
Angka baru pada Selasa (13/1/2025) menandai penurunan lebih dari 10 persen secara bulanan dari angka tertinggi Oktober tersebut. Ini juga merupakan bukti terbaru tentang seberapa besar bea masuk mengubah perdagangan global dan mengurangi perdagangan ke AS, dengan angka baru untuk defisit perdagangan AS yang juga baru-baru ini dirilis.
Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan defisit perdagangan negara tersebut menyempit pada November menjadi USD29,4 miliar, level terendah sejak pertengahan 2009. Data tersebut tertunda karena penutupan pemerintahan pada musim gugur lalu.
Dalam kedua kasus tersebut, faktor pendorongnya yaitu program tarif Trump yang luas, yang mengguncang importir tahun lalu dan menyebabkan perdagangan global kembali stabil (setidaknya di pelabuhan AS) pada tingkat yang lebih rendah.
Angka pendapatan tarif pada Selasa juga menggarisbawahi betapa dramatisnya perubahan lanskap tarif dalam satu tahun. AS mengumpulkan USD6,81 miliar pada Desember 2024, dibandingkan dengan angka terbaru yang lebih dari empat kali lipat.
Amerika Serikat mengumpulkan sekitar USD79 miliar dari tarif sepanjang tahun 2024.
Rilis Laporan Keuangan Bulanan Departemen Keuangan AS pada Selasa juga menunjukkan bahwa AS mengalami defisit sebesar USD602 miliar antara Oktober dan Desember, tiga bulan pertama tahun fiskal, termasuk defisit sebesar USD145 miliar pada Desember yang jauh melampaui pendapatan tarif meskipun Trump sering mengklaim bahwa tarif menyeimbangkan anggaran.
Angka-angka tersebut kemungkinan tidak akan mengurangi antusiasme Trump terhadap tarif. Beberapa saat setelah rilis data ekonomi pada Selasa, Trump berbicara di Detroit, di mana ia sekali lagi menggembar-gemborkan bagaimana tarif menghasilkan "ratusan miliar dolar masuk ke Kas Negara AS."
Ketika Trump mulai menerapkan rezim tarifnya awal tahun lalu, pendapatan bulanan meroket dari USD7,25 miliar yang dikumpulkan pada Februari dan meningkat setiap bulan hingga Oktober.
Penurunan pendapatan yang berkelanjutan bukanlah hal yang sepenuhnya tidak terduga, mengingat Kantor Anggaran Kongres baru-baru ini memangkas perkiraan penerimaan tarif yang diharapkan untuk dekade mendatang sebesar USD1 triliun.
Secara keseluruhan, ancaman tarif dari Gedung Putih, serta ketidakpastian bagi importir, jelas berlanjut pada 2026. Pada pekan ini, Trump mengeluarkan ancaman baru berupa tarif 25 persen untuk barang-barang dari negara mana pun yang "berbisnis" dengan Iran.
Ada juga keputusan Mahkamah Agung yang sangat dinantikan tentang tarif "menyeluruh" Trump yang dapat keluar paling cepat pada Rabu.
(Febrina Ratna Iskana)



