Harga Kakao Dunia Turun, Produsen Tetap Tertekan Permintaan Lesu

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Pengolahan kakao di seluruh dunia masih berada di bawah tekanan akibat berlanjutnya penurunan permintaan dan kesulitan yang dihadapi industri cokelat setelah harga mencapai rekor tertinggi setahun yang lalu.

Dikutip dari Bloomberg, Rabu (14/1), jumlah biji kakao atau cokelat yang digiling menjadi mentega dan bubuk untuk pembuatan permen di Eropa yang menjadi wilayah konsumen terbesar kemungkinan turun sekitar 3 persen pada kuartal IV 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini berdasarkan rata-rata 11 analis dan pedagang yang disurvei oleh Bloomberg.

Angka tersebut menjadi yang terendah untuk kuartal IV dalam 11 tahun terakhir. Selain itu, penggilingan biji kakao kemungkinan merosot ke level terendah dalam 10 tahun di Asia dan sedikit meningkat di Amerika Utara.

Harga berjangka kakao mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada Desember 2024, menyusul panen yang buruk di Afrika Barat. Guncangan harga mendorong konsumen untuk mengurangi konsumsi cokelat, dan produsen permen mengubah resep menggunakan bahan pengganti yang lebih murah dan menambahkan lebih banyak bahan pengisi seperti kacang-kacangan.

Berdasarkan data New York Cocoa Futures pada 12 Januari 2026, harga kakao masih berada di USD 5.443 per ton, jauh melampaui dibandingkan pada 17 Desember 2025 lalu, harganya melambung hingga USD 11.770 per ton.

Meskipun harga berjangka telah turun lebih dari setengahnya, tapi tetap tergolong mahal secara historis dan para pengolah masih mengolah biji kakao yang dibeli dengan harga jauh lebih tinggi.

“Penurunan permintaan akibat harga yang tinggi tampaknya lebih besar daripada dukungan musiman di kuartal IV, sehingga harga penggilingan tetap rendah," kata analis pasar senior di perusahaan pialang Phillip Nova Pte Singapura, Priyanka Sachdeva.

Kata Sachdeva, Asia diperkirakan akan mengalami penurunan tahunan paling tajam karena terbukti lebih sulit untuk meneruskan biaya dan konsumsi diskresioner tetap lemah.

Sebagian besar biji kakao yang diproses pada kuartal IV kemungkinan dibeli sebelum penurunan harga yang tajam, yang artinya dampak positifnya belum terasa di seluruh rantai pasokan. Produsen dan analis memperkirakan kakao yang lebih murah baru akan mulai masuk ke supermarket pada paruh kedua tahun ini.

Pedagang senior di StoneX, Vladimir Zientek, juga mengatakan produk kakao masih sangat mahal dibandingkan dengan harga empat atau lima tahun lalu, yang akan membuat penggilingan kakao tetap tertekan setidaknya hingga kuartal III tahun ini.

Menurut analis Tropical General Investments Group, Nisha Kumari, meskipun penurunan harga baru-baru ini diperkirakan akan mendukung pemulihan penggilingan kakao global sebesar 1,2 persen untuk musim 2025-2026, pertumbuhan permintaan terus tertinggal dari pemulihan produksi kakao.

Permintaan yang lebih lemah dan perubahan resep telah merugikan harga mentega kakao, yang merupakan produk unggulan pabrik pengolahan kakao.

Menurut data dari KnowledgeCharts, margin pengolahan kakao Eropa turun di bawah titik impas pada bulan Agustus dan kemudian mencapai titik terendah sepanjang sejarah pada Desember. Pada tingkat tersebut, para pengolah biasanya membatasi investasi dan tingkat produksi.

Di sisi lain, kepala penjualan pertanian di perusahaan pialang komoditas Marex Group London, Jonathan Parkman, mengatakan kapasitas yang tidak dimanfaatkan sepenuhnya di pusat-pusat pengolahan utama juga membebani profitabilitas.

“Saat ini ada begitu banyak kapasitas berlebih di dunia. Kita tidak melihat surplus besar karena kita telah mengalami pemulihan besar dalam produksi. Itu karena kita telah mengalami penurunan tajam dalam permintaan akhir dan perubahan resep," kata Parkman, yang memperkirakan penurunan 5 persen dalam penggilingan global pada kuartal IV.

Berdasarkan data Bloomberg, penggilingan kakao pada kuartal IV 2025 diperkirakan tetap lesu di 3 wilayah utama. Pengolahan di Amerika Utara diperkirakan meningkat 2,2 persen sebagian karena penambahan dua pabrik baru yang mulai melaporkan data pada kuartal III, sementara Asia dan Eropa masing-masing turun 12 persen dan 2,9 persen.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prediksi Inter Milan vs Lecce 15 Januari 2026, Nerazzurri Diunggulkan Mutlak, Tim Tamu Bakal Jadi Sasaran Empuk
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Industri Keramik Targetkan Utilisasi 80 Persen pada 2026, Raih Investasi Rp 5 T
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Cara Ajukan NPPN via Coretax, Pelaku Usaha Mikro Wajib Tahu!
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sugiono Pamer Keberhasilan QRIS Sebagai Bentuk Diplomasi Ekonomi
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Stasiun JIS Molor, padahal Angin Segar bagi Penonton Konser
• 1 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.