Raksasa migas global asal Amerika Serikat (AS) Exxonmobil menyebut perusahaan saat ini tidak berminat untuk investasi di Venezuela. CEO Exxonmobil, Darren Woods mengatakan hal ini berkaitan dengan kondisi Venezuela.
“Melihat kerangka hukum dan komersial yang ada di Venezuela saat ini, negara tersebut tidak layak untuk investasi,” kata Woods dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu (14/1).
Woods menjelaskan tantangan bisnis migas di Venezuela saat ini bukanlah menemukan sumber daya, namun bagaimana cara mengembangkan cadangan tersebut. Sebab, sebuah bisnis harus memberikan keuntungan bagi seluruh pihak. Baik pelaku usaha, investor, pemerintah, dan masyarakat.
Dia menyebut Exxonmobil memiliki sejarah panjang di Venezuela, pasalnya korporasi ini pertama kali masuk pada 1940 an dan mengalami dua kali penyitaan aset oleh negara Amerika Latin ini.
“Untuk masuk kembali ke Venezuela ketiga kalinya, memerlukan perubahan yang signifikan. Melihat catatan historis dan apa yang terjadi saat ini,” ujarnya.
Menurutnya dibutuhkan perubahan yang signifikan atas kerangka komersial disana. Termasuk juga sistem hukum, adanya perlindungan investasi berkelanjutan, serta adanya perubahan undang-undang hidrokarbon di Venezuela.
Dalam jangka pendek, Exxonmobil akan menempatkan tim teknis untuk menilai kondisi industri dan membantu masyarakat agar bisa mengembalikan produksi minyak negara tersebut.
Merespon tanggapan Woods, Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya berpotensi memblokir Exxonmobil untuk berinvestasi di Venezuela. Trump sebelumnya telah mendesak perusahaan migas AS untuk berinvestasi sebanyak US$ 100 miliar atau Rp 1686 triliun guna merevitalisasi industri minyak Venezuela.
"Saya tidak menyukai tanggapan Exxon. Saya mungkin akan cenderung untuk mencegah Exxon (untuk berinvestasi), mereka bermain terlalu lucu," kata Trump, dikutip dari The Guardian, Rabu (14/1).


