REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah mengalami tren pelemahan, mendekati level Rp 17 ribu per dolar AS. Merespons kekhawatiran publik, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut, akan ada perbaikan setidaknya dalam dua pekan ke depan.
Dikutip dari Bloomberg, pada Rabu (14/1/2026) siang WIB, rupiah terpantau melemah menuju level Rp 16.863 per dolar AS. Dalam beberapa pekan terakhir, mata uang Garuda terus tertekan.
- Menkeu Purbaya Ungkap Presiden Prabowo Setuju TKD Aceh tak Dipotong
- IHSG Tembus Rp 9.000, Purbaya: Itu Baru Awal
- Purbaya Kasihan TNI AD Hanya Dapat Makan Bangun Jembatan, Siap Cairkan Anggaran
Purbaya mengatakan, persoalan rupiah sejatinya merupakan ranah Bank Sentral alias Bank Indonesia (BI). Namun, dari kacamata fiskal, ia memandang, rupiah bisa ikut menguat seiring dengan perekonomian yang diusahakan membaik.
"Kalau rupiah kan urusan Bank Sentral. Tapi begini, kalau nanti ekonominya membaik, terus harusnya rupiah akan menguat juga, hampir otomatis. Kenapa? Karena orang (pemilik) modal Asia akan masuk ke tempat atau negara yang menjanjikan pertumbuhan yang lebih tinggi," ujar Purbaya kepada wartawan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).



