Dari Dapur Tradisional ke Warisan Budaya Tak Benda, Jejak Rasa Sulsel–Sultra

fajar.co.id
11 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Desy Selviana
(Pustakawan)

Di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, makanan tradisional bukan sekadar soal rasa. Ia adalah pengetahuan lokal, cara bertahan hidup, sekaligus identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. Nilai-nilai inilah yang mengantarkan berbagai kuliner tradisional berbasis sumber daya lokal dari kedua provinsi tersebut ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI).

Sejak lama, masyarakat setempat mengolah bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, mulai dari jagung, singkong, pisang, sagu, hingga hasil ternak dan laut, menjadi hidangan khas daerah. Tradisi kuliner ini tumbuh seiring dengan adaptasi terhadap kondisi alam dan kebutuhan hidup, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat.

Di Sulawesi Tenggara, Kabuto, olahan singkong kering, pernah menjadi makanan pokok pengganti nasi bagi masyarakat pesisir Muna dan Buton ketika beras sulit diperoleh. Proses pembuatannya yang panjang menyimpan pengetahuan tradisional tentang pengolahan pangan dan ketahanan hidup. Nilai historis serta fungsinya dalam kehidupan sehari-hari menjadikan kabuto diakui sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Dari wilayah Luwu dan sekitarnya di Sulawesi Selatan, Kapurung berbahan sagu merepresentasikan hubungan erat masyarakat pesisir dan rawa dengan lingkungannya. Sagu dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat utama, sekaligus menjadi simbol kemandirian dan kearifan lokal. Kapurung kini tidak hanya dikenal sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai warisan budaya yang mencerminkan cara hidup masyarakat setempat.

Cerita ketahanan hidup juga hadir di Kabupaten Sinjai melalui Laha Bete, hidangan sederhana berbahan ubi kayu. Bagi masyarakat Sinjai, Laha Bete bukan sekadar sarapan atau makanan ringan, melainkan bagian dari strategi bertahan hidup ketika beras sulit didapat. Nilai kesederhanaan dan kedekatan dengan alam menjadikan hidangan ini sebagai bagian penting dari tradisi kuliner lokal.

Di kawasan pesisir Bugis dan Makassar, laut menjadi sumber inspirasi lahirnya Lawa Bale. Hidangan ikan mentah yang dibumbui kelapa sangrai dan perasan jeruk ini kerap disajikan dalam acara adat, syukuran, dan pesta rakyat. Lawa Bale mencerminkan ketergantungan masyarakat pada hasil laut, sekaligus melambangkan kebersamaan dan rasa syukur terhadap alam.

Sejumlah kuliner tradisional Sulawesi Selatan juga tumbuh dari sejarah sosial masyarakatnya. Sop Saudara dari Kabupaten Pangkep, yang diciptakan oleh H. Dollahi pada 1950-an, diberi nama sebagai simbol keakraban dan persaudaraan. Hidangan berbahan daging sapi ini berkembang dari dapur lokal menjadi identitas daerah yang kini diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Coto Makassar pun menempati posisi serupa. Lebih dari sekadar makanan khas, coto telah menjadi simbol budaya masyarakat Makassar. Racikan daging sapi dan rempah yang khas menjadikan hidangan ini bagian dari identitas kolektif yang terus dijaga lintas generasi.

Sementara itu, barongko, olahan pisang khas Bugis-Makassar, menyimpan kisah perubahan sosial. Dahulu hanya disajikan bagi bangsawan di istana, kini barongko hadir di berbagai hajatan dan perayaan. Perjalanan sejarahnya memperlihatkan bagaimana tradisi kuliner beradaptasi tanpa kehilangan makna budaya.

Dari dataran tinggi Toraja, papiong babi menghadirkan hubungan erat antara kuliner dan ritus adat. Daging babi yang dimasak dalam bambu ini selalu hadir dalam upacara Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’. Nilai kebersamaan, spiritualitas, serta penghormatan kepada leluhur menjadikan papiong babi bukan sekadar hidangan, melainkan bagian dari sistem budaya Toraja yang telah diakui sebagai WBTbI.

Di Kabupaten Jeneponto, gantalak jarang, olahan daging kuda, menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai acara adat, termasuk pesta perkawinan. Bagi masyarakat Turatea, hidangan ini mencerminkan identitas lokal dan solidaritas sosial yang kuat.

Penetapan berbagai kuliner tradisional berbasis sumber daya lokal dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia menegaskan bahwa makanan bukan sekadar konsumsi harian. Ia adalah warisan pengetahuan, identitas budaya, serta pengikat kebersamaan yang terus hidup di tengah perubahan zaman. (*)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Mandatori Biodiesel 2026 Tetap Solar B40, B50 Masih Tahap Kajian
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
6 Kebiasaan yang Merusak Metabolisme Tubuh
• 3 jam lalubeautynesia.id
thumb
Divonis 6 Tahun Penjara, Eks Dirkom PGN: Ini Alarm bagi Insan BUMN
• 20 jam laluokezone.com
thumb
Michael Carrick Latih Manchester United, Bruno Fernandes Hengkang?
• 59 menit laluviva.co.id
thumb
Politisi PSI Klaim Gibran Calon Wapres Terbaik 2029, Made Supriatma: Modalnya Cukup Nggak Tau Malu
• 8 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.