EtIndonesia. Situasi keamanan dan politik di Iran terus memburuk dan memasuki fase eskalasi paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. Dalam laporan yang diterbitkan pada 11 Januari 2026, The Times of Israel mengungkapkan bahwa otoritas Iran telah memulai operasi penangkapan dari rumah ke rumah di Teheran, disertai penyitaan antena satelit milik warga sipil.
Langkah ini ditujukan untuk memutus akses masyarakat terhadap saluran oposisi Iran International TV, yang selama beberapa pekan terakhir menjadi sumber utama informasi bagi para demonstran di tengah pemadaman internet nasional.
Agen Menyamar dan Perang Elektronik Satelit
Menurut laporan tersebut, sejumlah aparat keamanan Iran bahkan menyamar sebagai petugas layanan publik—seperti teknisi listrik dan air—untuk memasuki rumah warga. Secara paralel, Teheran juga melancarkan operasi perang elektronik paling canggih dalam sejarah Iran terhadap konstelasi satelit komersial, sebagai upaya membungkam arus informasi keluar-masuk negara.
Laporan Lapangan: Peluru Tajam Digunakan
Pada malam 11 Januari, reporter Fox News, Trey Yingst, melaporkan bahwa timnya berhasil menghubungi seorang sumber langsung dari Isfahan. Sumber tersebut menyatakan bahwa aksi demonstrasi masih berlangsung luas, dan aparat keamanan telah menggunakan peluru tajam untuk membubarkan massa.
Korban Jiwa Diduga Tembus Ribuan
Analis dan pakar militer Iran, Kasra Aarabi, menulis di platform X bahwa laporan awal yang belum terverifikasi mengindikasikan jumlah korban tewas dari kalangan demonstran mungkin telah mencapai 7.000 warga sipil, bahkan berpotensi lebih tinggi.
Kecaman dan Langkah Diplomatik Global
Komunitas internasional mulai menunjukkan sikap yang semakin tegas.
- Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyatakan telah menyampaikan langsung kepada Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahwa Teheran harus segera menghentikan kekerasan terhadap rakyatnya.
- Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengecam keras penindasan tersebut:
“Saya mengutuk segala bentuk kekerasan negara yang dilakukan secara membabi buta terhadap pria dan wanita Iran yang dengan berani menuntut penghormatan atas hak-hak mereka. Penghormatan terhadap kebebasan dasar adalah tuntutan universal.”
- Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyebut situasi Iran sebagai pemberontakan rakyat, seraya menegaskan bahwa masyarakat dunia berharap rakyat Iran pada akhirnya memperoleh kebebasan sejati.
Langkah Tegas Uni Eropa
Pada 12 Januari 2026, Ketua Parlemen Eropa, Roberta Metsola melarang seluruh diplomat Iran memasuki gedung Parlemen Uni Eropa di Strasbourg, Brussel, dan Luksemburg. Uni Eropa juga dijadwalkan menggelar rapat darurat terkait sanksi tambahan pada Selasa berikutnya.
Sikap Tiongkok Picu Kontroversi
Di hari yang sama, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, menanggapi pernyataan Presiden AS, Donald Trump—yang mengisyaratkan kemungkinan aksi militer jika Iran terus menggunakan kekuatan mematikan—dengan menyerukan penolakan terhadap campur tangan asing dan menekankan pentingnya “stabilitas nasional”.
Sejumlah analis internasional menilai sikap ini bukan netralitas, melainkan pembelaan terhadap model penindasan atas nama kedaulatan negara, yang berpotensi menjadi preseden berbahaya di tingkat global.
Beijing Melunak Pasca Penangkapan Maduro
Penangkapan kilat Nicolás Maduro oleh AS di Venezuela baru-baru ini disebut mengguncang Beijing. Presiden Tiongkok, Xi Jinping bahkan tidak menyinggung isu tersebut saat bertemu Presiden Korea Selatan, sementara sikap Beijing terhadap Israel juga tampak melunak.
Pendiri Signal Group, Kallis Tweet, menyatakan bahwa Tiongkok telah mengurangi operasi bot dan propaganda terkoordinasi anti-Israel, menandakan perubahan taktik dalam perang informasi.
Peringatan Darurat Kedutaan AS
Sekitar pukul 18 : 00 waktu setempat, 12 Januari, Kedutaan Besar AS mengeluarkan peringatan keamanan darurat, mendesak warga Amerika untuk segera meninggalkan Iran atau berlindung di tempat.
Peringatan tersebut menyebutkan:
- Demonstrasi meluas di seluruh Iran
- Penutupan jalan dan gangguan transportasi
- Pemadaman internet berkepanjangan
- Risiko pemeriksaan, penangkapan, dan penahanan
AS menyarankan evakuasi melalui jalur darat ke Armenia atau Turki. Prancis telah menarik staf non-esensial, sementara Swedia meminta warganya segera meninggalkan Iran.
Sinyal Perang: Indeks Pizza Pentagon Meledak
Pada 12 Januari, indikator informal kesiapsiagaan militer AS—Pentagon Pizza Index—melonjak drastis:
- Domino’s: +1.000%
- Xtreme Pizza: +213%
- Pesatto Pizza: +217%
- Papa John’s: +192%
Lonjakan ini sering diasosiasikan dengan aktivitas intens di pusat komando militer AS.
Tarif 25% dan Ancaman Terbuka Trump
Pada sore 12 Januari, Presiden Trump mengumumkan bahwa setiap negara yang berdagang dengan Iran akan dikenai tarif 25% atas seluruh perdagangan dengan AS, efektif segera.
Sebelumnya, pada 11 Januari, Trump memperingatkan elite Iran: “Jika mereka benar-benar melakukannya, kami akan membalas dengan cara yang bahkan tidak bisa mereka bayangkan.”
Israel Bersiap, AS Isyaratkan Langkah Berikutnya
Israel telah memerintahkan seluruh rumah sakit bersiap dalam mode darurat penuh, sementara Channel 12 Israel melaporkan bahwa pejabat tinggi Israel meyakini permintaan negosiasi Iran hanyalah taktik penundaan.
Senator AS, Lindsey Graham mendesak Trump untuk tindakan militer tegas tanpa pengerahan pasukan darat.
Pada 12 Januari, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt menyiratkan bahwa program nuklir Iran telah dihancurkan, dan langkah berikutnya sepenuhnya berada di tangan Trump.
Menuju Akhir Rezim?
Banyak analis menilai kebijakan tarif dan isolasi total ini menunjukkan tujuan utama AS: menyingkirkan pemimpin tertinggi Iran. Setelah preseden penangkapan Maduro, peluang Ali Khamenei untuk dilengserkan meningkat drastis, bahkan tanpa serangan militer langsung.
Situasi kini bergerak cepat—dan dunia menahan napas. Jika kamu mau, aku bisa membuatkan judul super-heboh, ringkasan eksekutif, atau timeline kronologis 11–12 Januari supaya artikel ini makin kuat dan siap dipublikasikan.




